Suara Hatiku, Benarkah ?


Di tengah keramaian suasana malam itu aku sama sekali tak menikmatinya, yang ku inginkan pergi menjauh dari tempat tersebut. Canda tawa sanak keluarga,kerabat dan teman bagai suara-suara yang tak jelas. Mereka berkumpul dalam acara keluarga membahas semua tentang arisan sampai ke hal yang menyangkut diriku atau siapa saja yang dalam lingkungan keluarga. Aku terpaku diam tak mampu menggerakkan tubuhku. Tenggorokan seakan tercekik seluruh sendi lunglai tak berdaya ingin berteriak sekuat-kuatnya menghentikan keributan suara mereka. Tetap saja aku tak mampu mengatasinya. Aku bukan obyek tawa aku bukan insan tak bernyawa dan bukan kehendakku ini terjadi. Aku tak mau belas kasihan tapi mencibirku aku juga tak butuh pujian karena tak berdaya sungguh melelahkan.

Mata ini tertuju pada jendela di ruang keluarga yang cukup besar milik kakakku. Di luar sana lampu taman remang menghiasi gelap malam yang pekat tampak embun sejuk menari-nari seakan memanggilku di temani kunang-kunan lincah kesana kemari mengibaskan pancaran cahayanya. Entah dari mana datangnya kekuatan yang tiba-tiba merayap dari ujung kaki, perlahan tapi pasti aku membalikkan tubuh dan berjalan keluar ruangan yang berisik tersebut.

Sesampainya di luar serasa plong nikmat ku hirup udara malam nan indah, bau harum semerbak aneka bunga menambah kesejukan.Gundukan tanah dan ornament bebatuan di teras itu dan kursi tamannya berwarna hijau pupus patung lukisan asmat menambah sejuk suasana taman, pendopo menjadi tempat pilihan tepat untuk menyandarkan ketegangan yang baru saja aku rasakan. Duduk sebentar saja…yah sebentar saja setelah itu aku akan menemani kalian menari bersama bisik hati ini pada embun malam dan beberapa ekor kunang-kunang yang masih beterbangan dengan riangnya menggodaku. Hm…kupejamkan mata melepaskan dan menikmati suasana saat ini rileks kurasakan denyut jantung yang berdegup teratur seirama tarikan nafasku hm…hm…hm. Tak berapa lama kemudian aku seperti berada dalam alam baru semua terlihat indah sejuk damai tenang oh apakah aku sedang bermimpi? Kunang-kunang masih bermain bersama embun aku teringat janjiku oyah…langkahku menghampiri mereka di tengah taman.

Berputar menari menyanyi lalala…lilili entah lagu apa dan nada apa yang aku tau aku telah menyatu bersama keindahan ketenangan yang memang sangat membahagiakanku. Aku tak perduli pada keluarga di dalam sana yang bercerita ini itu lagi. Aku tak mau dengar lagi nasehat tetua keluarga tentang diriku dan aku sama sekali tak mau tau dengan semua itu. Terlalu banyak dikte harus begini dan begitu. Terlalu banyak kata sindiran halus tapi menusuk. Terlalu banyak tatapan seakan mengejek menelanjangi. Setelah itu mereka tertawa kembali ke suasana lain seperti tak merasakan hanya tau berbicara tanpa pernah sedikitpun memperdulikan apa yang aku alami ini teramat menikam hingga merontokkan asaku.

Biarlah aku dengan kesendirianku biarlah aku dengan sejuta keinginanku sendiri dan biarlah semua kuatasi dengan caraku dan pasti aku bisa karena memang hanya aku yang tau jalan keluarnya dan memang hanya aku sendiri yang merasakan tak siapapun dari mereka yah tiada seorangpun.

Kunang-kunang lelahkah engkau menyibakkan cahayamu? Embun malam letihkah engkau membalut diriku ini? Temani aku malam ini saja…mungkin malam lain kalian tak bersamaku seperti ini.Kita jalin ikrar setia, kalian menemaniku bermain menghilangkan kejenuhan diri ini terimakasihku pada alam ciptaan sang Khalik. Bukti kebesaranNya menguatkan imanku meluruskan jalan berliku tanpa tau tujuan meleburkan kekerasan hatiku. Kini aku tenang teramat tenangnya langit seakan tersenyum penuh kasih. Kurasakan usapan lembut pada kedua pipiku memanjakanku ya Rabb sungguh kebesaranMu tak terhingga….

Lelah menari, lelah bernyanyi aku berbaring di atas rumput bak kasur empuk aku rebahkan tubuh merentangkan tanganku selebar-lebarnya seakan ingin memeluk langit di atas sana. Sungguh bahagia kurasakan walau tanpa kerumunan keluarga tanpa irama musik tanpa makanan enak aku sudah teramat senang dengan begini. Apakah aku gila? Masih waraskah aku? Ya…aku sadar kok. Aku bertanya dan menjawab sendiri sambil tersenyum dalam hati. Ini semua adalah suara hatiku dan aku yakin ini bukan suatu hal yang gila, aku bisa merasakan kebahagiaan kegembiraan ketenangan dengan caraku sendiri berarti aku masih normal. Aku tau siapa diriku dan apa yang terjadi denganku juga mengapa terjadi. Semua itu adalah jalan kehidupan dan bukan hanya aku yang mengalami beribu bahkan berjuta insan manusia juga merasakan hal yang sama denganku hanya cara mengatasinya saja yang berbeda.

Aku suka begini aku maunya begini tapi aku tak mau keluar dari jalan yang telah dikehendaki. Kan ku jalani sampai semampuku kan ku atasi dengan mengingatNya. Masa bodoh dengan mereka perduli setan dengan kemunafikan toh semua sudah diatur olehNya. Kalau memang harus jalanku berkerikil yah jalani saja pelan-pelan sebentar juga akan sampai tujuan dengan selamat. Memang lama tak semulus jalan bebas hambatan tapi keutamaan dan tujuan akhirnya adalah tiba dengan selamat toh sama saja.

Ada secercah cahaya menantiku di sana ada segenggam harapan membuatku kuat dan ada Dia sang pengatur kehidupan yang selalu menopangku.Tersentak dengan suara hatiku yang baru saja berbicara dari dalam,aku termangu apakah benar ini aku? Ini nyata dan aku baru saja menikmati saat yang teramat istimewa dalam hidupku. Aku bisa sekarang yah aku bisa aku pasti bisa seruan lain menyemangati. Ini benar aku kok, inilah suara hatiku dan aku harus konsekwen bukan hanya asal bersuara dan berkata. Seakan tak percaya sekali lagi aku berkata: “Suara hatiku, benarkah?”

Percobaan keberanian yang paling besar di dunia ini adalah mengalami kekalahan tanpa kehilangan hati. Robert Green (1833-1866)

By Fira 22 November 2007

 

Published in: on 22 November 2007 at 7:02 pm  Comments (16)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/11/22/suara-hatikubenarkah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

16 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah, vertamax nih, Mbak Fira, yak? Ini sebuah kisah yang menarik. Konflik batin yang dialami oleh tokoh aku cukup berpotensi untuk menjadi sebuah cerpen yang baik. Secara psikologis memang masuk akal juga sih, kejenuhan dan kebosanan mendera seseorang, apalagi suasana sekitar kurang mendukung. Ada yang mendikte, harus begini, harus begitu, dll. Wajarlah jika dalam situasi seperti itu muncul ego sang aku untuk mencari jalan keluar dengan caranya sendiri. “Peduli apa dengan orang2 di sekelilingku!” begitu mungkin suara hati yang muncul.
    Itu dari sisi muatan. Dari sisi bahasa? Tunggu yak?

  2. Sebuah cerpen yang baik *halah sok tahu nih* didukung oleh dua kekuatan, takni muatan dan bentuk (gaya bahasa). Dari sisi muatan, cerpen Mbak Fira cukup bagus nih. Menarik untuk diikuti. Namun, sebagus apa pun *wah sok jadi kritikus nih* muatannya kalau tidak dibalut dengan gaya ucap yang baik, cerpen rasanya akan jadi hambar. Diksinya dah bagus. Yang penting dicermati lagi mungkin penggunaan ejaan dan tanda bacanya, hehehehe😀
    Misalnya untuk kata depan ke atau di mestinya dipisah, seperti ke sana, ke Jakarta, di kamar, dll. Dah kalau itu sudah dicermati, Mbak Fira betul2 akan mampu menjadi seorang penulis cerita yang bagus.
    Maaf, komennya kepanjangan nih. OK, salam.

  3. Pak Sawali,terimakasih banyak atas pemberitahuannya saya amat membutuhkan komen yang bersifat kritik membangun bukan semata hanya pujian,agar saya tau letak kesalahan tulisan saya.Maklumlah pak saya menulis atau belajar menulis hanya pas-pasan tapi itu tak menyurutkan niat untuk terus belajar lagi dan lagi. Sip pak skali lagi terimakasih banyak ya pak.

  4. Suara hati, konon Asmaul Husna

  5. Cerita yang bagus, Fir. Terus berkarya, yach. Tetap seperti Fira yang pernah saya kenal. SEMANGAT!!!

  6. Suara hatiku berkata
    Aku pasti bisa
    memeluk langit disana
    Dengan keyakinan sempurna

    Lho malah jadi gini komentarnya :-0 ?

  7. assalamualaikum wr. wb.
    cerpennya terlalu berat buat otak via yang ge mumet… hehehe… bahasanya kudu dibaca berkali2 buat jadi paham, bukan gak bagus… tapi terlalu capek buat dijadikan selingan dikala penat😀, tapi hebat mbak fira bisa pake kata2 nya cukup jelimet.
    kabar via baek mbak, walau agak stress… hehehe… kabar mbak sendiri gimana?? via juga pengen banget sekali2 nulis cerita yg bener, tapi kadang bahasanya suka aneh, kebawa cara via sehari2 soalnya… hehehe, sama temen2 suka dibilang gini “via, loe tuh kalo cerita suka gak jelas”😀
    via lagi di puncak kejenuhan…
    wassalam

  8. Assalamualaikum Wr.wb
    Cerita yang menarik, yang menggambarkan pergulatan batin yang kuat,dari sipenulis untuk menemukan lentera dari sang Khalik diantara kejumudan hidup dengan pernak – pernik kehidupannya ……semoga jalan terang itu cepat singgah dan membimbing penulis menjadi lebih baik…

    salam

  9. Kata Pak Sawali muatan dan diksinya bagus terus bahasanya masih perlu diteliti. Kalau kata saya *ceileee sok banget nih* enggak cuma mau tanya, kalau cerpen itu kan biasanya ada dialog-dialog, tapi ini kok gak ada? maklum bu, bukan pencermat apalagi pencerna cerpen…🙂

    Terus aku temukan kata menarik:

    Lelah menari,lelah bernyanyi aku berbaring di atas rumput bak kasur empuk aku rebahkan tubuh merentangkan tanganku selebar-lebarnya seakan ingin memeluk langit di atas sana.

    komentku: asik….!!🙂

  10. ceritanyaa baagus banget,aku sampaai ikut terserat ceritanya
    fikri92.wordpress.com

  11. Pak Ersis, hehehe suara hati itu termasuk asmaul husna juga ya pak,makasih pak tambahan ilmunya.
    Han,ini semua karena desakan kamu juga yang selalu mendorong saya untuk tetap semangat makasih ya say.
    Sq, mas jago juga nih bisa meresapi arti tulisan saya yah begitulah kira-kira inti tulisan saya, makasih yo…
    Via, aduh ada yang lagi jenuh nih pas baca tulisan saya malah tambah jenuh lagi yah.Maklumlah mba Via yang nulis juga baru belajar so agak ngelantur tata bahasa dan tanda bacanya bikin pusing yah,btw makasih dah koment ya
    Basten,yup makasih mas.Tau aja nih jangan-jangan pengamat sastra ya hehehe.Salam kenal ya makasih dah singgah di gubuk saya mas.
    Pak Kurt,tumben komentnya serius tapi saya sangat memerlukan itu kok mas.Jangan pujian terus kapan pintarnya kan.Iya saya memang masih harus banyak belajar lagi dan itu perlu agar yang baca puas,ya gak.
    Sip deh makasih mas eh pak hehehe piye to.
    Fikri,wah syukurlah kalau bagus padahal masih banyak yang harus di benahi lo.Senang berkenalan ama mas. Salam ngeblog yah.Makasih komentnya.

  12. Kirain dah ada posting baru he he

  13. kunang-kunang, lelahkah engkau menyibakkan cahayamu?

    ehmmmm. sebuah tanya yang benar-benar membuat merenung. trimakasih untuk kalimat yang indah ini.

  14. membaca ini semacam membaca renungan….
    sayah jadi ingat waktu masih ikut-ikut teater jadi tukang layar
    membaca cerita ini makin membuat seseorang mendalami perannya dan lebih bermakna

  15. Pak Ersis,saat sekarang Fira lagi badmood nih….
    Panda, salam kenal yah bang…makasih dah main ke gubuk saya yang reot nih.Makasih juga komentnya.
    Almas,oh ternyata dulu pernah ikut teater yah wah salut hihihi yuk kita merenung sama-sama.Makasih ya komentnya.

  16. Kisahnya menyentuh dan menarik hati. Enak dijadikan bahan renungan. Apalagi kalo bacanya malam – malam dan sepi.🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: