Gerimis Di Boulevard


Bus melaju di tengah derasnya guyuran hujan, petir dan kilat saling bersahutan menambah berat kelopak mata Rina yang tengah duduk berhimpitan di antara para penumpang bus jurusan kota. Bau keringat dan seabreg bau yang lain sudah menjadi langganan hari-harinya,di sisi kanan seorang nenek tengah mengusap balsam pada keningnya. Karena bau balsam yang keras di sertai batuk si nenek terus menerus membuyarkan kantuk Rina. Spontan ia memberikan sebotol kecil aqua yang belum sempat diminum pada nenek tersebut. Si nenek mengucapkan terimakasih sambil memegang tangan Rina.

Hujan masih nampak garang di luar sana. Sesekali bus berhenti untuk menurunkan atau menaikkan penumpang padahal sudah sesak masih juga di paksa yah begitulah pemandangan bus di ibu kota Jakarta Raya. Rina melirik jam tangannya kurang lima belas menit jam delapan. Biasanya tak selambat ini namun karena hujan yang deras sejak sore tadi hingga menghambat laju bus. Belum lagi menghadapi macetnya jalan maka lengkaplah sudah semuanya. Hidup di Jakarta harus pandai-pandai mengatur waktu karena waktu di kota metropolitan ini amat sangat berharga. Apalagi Rina yang hanya pegawai kecil harus berangkat pagi pulang malam terkadang jenuh tetapi apa boleh buat di kampung ibu dan bapaknya menunggu kiriman rupiahnya tiap bulan.

Rina anak pertama dari lima bersaudara dan ialah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Membantu orangtuanya juga adik-adiknya yang masih sekolah. Namun semua ia kerjakan dengan hati ikhlas walau harus merantau hingga ke kota besar ini. Pekerjaannya sebagai cleaning servis di hotel Royal ia tekuni sebaik-baiknya. Itupun sudah syukur bisa bekerja mengingat sekolahnya yang hanya tamatan SMA. Atas dukungan teman sekolahnya ia di terima kerja di hotel Royal. Rina tak bisa melupakan jasa temannya tersebut yang sama-sama berasal dari satu desa. Hanya Yanti begitu nama temannya sangat beruntung bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi hingga tak sulit untuknya mendapatkan pekerjaan. Yanti wanita supel dan sangat percaya diri. Pergaulannya kebanyakan pada kaum menengah keatas. Yah, orangtuanya juga cukup terpandang di desa. Yanti dan Rina sudah berteman sejak mereka masih di bangku SD.

“Gading….gading ada yang turun gak !” teriak sang kondektur.

Lamunan Rina buyar dan ia secepat kilat berdiri berusaha keluar dari himpitan dan desakan para penumpang lain yang tengah berdiri saling berdesakan. Akhirnya ia keluar juga dari bus itu ,lapang rasanya namun ia di sambut gerimis. Rina berlari mencari tempat berteduh sambil menunggu angkot yang menuju ke arah tempat kosnya.
Di depan jendela kaca atau etalase Dunkin Donat yang terang benderang Rina menepi. Perutnya mulai keroncongan aroma donat semakin membuatnya ngiler.” Ah…lebih nikmat gorengan singkong dan tahu isi.” Ia merogoh tasnya mengambil lembaran lima ribuan.

“Bang, bungkus tahu isi dua dan singkongnya dua ya.” “
“ Lumayan buat mengganjal perut.” Dalam hati Rina.

Tak berapa lama angkot jurusan kosnya pun tiba. Rina berlari kecil menuju angkot. Di dalam angkot ia tak perduli lagi tatapan orang-orang,dengan lahap tahu isi dan singkong setengah panas sudah di telannya. Di simpang dua angkot berhenti seorang penumpang naik. Rina sudah tak tahan ingin cepat tiba. Di liriknya jam tangannya hampir jam sembilan. Dua tiga dan empat orang penumpang sudah turun tinggallah Rina sendiri dan dua orang pria muda. Angkot melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba seorang pria menodongkan pisau di pinggangnya dan pria yang satu meloncat keluar dan lari sementara sopir tak bisa berbuat banyak hanya diam ketakutan. “ Serahkan dompetmu dan kamu juga!!!” teriak pria muda itu. Sang sopir menyerahkan beberapa lembar ribuan dan Rina mengeluarkan uang lima puluhan karena memang hanya itu. Si pria penodong itu langsung merampasnya dan meloncat keluar angkot. Rina pucat pasi jantungnya tak karuan detaknya sementara tubuhnya gemetar menahan takut. Sang sopir malah menyuruhnya turun di tengah jalan. Keterlaluan sekali bukannya menolong malah kabur. Rina tak kuasa apa-apa ia masih saja di dera ketakutan. Dengan langkah gontai ia berjalan di tengah gerimis dan gelapnya malam. Tubuhnya menggigil tak kuat menahan dingin yang mencucuk hingga ke tulang-tulangnya. Lemas dan tak mampu lagi berpikir. Ia terus berjalan dan berjalan di temani gerimis malam hingga tanpa sadar Rina sudah di tengah jalan dan…kkkrrriiikkkk…suara rem mobil serta cahaya lampu dari BMW hitam metalik itu menyadarkannya. Seorang pria tinggi besar menghampirinya. Pandangan mata Rina samara-samar pada sosok pria tersebut. Ia tak mampu melihat lebih dekat wajah pria itu. tiba-tiba gelap dan gelap yang ia rasakan.

“Dimana aku?” Rina sadar dari pingsannya.
“Tenang, kamu berada di tempat yang aman…ini rumahku.” Kata pria di depannya.
“Aku harus pulang!” jawab Rina kemudian.
“Kamu mau pulang di tengah malam seperti ini? coba kau lihat jam berapa sekarang.”
Pria itu menunjukkan jam di atas meja, jam 2.00.

“Sudahlah kamu istirahat saja, besok pagi aku antar kamu pulang lagi pula kamu aman disini. Aku bukan penjahat kok.” Kata pria itu lagi, dalam bahasa Indonesia yang setengah-setengah. Mungkin saja dia orang asing tapi ah dari raut wajahnya dia bisa di percaya. Rina kembali hanyut dalam pekatnya malam tubuhnya masih lemas.
Suara jam weker di atas meja membangunkannya. Rina melirik jam 7.00 dan cahaya pagi dari jendela ruang tersebut seakan menyapanya. Rina mengingat-ingat kejadian semalam. Dan sekarang ia berada di rumah orang asing yang tak ia kenal sama sekali. Pandanngan mata Rina menyapu ruangan tersebut. Rumah yang tertata rapi dan bersih pasti pemiliknya bukan orang sembarangan kelihatan dari gaya perabotnya. Kursi meja dan pajangan-pajangan semua nampak luks. Rina melipat selimut yang di kenakan semalam. Ia tak berada di kamar tidur tapi sepertinya di ruang lain dari rumah ini. Tiba-tiba pintu ruang tersebut di buka. Dan seorang nenek mendekatinya dengan nampan di tangan. Rina seakan mengenal nenek tersebut.”Selamat pagi ini sarapan anda.” Jawab nenek tersebut.
“Terimakasih, nek nenek ingat saya nggak?” bukankah semalam nenek dan saya satu bus kita duduk bersebelahan dan nenek batuk-batuk saya yang berikan air aqua,ingat kan nek?” Rina bertanya. Si nenek menatap Rina dan manggut-manggut. “Oyah nenek ingat semua nak, kamu tamu tuan muda Albert? Ayo cepat habiskan sarapanmu dulu.” Kata nenek itu dan bergegas pergi. “ O,jadi nama pria yang semalam adalah Albert?” Rina bertanya sendiri dalam hati. Karena lapar sarapan yang di sajikan habis tak tersisa. Dan tak lama kemudian pria yang semalam sempat berbicara dengannya kini sudah berada di hadapan Rina. Tubuhnya tinggi tegap kulitnya agak kecoklatan rambutnya hitam dan ikal dan..dan wajahnya itu sangat tampan dengan senyumnya yang maskulin. Semalam Rina kurang memperhatikan pria ini. Tapi kini ia tak mampu untuk melepaskan pandangannya pada sosok pria tampan di depannya.

“Selamat pagi…sudah selesai sarapannya? Bagaimana keadaanmu miss…nama kamu?”
Pria itu bertanya padanya dengan bahasa yang kaku. “Rina !” jawab Rina singkat.
“Ok Rina sekarang kamu sudah agak baikan?” tanya pria itu lagi sambil duduk di sofa.
“Saya sehat-sehat saja dan terimakasih atas pertolonganmu semalam.” Jawab Rina.
“Sama-sama…kebetulan saya lewat jalan itu mau jemput Neni dan akhirnya bertemu Rina di tengah jalan malam dan gerimis dan kamu kurang sehat pucat sekali semalam.”
Jelas pria itu kemudian. Rina hanya diam. “Oyah,mari saya antar kamu pulang dan panggil saya Albert ok?” Albert berjalan membuka tirai jendela.

Rina memandangi punggung pria itu, syukur dalam hatinya diselamatkan oleh pria baik ini. Ia sungguh beruntung mengingat kejadian semalam yang amat mengerikan. Tak lama kemudian Rina sudah berada di dalam mobil mewah bersama Albert yang akan mengantarnya pulang ke tempat kos. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan masalah yang menimpa Rina.”Apakah kamu semalam sedang ada masalah? Seorang gadis berjalan di tengah malam dan hujan tentu bukan hal yang lazim tampaknya.” tanya Albert Rina mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada malam itu. “Wah, untunglah saya lewat jalan itu.” Suara Albert hampir tak terdengar. “Kamu kuliah dan tinggal dengan orangtua disini?” Tanya Albert lagi. “Tidak,saya kerja di hotel Royal sebagai cleaning servis dan tinggal di kos putri.” Jawab Rina singkat. Ia tak pernah merasa malu dengan semua itu karena begitulah yang sebenarnya yang sedang ia jalani dan alami sekarang. Albert menatap wajah Rina dari samping ia melihat kejujuran dan kepolosan dari sorot wajah belia nan manis. Ada ketegaran dan keteguhan memancar disana. Entah mengapa Albert merasa ada sesuatu yang lain yang ia rasakan,aneh kok ia merasa seperti itu.

“Rumah kos kamu masih jauhkah?” tanya Albert.
“Di perempatan itu belok ke kanan tak jauh dari situ ada gang masuk.” jawab Rina.
Bmw itu melaju sesuai petunjuk yang di katakan Rina,dan sampailah mereka di depan gang yang di maksud Rina tadi. Hanya kendaraan motor yang bisa masuk so mobil mewah Albert hanya bisa sampai di situ. “Terimakasih banyak atas semua kebaikanmu.” kata Rina. Albert tersenyum tulus dan berkata “Sama-sama, Rina bisa saya antar sampai ke tempat kos kamu?” pinta Albert kemudian. “Oh, tempat kos saya masih agak jauh ke dalam dan lagi pula becek jalannya. Tidak usah, maaf merepotkan saja.” jawab Rina tak enak hati pada sang penolongnya. “Oke kalau begitu lain kali hati-hati dan…” Albert agak memelankan suaranya ada nada keraguan namun ia meneruskan kalimatnya di balik salah tingkah yang tampak itu, “kamu punya nomor telepon yang bisa di hubungi?” Rina merasa ini mustahil di ucapkan seorang pria ganteng seperti Albert dan dalam hatinya ia berkata “Apa aku tidak salah dengar?” Albert memandangnya seketika dan wajah Rina terasa merah hangat bak tersihir oleh kata-kata sang pujaan hati. “Mmmaaaff…saya tidak punya handphone tttaaapi rumah tempat saya kos….” Giliran Rina yang terbata-bata dan salah tingkah. Akhir pembicaraan itu Rina memberikan no telpon dan alamat lengkap tempat kosnya pada Albert. Sesampainya di tempat kos Rina merenungi semua peristiwa yang terjadi barusan, ia tersenyum sendiri dan merasa seolah ini mustahil terjadi pada dirinya. Tapi waktu tak memberinya banyak tuk terlena dengan semua itu,ia harus berangkat kerja lagi dan Rina memulai hari itu dengan hati yang penuh keceriaan.

Begitulah Rina ia terus melewati hari demi harinya, selalu di isi dengan kebahagiaan dan tak ada dalam kamusnya mengenal atau meratapi kesedihan. Gadis yang memandang kehidupan ini dengan optimis dan menepiskan rasa pesimis yang hanya membuat racun dalam perjalanannya. Selama ia mampu mengapa tidak? dan selama itu tak menentang norma-norma yang ada ia harus bisa,begitulah prinsipnya.

Tanpa terasa sebulan berlalu Rina menyempatkan diri singgah ke kantor pos untuk meweselkan beberapa rupiah yang di hasilkannya seperti biasa kepada orangtuanya. Setiap bulan ia selalu rutin melaksanakan tugasnya sebagai anak yang berbakti. Para petugas di kantor pos pun sudah mengenalnya. Setelah semua selesai ia pulang ke tempat kos lebih cepat dari hari biasanya. Ada perubahan jadwal yang telah di tetapkan oleh manager hotel dan itu berarti penghasilan yang akan ia terima selanjutnya agak berkurang. Pihak hotel Royal membubarkan beberapa karyawannya entah apa maksud semua itu namun kemungkinan karena hotel tersebut kurang peminat atau sepi pengunjung. Namun Rina tak patah semangat yang penting ia tidak di PHK oleh managernya itu sudah syukur yang tak terkira buatnya. Ia berencana untuk mencari kerja tambahan. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu selama masih bisa ia jangkau. Mulai minggu depan Rina memiliki waktu senggang dari pukul 3 sore hingga malam. Ia hanya bekerja di hotel dari pagi jam 9.00 hingga sore jam 3.00. Dengan langkah mantap ia berjalan penuh percaya diri dan yakin semua ini pasti bisa ia lewati. Bayangan wajah orangtua dan adik-adiknya menari-nari di pelupuk mata,membuat Rina tak punya waktu untuk bermalas-malasan.

Langkah kaki gadis belia nan manis dan penuh semangat itu terhenti seketika. Di hadapannya kini berdiri tubuh tegap dan tak asing baginya. Albert tersenyum memandang dan menyapanya.” Hai Rina apa kabar kebetulan kita bertemu lagi yah.” sapa Albert dengan sopan. Rina tak menyadari pertemuan tiba-tiba itu dan di sini di pertokoan yang tak jauh dari kantor pos tadi, ia seakan berdiri bagai patung tak berdaya. “Hhhhaii juga…!” balas Rina hampir tak terdengar.

“Sungguh-sungguh ini sangat surprise buat kita berdua.” kata Albert,Rina masih diam terpaku tak percaya. Ia hampir melupakan wajah ganteng pria ini. Setelah kejadian itu ia tak yakin bisa bertemu lagi dengan Albert dan Rina juga tak mendapat berita atau telepon dari Albert.Beberapa detik berlalu mereka berdua kini seakan sadar dengan situasi di sekitar mereka. “Yuk, kita ke kafe seberang itu kamu mau kan menemani aku sebentar saja Rina.” pinta Albert. Rina hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan menyeberangi kafe D’sweety yang di tunjuk Albert tadi. Cuaca nampak mendung dan langit seakan menghalangi keindahan sore yang akan Rina dan Albert lewati bersama. Namun dua insan ini seakan tak merasakan hal tersebut. Hati mereka di sibukkan dengan getar dan debaran yang tak tentu mengarah kemana. Masing-masing sibuk dengan ritme irama yang hanya mereka berdua yang tau jenis apakah iramanya.

“Kamu mau pesan apa Rina?” tanya Albert
“Hmm teh manis hangat saja.” jawab Rina. Albert memberi isyarat pada pelayan yang sudah siap melayani mereka. “Pesan teh manis hangat dan cappucino” kata Albert mantap. Rina merasa kakinya bergetar halus saat itu juga. Duduk berdua dengan Albert di kafe mewah dan baru pertama kali ini ia alami. Seperti sepasang kekasih layaknya.
“Saya pernah mencoba menghubungimu tetapi dua kali saya kecewa karena kau tak pernah ada Rina,apa kau tak mau menerima teleponku?” tiba-tiba Albert langsung menghunjam Rina dengan pertanyaan. Rina semakin serba salah tak karuan.
“Rina, sejak pertama kita bertemu aku merasa ada sesuatu apakah kau merasakan hal yang sama juga?” Rina semakin tak menentu di buatnya,”Oh Tuhan apa yang terjadi?” dalam hati Rina berbisik,tapi ia tetap dalam diamnya.

“Ayolah Rina katakan terus terang,aku sudah menunggu lama. Aku akui aku tak punya keberanian untuk langsung menemuimu di tempat kos karena itu tempat kos khusus untuk wanita.Dan lagi pula aku takut apa yang aku rasa ini bertepuk sebelah tangan.” Albert menghujaminya dengan pertanyaan demi pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Bagaimana bisa ia menjawab semua itu,ia tak menyangka sama sekali hal ini akan terjadi pada dirinya. Seorang pria tampan dan gagah juga sangat berkelas menyukai dirinya yang hanya wanita biasa? “Ah,ini hanya mimpi.” kata hatinya berusaha menyadari.” Atau jangan-jangan Albert hanya mau mempermainkan dirinya?’ Dia memang bukan siapa-siapa tetapi Rina mempunyai harga diri dan ia tak mau dirinya jadi bahan permainan laki-laki metropolis seperti Albert yang ada di hadapannya sekarang ini.

“Rina..ayo Rina kamu harus kuasai perasaanmu, mana wanita yang bersemangat itu mana wanita yang tegar itu?” seribu tanya memenuhi hati dan pikirannya. Belum selesai Rina dengan perang di hatinya, Albert tiba-tiba meraih jemari tangan Rina yang putih dan sedingin es itu. “Aku serius dan tidak sedang bercanda Rina,demi Tuhan ini jujur dari dalam hatiku.” Tatapan mata Albert seakan menusuk hingga ke lapisan paling dalam yang Rina rasakan. Disana ada kejujuran dan ketulusan yang memancarkan kebekuan hati Rina. “Aku…aku…” Rina hanya bisa berkata sampai ke situ. Ia tak sanggup meneruskannya lagi. “Husstt…cukup anggukkan kepalamu, apakah kau merasakan hal yang sama denganku Rina?” tanya Albert penuh perhatian. Rina menganggukkan kepalanya seakan menyerah total. Tiba-tiba Albert meraih jemari itu dan mengecupnya dengan sangat mendalam. Mata Albert terpejam seakan menikmati dan Rina pun bisa merasakan sungguh-sungguh ada ketulusan hadir diantara mereka.

“Terimakasih Rina, kini aku sudah terlepas dari rasa tersiksa ini.” kata Albert dan menatapnya tanpa lepas sedetikpun.
“Albert…” suara Rina terdengar berbisik.Untuk pertama kali ia memanggil nama itu.
“Kau tidak sedang mempermainkanku?” Albert mencium lagi jemari yang semakin dingin itu. Tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan mereka. “Ini teh hangatmu cepat di minum aku tak mau jemarimu yang sedingin es ini menjalar ke seluruh tubuhmu Rina.”
Rina meneguk teh hangatnya karena ia memang sangat kedinginan dan hampir menggigil di buatnya. Albert masih menatap Rina. Tatapan kebahagiaan itulah yang Albert rasakan.
Setelah beberapa saat mereka bisa menguasai keadaan yang menghinggapi mereka. Rina dan Albert terlibat pembicaraan yang semakin jauh dan dalam. Keyakinan Rina pada keteguhan hati Albert mencairkan rasa tak percaya yang sempat ia rasakan. Tak ada yang mustahil dan Rina sangat bahagia untuk pertama kali dalam hidupnya bisa merasakan cinta seperti ini. Mereka berjalan keluar kafe dan menuju pelataran parkir,lima menit kemudian BMW melaju seirama gerimis hujan senja itu. Kini mereka sengaja melewati tempat di mana dulu mereka bertemu untuk pertama kali. Jalan Boulevard lengang dan sepi itu menyambut kehadiran dua insan manusia yang sedang mencari kehangatan cinta diantara gerimis senja dan alunan lagu Boulevard dari dalam BMW yang membawa sejuta kebahagiaan.
S E L E S A I

By : Fira R Medio March 2008.

Published in: on 19 Maret 2008 at 12:13 am  Comments (14)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2008/03/19/gerimis-di-boulevard/trackback/

RSS feed for comments on this post.

14 KomentarTinggalkan komentar

  1. hiiiii

  2. Hiks…! romantis na…
    cinta yang tak mengenal perbedaan latar belakang.
    cinta yg tulus…!

    aih..aih..jadi pengen.

  3. wahahahaha…. kayak sinetron banget nih cerita nya terlalu mudah mencapai situ.

    cewe klining servis, pulang naik angkot, dirampok, ketemu cowo ganteng dan kaya…

    seperti impian semua orang…

    nice try

  4. Panjang juga…
    Akhirnya selesai. Cerita cinta yang indah. Tapi, jarang yang seberuntung Rina.

  5. sebuah cerpen yang indah sekaligus tragis. salut pada sosok tokoh utama, rina, yang demikian gigih berjuang di sebuah kota megapolitan yang garang. sebagai cleaning srvice, tentu saja bukanlah pekerjaan yang didambakan seorang perempuan. namun, demi menghidupi keluarganya, rina mau melakukan semua itu dg tulus. nasib pun berpihak padanya. sosok albert agaknya tertarik pada rina yang jujur dan baik hati. lagi2 kisah ini menunjukkan bahwa kejujuran dan ketulusan akan membawa kemenangan dan kebahagiaan hidup. salut banget deh buat mbak fira. cerita ini bener2 mantap. sku suka membacanya, mbak.

  6. Ya ya, lama ngak nikmati karya Fira nich. Gimana anaknya, kapan lahir?

  7. wah… nyesel saya baru ngikutin postingan di sini, meski udah lama nyimpan blog ini di list saya.

    cerpen yang oke🙂

  8. Firaku, sayang…
    Met Ultah ya.
    Moga panjang umur
    Murah rezki
    Makin hoky
    Tetap seksi
    Cantik segar selalu

  9. Hai

  10. Keburu submit…apa kabar mbak fira ?

  11. Met Ultah yah. Ini hadiahku untuk Cici Fira: CERPEN INI TERLALU MONOTON. HEHE. tapi dasyatnya, human interestnya kuat. Salut.

  12. Mba Fira… missing you…
    Alhamdulillah rie dah bongkar muatan…
    Baby boy, mba…😉
    Moga2 mba juga yach???

  13. Arba7k, Hai juga makasih udah mampir ya…salam kenal.
    Ina,hehehe Na kayak cerita-cerita cinderella yah…
    Yanti,Yoi nih mirip sinetron yah ceritanya tapi enak kan bacanya dari pada bengong hehehe…btw salam kenal.
    Hana, makasih say atas komentnya dan makasih atas ucapan Ultahnya juga plus kado mini yang cantik God Bless U…
    Sawali,wah wah bapak bikin Fira melayang nih…padahal alur cerita biasa-biasa aja tapi itulah usaha Fira yang selama ini tersendat-sendat karena tubuh lagi tidak memungkinkan lama gak buat cerita yah jadinya begini. Tapi makasih banyak atas koment bapak…
    Ersis,Halo juga pak lama gak ba suo…makasih komentnya pak. Insya Allah ngelahirin bulan Mei doain ya pak…
    Lady,Terimakasih banyak ya Dy wah terlalu memuji nih padahal hanya biasa-biasa aja.Silahkan mampir lain kali biar tambah seru silahturahmi kita yah…salam kenal juga.
    Balisugar Reni, Hai juga say…kabarku baik aja gimana denganmu…maaf yah Fira jarang ngeblog berkunjung Insya Allah kapan-kapan mampir lagi ke tempat teduhmu.
    Panda,Hehehe namanya juga usaha yang penting ada niat dan di salurkan dari pada tidak sama sekali.Ini karena Fira masih hijau dalam dunia sastra.Jangan samain dengan yang lain dong.
    Rieny,Alhamdulillah semoga babynya sehat dan seganteng bapaknya.Iya doain Fira bulan Mei Insya Allah..boy or girl yang penting selamat aja deh…makasih ya Rien…

  14. asiiiikkk…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: