Sajadah Cinta Annisa


Samar dari kejauhan azan subuh berkumandang. Bilik tua di terangi cahaya rembulan mulai memudar.Mimpi tak lagi memahkotai lelapnya Nisa.
Matanya sayup masih tersisa separuh kantuk disana. Bibir tipis dan merah bak delima itu menguap, sambil ia mengucek-ucek matanya. Dalam hitungan detik Nisa sudah duduk di tepi ranjang sambil menarik otot-otot lengannya menyerupai gerakan senam.
“Hari baru telah tiba,saatnya menyambut dengan gembira.” Dalam hati Nisa bergumam.
Usai melaksanakan sholat subuh seperti biasanya, Nisa menyempatkan membuat sarapan untuk kedua adiknya.Telur ceplok dan nasi goreng adalah santapan pagi mereka sehari-hari. Menjadi anak tertua adalah tanggung jawab Nisa mengurus Nila dan Fajar. Apalagi sejak kedua orang tua mereka berpulang untuk selama-lamanya. Sudah 3tahun Nisa dan kedua adiknya hidup bersama. Tiada sanak saudara tempat untuk berbagi keluh dan kesah mereka. Namun Nisa tetap semangat menjalani hari demi hari.
“Nila! Ayo bangun! Sebentar lagi matahari terbit, sekalian tuh bangunin Fajar.” Perintah Nisa pada adiknya. Aroma nasi goreng tercium nikmat . Nisa membaginya untuk mereka bertiga. Tiga gelas teh tersaji di atas meja kayu. Sementara Nila dan Fajar mandi di sumur,Nisa membereskan tas sekolah dan seragam adik-adiknya.
Begitulah kehidupan pagi hari yang terjadi pada ketiga kakak beradik dan telah menjadi yatim piatu. Nisa harus menjadi tulang punggung kedua adiknya. Umur Nisa yang masih terbilang belia, mau tak mau, harus menjadi ayah sekaligus ibu buat Nila dan Fajar. Nisa sendiri hanya tamatan SMA umurnya sekarang baru 20tahun. Sudah setahun ia bekerja di perkebunan teh milik Tuan Usman saudagar kaya di kota kecil ini. Tuan Usman sangat memperhatikan para pekerjanya .Sesekali Nisa menerima panggilan jahit atau bordir dan pasang payet di rumah Mak Cici. Lumayan buat menambah penghasilan.

Siang itu Nisa berangkat kerja dengan hati riang. Setapak demi setapak ia menapakkan kakinya. Jarak satu kilo yang ia tempuh ,sedikitpun tak menyurutkan langkah kakinya. Sambil berjalan, ia bersenandung dalam hati, lagu alam dan cinta.

Kota kecil di kaki gunung
Disana pertama cinta bersemi
Seruan kicau burung nan merdu
Suasana tenang dan damai
Sungai berliku di kaki bukit
Disanalah cinta kita bersemi
Cinta pertama kita berdua
Terukir di pucuk cemara…

Lagu yang selalu membuatnya bahagia meniti hari demi hari. Ia tak tau arti lagu tersebut. Yang ia suka adalah syair-syair alamnya. Sementara cinta yang di gambarkan belum pernah ia rasakan. Ah ! Nisa. sungguh polos wanita muda ini.
Beberapa menit berlalu Nisa sebentar lagi tiba di tempat tujuan. Matahari mulai memancarkan cahaya menembus kulit putih nan halus milik gadis muda nan cantik.
Sebuah mobil jeep berwarna hijau pekat melintas dengan cepat,Nisa tersentak dan sepintas ia melihat sosok pria pengendara jeep yang tampak asing baginya. Ya, hanya sepintas ia melihat itupun tampak samar. Tak berapa lama Nisa telah sampai di tanah perkebunan tempat ia bekerja. Seorang pelayan sibuk mengeluarkan barang milik si empunya jeep tersebut. Dan,seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba berkata pada pelayan “Tas ransel itu biarkan saja di dalam.” Sang pelayan tunduk dan patuh pada perintahnya. Nisa cepat-cepat mengayunkan langkahnya. Tak sopan mendengarkan pembicaraan orang apalagi orang tersebut tamu atau mungkin sanak keluarga dari majikannya.
Hari berganti minggu berlalu Nisa menjalani tiap waktu tanpa rasa lelah. Wajahnya selalu cerah secerah senyumnya dalam menjalani sang waktu. Siapa tak kenal pada Nisa gadis manis di kota kecil itu. Gadis yang baik hati dan selalu ramah pada siapa saja.

Suatu sore saat Nisa selesai bekerja dan hendak melaksanakan sholat Ashar, sepasang mata memperhatikan tiap gerakannya. Saat Nisa mengambil wudhu di belakang gubuk tempat para pekerja mengasoh,mata itu terus mengawasinya. Nisa tak menyadari sama sekali.Dan sepasang mata itu tak lain dan tak bukan adalah pria pengendara jeep yang beberapa waktu lalu di lihat Nisa. Pria itu ternyata diam-diam mengagumi Nisa. Ia terpesona pada kepolosan dan keceriaan Nisa.
Selesai sholat Nisa bersiap-siap untuk pulang.Dia teringat pada sisa kerjaan yang harus ia selesaikan di tempat Mak Cici. Lumayan kalau hari ini selesai ia bisa mengantongi dua puluh lima ribu rupiah. Hatinya penuh semangat.
Saat Nisa berpisah dengan teman-teman kerjanya yang lain, ia tetap meneruskan langkahnya sambil bernyanyi riang dalam hati. Dari arah yang tak di sangka-sangka seorang pria memanggil namanya. Nisa tersentak kaget seketika. “Nisa !” Suara itu setengah berbisik. “Nisa,tolong berhenti sebentar saja.” Suara pria itu menghentikan langkah Nisa. Nisa melihat pria yang memanggil namanya dan “Sepertinya aku pernah melihat wajah orang ini tapi ?” Nisa tak meneruskan pertanyaan dalam hatinya. Ia sudah mengenali wajah ini tapi ada apa ya? “Maaf, kamu Nisa? Saya Irfan.” Pria itu mengenalkan dirinya. Nisa masih diam hanya senyum menghiasi sudut bibirnya. “Kamu tinggal dimana? Biar saya antar.” Tanya pria itu sopan.
“Tidak usah Mas, terimakasih banyak.” Jawab Nisa.
“Kamu takut ya dengan saya? Saya bukan orang jahat kok.” Kata pria itu lagi.
“Bukan begitu Mas. Kan tidak enak sama orang nantinya.,saya juga baru kenal Mas.” Jawab Nisa kemudian.
“Saya tidak berbuat apa-apa kok, hanya mau kenalan aja .”
“Ah ! Mas bisa aja.”

“Kenapa nggak? Kita ini kan sama-sama makhluk ciptakan Allah.”Untuk sesaat Nisa tertegun dengan kata-kata Irfan. “Hm ! Orang ini sepertinya bermaksud baik” Dalam hati Nisa berkata. Dalam pandangan Nisa, Irfan nampak jujur di matanya. Akhirnya merekapun bercakap-cakap sepanjang perjalanan itu.Tanpa terasa mereka menjadi akrab dengan sendirinya. Entah apa yang membuat Nisa menjadi senang dan tertawa sepanjang pembicaraan mereka. Mungkin begitulah memang sifat Nisa yang baik dan polos serta periang.

Siang itu langit cerah kawasan pegunungan berhawa sejuk menambah indah alam ponarama. Burung-burung berkicau bernyanyi mendendangkan kemaha besaran penciptaNya. Begitu pun Nisa dengan riang sambil bekerja, sesekali ia melemparkan senyum pada Irfan yang sedang duduk dan memperhatikannya. Tingkah laku Irfan yang selalu memperhatikan Nisa, akhirnya di ketahui Tuan Usman dan Istrinya. Mereka bertanya-tanya. “Jangan-jangan Irfan jatuh cinta pada gadis itu.” Tanya Tuan Usman pada Istrinya. “Aduh ! pak ini tak bisa di biarkan terus. Bukankah Irfan sudah punya calon di Jogya?” jawab Istrinya. “Apa kata Jeng Lastri nantinya kalau sampai tahu.” Sambungnya lagi. “Ah ! sudahlah bu, aku percaya Irfan bisa mengatasinya. Toh dia bukan anak kecil lagi.” Kata Tuan Usman kemudian.
Irfan adalah keponakan Tuan Usman dari Jogya. Kedatangannya ke perkebunan untuk menimba ilmu dari Pamannya. Irfan adalah sarjana pertanian dan ialah yang akan menjadi ahli waris nantinya. Setidaknya ia harus lebih banyak tahu seluk beluk perkebunan yang suatu saat akan menjadi miliknya itu.Tuan Usman dan Istrinya hanya di karuniai seorang anak perempuan. Anak semata wayang mereka itu meninggal dunia sejak masih belia. Jadilah Irfan ahli waris satu-satunya dan Tuan Usman teramat menyayanginya.

Hubungan Nisa dan Irfan menjadi tambah akrab. Di hati mereka khususnya Nisa sudah tumbuh benih-benih asmara. Tanpa sadar Nisa akan perasaannya itu. Sementara Irfan yang memang telah mempunyai calon istri, akhirnya di dera rasa bersalah. Ia tak mampu menguasai apa yang ia rasakan selama bertemu dan mengenal Nisa. Hari-hari mereka rajut dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Sosok Nisa yang polos semakin membuat Irfan tak kuasa menahan hatinya. Nisa pun larut dalam kehangatan yang selama ini mereka alami bersama.
Hingga suatu hari, saat pemberian upah pun tiba. Tuan Usman menyempatkan berbicara dengan Nisa. Sementara Irfan sedang tak berada di tempat. Inilah kesempatan untuk berbicara pada Nisa pikir Tuan Usman. Di satu sisi Tuan Usman merasa kasihan pada gadis tersebut. Ia menganggap Nisa bukan hanya sebagai pekerja di perkebuannya saja. Nisa sudah di anggapnya sebagai anak karena keluhuran dan kebaikan budi pekertinya.
Ia tak mau Nisa menyalah artikan hubungannya dengan Irfan. Pernah Tuan Usman bertanya pada Irfan mengenai hubungan mereka, sekaligus mengingatkan Irfan pada calon Istrinya yang sedang menunggunya. Tetapi jawab Irfan waktu itu, hubungan mereka hanya sebatas teman semata. Tetapi sebagai orang tua, Tuan Usman merasa ada yang tidak beres. Ia harus segera mencari tahu semuanya .
“Nisa, kemarilah ada yang perlu saya bicarakan.” Kata Tuan Usman.
Nisa bertanya dalam hati ada apa gerangan?. Ia pun menuruti Tuan Usman yang mengajaknya duduk di beranda rumahnya. “Bagaimana kabar adik-adikmu, apakah mereka sehat-sehat saja?” tanya Tuan Usman basa basi. Nisa menjawab dengan sopan pertanyaan itu. “Alhamdulillah Tuan, mereka baik-baik saja.” Tuan Usman tersenyum bijak. “Syukurlah. Begini Nisa, saya melihat hubungan kamu dengan Irfan sudah sangat akrab. Sudah sejauh mana hubungan kalian? Saya sebagai Pamannya tentu ingin tau karena Irfan sudah ku anggap anak kandung sendiri.” Tanya Tuan Usman.
Nisa tertegun seketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan untuknya. Ia setengah ragu untuk menjawabnya. Namun akhirnya ia berkata “Maaf Tuan, saya dan Mas Irfan hanya berteman saja.” Nisa tertunduk malu. Dalam hatinya berkata mungkin Tuan Usman sudah mengetahui hubungan mereka. Tetapi Nisa merasa malu dan segan pada majikannya.
.”Syukurlah kalau begitu, Irfan juga sudah menceritakan bahwa hubungan kalian hanya sebatas teman. Dia sudah punya calon Istri di Jogya. Sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Sekarang Irfan sedang menjemput Ibunya dan calon Istrinya di stasiun.” Jelas Tuan Usman. Tiba-tiba jantung Nisa seakan berhenti berdenyut. Alangkah kagetnya ia. “Astaghfirullah…” dalam hati Nisa beristighfar. Ia baru mengetahui kalau Irfan ternyata sudah mempunyai calon Istri. Ia sama sekali tak menyangka mendengar berita ini. Nisa tak mau menampakkan rasa kagetnya itu di depan Tuan Usman.
“Ya Tuan, Mas Irfan sudah menceritakan semua itu. Hubungan kami memang benar hanya sebatas teman tidak lebih. Mas Irfan orangnya baik dan santun .Nisa senang dan sudah menganggap Mas Irfan layaknya kakak sendiri.” Jelas Nisa dengan senyumnya yang manis namun di dalam hatinya kacau berantakan. Ia rela berbohong demi untuk kebaikan.Selama ini Irfan tak pernah berkata apapun kalau ia sudah punya calon Istri. .Nisa akhirnya sadar dan berusaha seakan ini hanya sebuah mimpi. Mimpi yang harus ia lupakan. Nisa tak mau menyakiti keluarga Tuan Usman, yang selama ini membantunya. Saat adiknya Fajar sedang sakit keras,Tuan Usmanlah yang menolongnya membiayai pengobatan selama Fajar di rawat di rumah sakit. Kalau bukan beliau Fajar pasti tak akan selamat. Demam berdarah hampir merengut nyawa adik bungsunya kala itu.

Ketika hendak berpamitan pada tuan Usman, jeep Irfan telah memasuki halaman rumah. Dari dalam jeep turun seorang wanita wajahnya mirip dengan Irfan . Pastilah ia ibu Irfan. Di sebelahnya seorang wanita muda, anggun dan sangat cantik. Ia melirik ke arah Nisa sekilas dan tersenyum ramah. Hati Nisa tersentak kagum pada wanita muda nan cantik itu. Sungguh cantik dan menawan wanita itu bisik Nisa dalam hatinya. Sementara Irfan malah seperti orang yang baru melihat hantu. Wajahnya kaku sekaku ia berdiri di samping jeepnya. Namun Nisa berusaha mencairkan keadaan yang tak mengenakkan tersebut. “Eh,Mas Irfan baru tiba ya ! Saya permisi dulu bu, mba ,Salamualaikum.” Sapa Nisa pada Irfan dan ibunya juga pada calon Istri Irfan.
“Waalaikumsalam !” Balas ibu Irfan dan wanita tersebut sambil mengangguk sopan. Nisa melangkah pulang dengan rasa sedih. Tetapi di dalam hatinya berkata “Nisa, apa yang kau lakukan barusan sudah betul. Jadilah Nisa yang selalu ceria. Masa depan masih panjang menanti disana untuk kau raih.” Entahlah, bisikan itu menguatkannya. Tak lama kemudian ia telah sampai di rumahnya.
Azan maghrib berkumandang memanggil penduduk kota kecil di kaki bukit nan damai. Saatnya menghadap Sang Maha Kuasa. Bersyukur pada KemurahanNya. Langit senja nan merah membingkai sudut alam. Nisa beranjak dari kursi dan segera berwudhu lalu menjalankan sholat dengan khusuk. Diatas sajadah usang miliknya setia menemani. Ia serahkan semua kekhawatirannya pada Sang Maha Pencipta. Selama ini Nisa selalu yakin dan percaya bahwa apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya itu sudah menjadi kehendakNya. Asal ridho pada Sang khalik, jalan terbentang terasa mudah. Sujud syukur ia panjatkan. Untunglah ia tak sampai menyakiti orang yang selama ini baik padanya. Pada Tuan Usman dan Istrinya. Terutama juga pada Irfan, dan semua ini ia dapatkan sesuatu yang berharga untuk di pelajari. Bahwa mencintai seseorang walau sedalam apapun, tak harus untuk di miliki. Apalagi sudah ada yang lebih pantas dan memang menjadi milik orang itu.

Diatas sajadah ini ku titipkan cinta yang terindah. Biarlah ia menjadi hiasan hati yang selalu setia menemani hingga suatu saat ku temukan cinta sejatiku. Air mata terindah bak air dari surga mengalir dan menghangatkan Nisa. Semua sudah ada jalannya masing-masing.Betapa besar cinta yang kita rasakan, apakah sepadan dengan cinta yang kita terima dariNya? Subhanallah Walhamdulillah.

S E L E S A I

By : Fira R Medio Awal April 2008.

Published in: on 3 April 2008 at 7:47 pm  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2008/04/03/sajadah-cinta-annisa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. bagian akhir cerita ini sangat menyentuh. salut sama Annisa. bukan hal yang mudah untuk dilakoni dalam kehidupan nyata, apalagi zaman sekarang.

  2. kubaca dulu ya, nanti aja komennya, yang penting tahu dulu ada postingan baru. hehe

  3. sebuah cerpen yang menarik, mbak fira. saya suka dengan ide2 ceritanya yang menyentuh suka duka seorang perempuan dari kasta paria kayak Nisa itu. sosok yang lembut, bersahaja, tetapi memancarkan aura seorang gadis yang smart, cerdas, dan pintar mengelola emosi. salut abis deh! ok, mbak, salam kreatif!

  4. Menyenangkan sekali sudah ada posting🙂 dan ceritanya sangat indah membuat pembaca terbawa akan suasananya..
    terus terang saya sampai membayangkan suasana dan tokoh ceritanya.. salut buat fira dengan ide yg selalu kreatif

  5. wah, serasa baca Elshirazy ke2. Sekalian aja mba bikin cerber. kasih tau ya klo ada.

  6. Hana,hehehe salutnya ama Fira dong ah. Nisa kan tokoh ciptaanku say…makasih ya udah bantuin Fira.
    Panda,wah payah nyampah nih si Panda hehehe tapi tetap aja kuucapkan makasih udah berkunjung.
    Pak Sawali,Tak terbayangkan kalau tokoh Nisa itu benar-benar ada ya pak. Semua pria pasti berebutan hehhe makasih pak atas perhatiannya pada tulisan Fira.Dan atas petunjuk selama proses menulis cerita ini.
    Asep,makasih juga buat Asep…wah tulisanku ini hanya biasa-biasa saja.Namanya juga pemula hehhee trims udah berkunjung ke gubuk Fira ya.
    Rizki on benbego, Hahhh!!! Masak sih tulisan saya ini di samain ama penulis ayat-ayat cinta yang termasyhur itu? Jauuuuhhhh banget…saya hanya penulis kelas teri alias masih bau kencur hhehehe jangan samain dong jadi malu, risih.Belum bisa buat yang seperti bang Elshirazi…ngimpi dulu ah…Btw makasih banyak atas perhatiannya ya.

  7. Assalammualaikum wr wb

    Boleh kenalan kan???

    Hmmm maaf… tapi memang benar… dengan berjalannya waktu… sayapun belajar… bahwa cinta kepada makhlukNYA tidak boleh melebihi cinta kita kepada sang Khalik….

    Terima kasih ya… sudah boleh ikut nimbrug…
    kalau gak keberatan… mampir ya… di http://maaini.wordpress.com

    Jazakillah kh kn

    Wassalammualaykum wr wb

  8. wahhhh bagus bangettt neh ceritanya, aq suka bagian akhirnya. Nisa menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa (Allah) atas apa yang dialaminya dan diketahuinya hari itu. Memang semua permasalahan didunia ini kita sbg manusia hanya bisa berusaha dan berdoa Tuhan juga yang menentukan pada akhirnya. Thanks Banget ceritanya jadi intropeksi diri sendiri agar bisa lebih baik lagi ke depannya menghadapi semua persoalan hidup.

  9. senang mampir disini….

    Barter banner yuk, “Banner Exchange”
    Buat blogger lainnya juga boleh ikut.
    Berikut infonya : http://www.resep.web.id/kirim-resep/banner-exchange

  10. wow! cool! suasananya nyaman bnget nih cerita. nambah kesadaran kita buat cinta sama Yang Maha Kuasa!

  11. Ide ceritanya keren…

  12. bu, mau tanya, itu lagunya judulnya apa ya? penyanyinya siapa?

    Kota kecil di kaki gunung
    Disana pertama cinta bersemi
    Seruan kicau burung nan merdu
    Suasana tenang dan damai
    Sungai berliku di kaki bukit
    Disanalah cinta kita bersemi
    Cinta pertama kita berdua
    Terukir di pucuk cemara…

    saya suka sekali lagu itu dari waktu pertama kali dengar di hajatan saudara..

  13. thank you


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: