Serpihan Hati Sang Muallaf Bag I


mantap-sayang.jpgBy : Fira R

Pesawat Merpati tujuan Jakarta lima belas menit lagi akan berangkat,seluruh awak penumpang satu persatu mulai menyilangkan sit belt ke pinggang masing-masing. Shafwah dan kedua anaknya berada pada kursi terakhir di baris paling belakang. Sejenak ia merasa asing berada dalam pesawat maklum baru pertama kalinya ia naik pesawat. Selama hidupnya ia tak pernah meninggalkan kampung halamannya.Shafwah tak ingin meninggalkan semua kenangan yg indah di kampung halamannya meninggalkan keluarga orangtua dan sanak saudaranya.Tapi apa boleh buat ia harus berada di sisi suaminya.

Sudah setengah tahun lebih suami Shafwah merantau ke kota Jakarta meninggalkannya dengan kedua anaknya yg masih kecil, Laila dan Latif. Setelah berbulan bulan mencari kerjaan akhirnya Rafid mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan milik teman sekolahnya dulu. Ia mendapatkan kedudukan yg lumayan sebagai manager di perusahaan tersebut. Alhamdulillah ia bertemu teman yg dulu sangat akrab waktu masih sekolah. Sehingga temannya itu meminta Rafid membantunya mengelolah perusahaan dengan jabatan yg sesuai dengan kemampuan Rafid.Shafwah tak sabar berjumpa dengan suami tercinta. Tak lama kemudian terdengar pemberitahuan bahwa pesawat siap tinggal landas, Shafwah tertegun dengan perasaan takut.

Tangan dan kakinya seketika dingin sedingin batu es sambil menahan nafas ia menutup matanya dalam hati berdoa Bismillahirahmanirahim,ya Allah Tuhan kami mudahkanlah perjalanan ini, selamatkanlah kami dari segala mara bahaya lindungilah kami selalu,amin. Desingan suara mesin beradu dan semakin tinggi pesawat mengudara, kuping Shafwah seketika terasa pekak. Ia memeluk erat kedua anaknya.Beberapa menit kemudian ketegangan yg ia rasakan mulai berkurang. Pramugari memperagakan cara-cara menggunakan pelampung atau alat keselamatan darurat. Shafwah menyimak dengan seksama setiap gerak dan ucapan sang pramugari. Setelah itu ia membaca-baca brosur dan majalah yg di sediakan khusus buat awak penumpang pesawat.Tak lama hidangan makan siang pun di berikan pada setiap penumpang.Pramugari yg ramah dan cantik-cantik bisiknya dalam hati.Dulu cita-citanya ingin seperti itu tapi sayang pendidikannya hanya tamatan sekolah lanjutan pertama/SMP. Hatinya mulai tenang di bayangkannya wajah suaminya sambil berkata dalam hati Fid ,aku dan anak-anakmu sekarang dalam perjalanan menemuimu,tunggulah kami.Di pandangnya kedua anaknya yg terlelap disampingnya.

Dua jam kemudian terdengar suara sang pilot memberitahukan bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat di bandara Soekarno Hatta,di kencangkannya sit belt pada anaknya Laila sementara Latif dalam pelukannya juga terikat dengan tali sit belt. Dalam hati Shafwah berbisik semoga pesawat ini mendarat dengan selamat. Beberapa menit yg menegangkan itu berlalu Shafwah membaca tulisan di atas gedung megah Bandara Internasional Jakarta. Alhamdulillah akhirnya sampai di tujuan. Bisiknya dengan senang.
Sambil menunggu bagasi Shafwah mancari-cari sosok suaminya.Si sulung Laila bertanya “Bu, ayah mana? Katanya ayah mau jemput.” Shafwah masih sibuk mencari suaminya,matanya menyapu seluruh ruang tapi tidak jua ia menemukan sosok suaminya disana. Di ambilnya tas koper tua miliknya, Latif dalam gendongannya sementara Laila membantu ibunya menarik koper yg berisi pakaian-pakaian mereka. Seorang bapak menawarkan jasanya membantu mendorong koper miliknya mungkin iba melihat Laila dan Shafwah berdua mendorong koper yg berat. Dalam hitungan menit mereka sudah berada di luar gedung tempat orang ramai menjemput para sanak keluarga teman dan lainnya.

Mata Shafwah terus berkeliaran mancari dan mencari. Tiba-tiba Laila berteriak “ Ayah!!! Ibu,ibu itu ayah.” Shafwah melihat ke arah yg di tunjuk anaknya.” Fid…!” Teriaknya pada suaminya. Rafid menghampiri mereka. “Kalian lama menunggu? Maaf ayah juga baru tiba, jalanan macet.” Kemudian bapak yg sedari tadi membantu mereka mendorong koper, berpamitan dan Rafid mengucapkan terimakasihnya karena telah membantu istri dan anaknya.Laila menciumi ayahnya,Latif yg masih dalam gendongan tiba-tiba merasa asing pada ayahnya,ia di tinggal Rafid waktu berumur tujuh bulan dan sekarang Latif tidak mengenal ayahnya. “Ini ayah,” Rafid memegang tangan anaknya “Tif sini ayah gendong ya?” Latif tidak merespon ajakan ayahnya.Ia menatap ayahnya berusaha mengi ngat wajah Rafid. “Latif mau ya sama ayah, ibu lelah menggendong Tif” bujuk Shafwah Pada anaknya. Akhirnya tangannya meraih leher Rafid dan kini sudah berpindah dalam pelukan Rafid. Rafid memeluk dan menciumi Latif kerinduannya terpancar pada sorot matanya. Shafwah mencium tangan suaminya.

Mereka berjalan menuju mobil yg di kendarai Rafid.Sepanjang perjalanan mata shafwah memandang gedung-gedung yg menjulang tinggi ,tembok-tembok megah berdiri dengan kesombongannya dan cahaya matahari memancarkan sinarnya, menyinari setiap sudut kota metropolitan menambah garang dan ganasnya kehidupan di kota yg penuh sejuta mimpi ini. Jakarta membuai, Jakarta membius, Jakarta menjanjikan sejuta angan dan impian tapi hanya orang-orang yg sanggup menahan keganasan pesonanya yg bertahan menjalani kerasnya kehidupan sang Jakarta si metropolitan. Rafid melirik istrinya yg duduk di sampingnya sambil berguman dalam hati hmm istriku semakin kurus kasihan dia selama ini sudah setia menunggu dan merawat Laila dan Latif dengan baik. Akhirnya ia membelokkan mobilnya menuju restoran MC.Donald.

“ Kita mau kemana yah?” kata Shafwah keheranan.
“ Kita pergi makan dulu ya, lihat dirimu kurus begini.”
“ Lagi pula anak-anak mungkin sudah lapar.” Katanya sambil memperhatikan Shafwah.
“ Tadi di pesawat kami sudah makan kok, tapi mungkin anak-anak lapar lagi.”
“ Laila mau makan dong yah!” tiba-tiba Laila bersuara.
“ Iya ,ayah juga sudah lapar kita makan di Mekdi ya!” Rafid tersenyum pada putrinya.

Setelah makan mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah kontrakan di bilangan tebet Jakarta selatan. Rumah yg sengaja di kontrak Rafid agar bisa berkumpul kembali bersama keluarganya. Dalam waktu setengah jam mereka tiba di rumah yg bercat putih dan berpagar besi.Rafid membuka pagar dan memasukkan mobil di garasi. Shafwah terkagum-kagum pada kemewahan rumah tersebut. Rafid menurunkan koper dan membawa mereka masuk ke dalam rumah. “Inilah rumah kita, aku mengontraknya tapi perabotannya belum lengkap,aku belum sempat berbelanja. Tempat tidur dan meja makan ini di pinjami sementara sama pemilik rumah.” Kata Rafid menjelaskan. Shafwah berjalan ke arah suaminya, memeluknya dan tanpa ia sadari airmata menetes di pipinya. “Aku sudah sangat bahagia bisa berkumpul lagi dan kebahagiaanku semakin bertambah melihat rumah ini.

Walaupun hanya kontrakan tapi ini adalah impian kita dulu Fid.” Tangis Shafwah dalam pelukan Rafid. “Tak pernah ku duga ini bisa terwujud apalagi di kota besar seperti sekarang.” Shafwah semakin erat memeluk suaminya. “Sudah,sudah yg penting sekarang kita sudah bersama lagi dan semua ini berkat doa dan kesabaranmu.” Rafid membujuknya. Laila dan Latif melihat ayah dan ibu mereka ikut-ikutan minta di peluk juga.Sore itu, sore yg mengharukan pertemuan sebuah keluarga yg berpisah selama enam bulan lebih kini kembali berkumpul dalam kehangatan. Shafwah mengemas koper dan memandikan kedua anaknya. Sementara Rafid menelpon orangtuanya memberitakan bahwa Shafwah dan anak-anak sudah tiba dengan selamat. Malam pun tiba, Laila dan Latif sudah nyenyak di pembaringan.

Shafwah dan Rafid memandangi anak-anaknya yg terlelap. Tersenyum bahagia. Tak lama kemudian Rafid dan Shafwah berbincang-bincang di teras rumah mereka. “ Besok kau bisa minta tolong pada ibu pemilik rumah ini. Bu Eni akan mengantarmu belanja keperluan rumah.” Kata Rafid dan Shafwah hanya mengangguk saja tak komentar ia hanya memandang wajah yg selama ini di rindukannya. Mereka bertatap mesra di malam yg di terangi rembulan. Pagi hari sebelum berangkat kantor Rafid mengenalkan istrinya pada bu Eni. Shafwah di temani bu Eni belanja di pasar mester dan anak-anaknya di jaga mba Mul selama mereka berbelanja dari siang hingga sore menjelang. Semua keperluan rumah dari tempat tidur,lemari,meja makan,kursi sofa hingga perabot dapur di beli hari itu juga. Bu Eni banyak membantu Shafwah dalam memilih dan menawar harga. Karena masih ngontrak dan juga uang yg mereka punya terbatas Shafwah tidak membeli perabot-perabot mahal, yg penting ada dan berguna untuk se hari-hari itu sudahlah cukup.

Karena lelah seharian Shafwah hanya menghidangkan telur dadar sebagai makan malam mereka. Rafid memaklumi keadaan istrinya.Ia membantu mengatur rumah dan walau lelah fisik tapi hati mereka sangat bahagia. Kehidupan mereka seperti itu mereka nikmati dengan kegembiraan yg teramat sangat selama kurang lebih tiga bulan. Bulan-bulan berikutnya adalah bulan yg penuh ujian buat rumah tangga mereka. Ada pepatah mengatakan “ Keberuntungan dan kebahagiaan adalah sesuatu yg indah tapi tak dapat di pastikan di perolehnya. Tidak ada orang yang dapat mengetahui nasibnya di kemudian hari, tidak seorang pun tau kapan datangnya keberuntungan, kebahagiaan atau kemalangan. Agama Islam mengajarkan bahwa takdir manusia sudah di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa tapi tak seorangpun dapat mengetahui hari depan. Oleh karena itu orang harus tetap berusaha dan berikhtiar serta bersabar untuk nasibnya masing-masing.”Siang itu saat Safwah sedang menina bobokan kedua anaknya, bel berbunyi nyaring memecahkan kesunyian siang hari. Assalamu’alaikum…bunyi suara bel. Shafwah keluar kamar dan mengintip dari balik gorden jendela, dalam hatinya berkata siapa gerangan siang begini bertamu? Apakah bu Eni si pemilik rumah? Atau jangan-jangan hanya sales yg menawarkan barang dagangan? Hatinya bertanya-tanya.

Shafwah baru beberapa bulan tinggal di Jakarta dan orang yg paling di kenalnya hanya bu Eni. Assalamu’alaikum… suara bel berbunyi lagi, Shafwah tersentak dari balik tirai gorden ia tak ingin suara bel itu membangunkan kedua anaknya. Shafwah melangkah perlahan tangannya meraih kunci dan memutar sekali dua kali dan kini kepalanya melongok keluar dan, ia melihat dari balik pagar seorang wanita tengah berdiri dengan sedan yg terparkir tidak jauh dari rumahnya. Wanita itu tersenyum ramah padanya, Shafwah balas tersenyum sambil melangkahkan kakinya berjalan ke arah pintu pagar.”Selamat siang, maaf saya boleh tanya apakah benar ini rumah bang Rafid?” sapa wanita tersebut dengan suaranya yg halus dan lembut. “ Oyah benar mba ini memang rumahnya, sebentar saya bukain pintu pagar.” Shafwah membuka gembok pintu pagarnya, hatinya kini tak lagi resah pikirnya wanita ini pastilah teman Rafid. “Silahkan masuk mba.” Wanita itu melangkah masuk dan Shafwah mengikuti dari belakang,hanya dalam sekejap mata Shafwah terkagum akan kecantikan tamunya tersebut.

Tubuhnya yg tinggi semampai langsing, kulitnya seperti ubi yg baru di kupas bersih dan putih. Bibirnya merah semerah buah delima, Rambutnya indah tergerai sebahu dandanannya sangat sesuai dengan keanggunannya. Aroma parfumnya yg lembut tercium saat melangkahkan kakinya berjalan di depannya. Bangga hati Shafwah ternyata suaminya mempunyai teman secantik ini. Setelah berada di dalam shafwah menawarkan minum pada tamunya. Ia kembali dengan segelas sirup dan mempersilahkan sambil mulai membuka percakapan “Maaf tadi agak lama saya membukakan pintu untuk mba…” Shafwah tak melanjutkan kalimatnya ia berharap tamunya memperkenalkan namanya. “ Nama saya Danila, panggil saja Nila.” Jawabnya dengan senyumnya yg manis.” Mba ?” “Ow maaf saya shafwah panggil saja Wawa.” Shafwah menjawab pertanyaan Nila. “Saya kesini mau bertemu dengan bang Rafid, sudah seminggu kami tidak bertemu.” Kata Nila kemudian, Shafwah sempat bingung dengan kata-katanya. “ O, saya pikir teman kantor atau kenalan Rafid.” Shafwah menambahkan. “ Bukan,mba Wawa, boleh saya panggil begitu?” Kata Nila. “ Saya bukan teman kantornya, saya istri bang Rafid kami belum lama menikah kok, maaf apa mba Wawa saudara bang Rafid?” kata Nila bertanya,Shafwah yg sedari tadi memasang senyum manisnya tiba-tiba merasa tak berdaya. Senyum itu terganti dengan kepucatan wajahnya seketika Shafwah tak menjawab pertanyaan Nila lidahnya kelu, namun dipaksakannya hatinya ia tak mau percaya begitu saja ucapan wanita itu. “Kalian menikah di mana dan sudah berapa lama?” Shafwah bertanya selidik. “Kami menikah di Jakarta tapi sementara nikah siri dulu mba, sudah tiga bulan berjalan. Memang kami belum memberitahukan orangtua masing-masing,ini atas permintaan bang Rafid juga.” Jelasnya penuh semangat. “Apa kalian saling mencintai?” Tanya Shafwah mulai tak sabar “ Saya sangat mencintai bang Rafid, begitu juga sebaliknya. Kenapa mba Wawa tidak setuju?” tanya Nila kali ini. Dan akhirnya Shafwah sudah tak bisa berpikir rasional lagi. “Yah, saya sangat tidak setuju kamu mau tau sebabnya?” kali ini Shafwah tidak bersopan ria mata hatinya mulai berdarah dengan pengakuan wanita itu. “ Saya istri Rafid dan kamu datang mengaku sebagai istrinya? Apa buktinya bahwa kamu istri Rafid?” kali ini Nila yg bagai tersambar petir kaget tak menyangka sama sekali bahwa wanita yg sejak tadi di ajaknya bicara adalah…” Sekarang mau kamu apa?” Shafwah melemparkan pertanyaannya.” Saya memang tak bisa membuktikan, tapi saya dan bang Rafid benar- benar sudah menikah dan dia tak mengakui kalau sudah mempunya istri.” Shafwah menambahkan, “ Dan anak, kamu tau kami sudah mempunyai dua orang anak.” Tapi Nila bersikeras pada prinsipnya.” Walau begitu adanya, cinta saya pada bang Rafid tidak akan berkurang sama sekali.

Saya juga istrinya dan saya juga berhak atas dirinya, satu hal kesalahan saya yaitu terlalu mempercayai bang Rafid dan asal mba tau walau apa pun yg terjadi saya sudah terlanjur menyayanginya dan tak akan saya sesali lagi,permisi!!!” Kini tak lagi terpancar pesona keanggunannya, ia berdiri dan berjalan keluar tergesa-gesa Shafwah hanya diam dan terdiam seribu kata, ia tak habis pikir kenapa suaminya sampai setega itu padanya. Selama ini perilakunya biasa-biasa saja tak ada yg mencurigakan Shafwah terus terpaku dalam hati yg tak menentu. Tanpa ia sadari jam sudah menunjuk pukul empat sore, cukup lama ia duduk dan menangis sampai matanya membengkak dan merah Laila mendekati dan berkata, “ Bu, kenapa menangis? ibu sakit ya.” Laila putrinya membersihkan airmata ibunya dengan ujung daster yg di pakainya. Shafwah semakin terharu dan tak dapat membendung isak tangisnya. “Laila telpon ayah ya, Laila sudah tau caranya kok bu ayah yg mengajari kata ayah kalau ada apa-apa Laila harus telpon ayah di kantor, nomor telepon kantor ayah ada di buku kecil itu kan bu?” Laila berjalan ke arah meja telpon tapi Shafwah buru-buru menghentikan langkahnya. “ Jangan ganggu ayah Ila ayah lagi sibuk di kantornya. Ibu gak apa-apa hanya sakit perut bentar juga sembuh.” Kata Shafwah membujuk putrinya.

Malam kelam sekelam hati Shafwah, tanpa cahaya bulan dan kerlipan bintang ia duduk termangu menunggu kedatangan suaminya.Laila dan Latif bermain dan bercanda di dekat nya dalam hatinya berpikir haruskah ku korbankan kedua anakku yg tak berdosa ini? Semula ia setengah nekat antara iya dan tidak mengambil keputusan tetapi setelah melihat keriangan kedua anaknya ia jadi tak tega, hanya memikirkan diri sendiri sementara nasib kedua anaknya belumlah tentu bahagia.Tak lama kemudian Shafwah menidurkan kedua anaknya ia melirik jam sudah setengah sembilan, tapi suaminya belum juga pulang.Ia berbaring di sisi si kecil Latif , tanpa sadar air bening dari kelopak mata nya membasahi pipinya yg tiris.Ia tak ingin titik airmatanya berubah menjadi isakan tangis dan membangunkan kedua anaknya.Perlahan ia mengecup pipi Latif dan kemudian Laila, ia berjalan keluar kamar tak tau apa yg akan ia lakukan.Shafwah tak henti-hentinya bertanya pada dirinya apa seharusnya ia katakan saat Rafid pulang nanti? Bayangan wajah wanita yg bernama Nila itu menari-nari di benaknya ia wanita yg cantik dan anggun hingga Shafwah menganggapnya wanita yg terpelajar tapi setelah mengetahui apa yg terjadi tadi anggapannya menjadi hilang seketika di telan dengan pengakuan Nila yg sangat menusuk hatinya. Ia berjalan ke arah kamarnya, di pandang nya sekeliling kamar di atas meja ia mengambil buku yg beberapa minggu lalu di belinya di gramedia namun belum sempat dibacanya. Ia mulai membuka halaman pertama dan perlahan ia berusaha focus pada bacaannya. Terus berpindah pada halaman berikutnya Shafwah kini tengah serius membaca bukunya. Ada kekuatan yg ia rasakan seketika. Matanya semakin menun jukkan rasa penasaran.

Helai demi helai terus dan terus hingga jam menunjuk angka sepuluh lewat dua puluh. Shafwah selesai dengan bukunya, ia sekilas tersenyum dan senyumnya adalah senyum kelegaan dan Shafwah beranjak dari tempat tidurnya berjalan ke kamar mandi. Rupanya ia tengah berwudhu dan detelah itu ia hamparkan sajadah dan mengenakan mukenah. Shafwah memulai dengan kalimat Bismillah ,lalu ia larut dalam kekhusyukan yg memang menjadi jawaban atas kegundahannya. Shafwah hanya membaca ayat-ayat pendek Al-Ikhlas, An-Nas di samping ia membaca dengan fasih Al- Fatihah. Selama ia memeluk agama Islam hanya tiga surat itu yg ia hapal dan itu pun jika ia ingin membaca ayat lainnya ia menuliskannya di atas secarik kertas dan menempelkan pada lemari tempat ia mudah membacanya. Memang ia tak pernah di ajar pada siapa pun dan tak pernah ia meminta untuk di ajarkan,saat pertama menikah ibu mertuanya yg awal nya tak menyetujui pernikahannya, beliau mengatakan bahwa jika berkehendak tulus men jadi seorang muslim maka harus bisa belajar menjalankan apa yg sudah di perintahkan oleh Allah.

Tunjukkan. Shafwah mengiyakan dan belajar sedikit-demi sedikit walau ia tau bahwa ia masih harus banyak belajar lagi tentang agama Islam. Namun sejak melahirkan anak-anaknya ia bukannya berhenti atau melupakan perintah Allah. Selama menumpang pada mertuanya dan menjalankan pekerjaannya sebagai ibu dari dua orang anak dan sebagai menantu yg berbakti pada mertuanya. Shafwah tidak ingin menyusahkan mertuanya dengan berpangku tangan saja. Setelah sholat subuh ia mencuci pakaian dan membantu mertuanya di dapur. Siang hari membuat es mambo untuk di jual dan tugasnya membawa termos dari satu warung ke warung lain. Upahnya lumayan buat menambah keperluan se hari-hari. Bahkan mertuanya sesekali memberikannya bonus untuk membeli susu anaknya.Saat itu Rafid belum mempunyai pekerjaan tetap,namun keteguhan dan semangat bersama-sama mereka jalani dengan pantang menyerah. Shafwah menghadapinya dengan suka cita, baginya adalah hal yg membahagiakan bisa membantu ibu mertuanya. Ia adalah ibu yg sangat Shafwah kagumi kedisiplinannya dan kemandiriannya, di balik kekerasan hatinya tersimpan kasih seorang ibu yg lembut. Ibu yg mendidiknya dan membuatnya kuat dari tempaan kehidupan. Secara garis besar beliau selalu memberikan dukungannya setelah sebelumnya tidak pernah mempercayai apakah Shafwah benar-benar ikhlas menjadi seorang muallaf. Alhamdulillah hatinya tak pernah sedikit pun berubah. Kembali saat Shafwah selesai dengan doanya.

Dalam hati ia bersyukur akan kehadirat Allah yg membuatnya sadar bahwa segala sesuatu itu hanyalah ujian dan Shafwah akan terus berusaha agar ia tak lagi berputus asa dalam menjalani ujian yg di berikan, Insya Allah. Seperti sekarang ia pasrahkan segala sesuatunya pada kehendak yg Kuasa, Shafwah tak ingin anak-anaknya menderita dan juga ia yakin suaminya juga masih menyayanginya. Yah, kini ia lega dan hatinya sangat tentram setidaknya ia bersyukur ia masih di uji berarti Allah menyayanginya, seperti pada ayat yg berbunyi pada buku yg dibacanya :Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yg ada di bumi sebagai perhiasan baginya,agar kami bisa menguji mereka, siapakah diantara mereka itu yg terbaik perbuatannya. (QS. Al-kahfi:7). Kalimat inilah yg memberikan kekuatan padanya. Malam semakin larut terdengar deruman suara mobil. Itu pasti Rafid tebak Shafwah. Ia berjalan keluar, pintu dibuka. Rafid sedang membuka pintu pagar dan memarkir sedan abu-abunya ke dalam garasi. Shafwah menyambutnya dengan senyum. “Salamu’alaikum,” salam Rafid “ Belum tidur? Maaf agak telat pulangnya banyak kerjaan yg harus di selesaikan malam ini.” Menjelaskan. “ Wa’alaikum salam,” Shafwah mengambil tas kerja suaminya. “Kamu sudah makan belum?” tanya Shafwah sambil menggandeng tangan suaminya. “Sudah tadi di kantor.” Bukan istri yg baik jika suami pulang dalam keadaan lelah istri menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yg hanya akan membuat suasana menjadi tidak nyaman. Shafwah memahami dan berjanji dalam hatinya jika memang ia dan Rafid harus menghadapi masalah rumit ini akan lebih baik bila memilih situasi dan kondisi yg baik juga untuk mereka berdua.

Malam itu Shafwah dan Rafid bercengkrama seperti biasa, membicarakan kedua anak mereka sehari-hari apa saja yg telah Shafwah lewati seharian tanpa Rafid atau apa bu Eni hari ini datang berkunjung sekedar bersay hello seperti hari-hari kemarin ataukah sebaliknya Shafwah yg mendatangi ibu yg baik hati itu bersama kedua buah hati mereka dan memanggil eyang pada bu Eni.Sungguh tak ada hal yg mengganjal dalam hati Rafid,ia bebas berbicara dan bercanda seperti biasa.Ataukah memang Rafid pandai menyembunyikan masalah yg secara tak sadar Shafwah telah mengetahuinya.Ah,suamiku apapun yg telah terjadi aku tak akan meninggalkanmu,walau kehadiran wanita itu telah membagi hatimu tapi kau tetap memperhatikanku juga kedua anakmu,bisik hati Shafwah sambil memandang wajah tampan sang suami di atas pembaringan mereka dan tanpa terasa mereka berdua telah larut dalam mimpi masing-masing,mimpi akan masa depan yg harus mereka jalani dengan segala tantangan dan cobaan akankah mimpi itu berakhir dengan kebahagiaan? Hanya Sang Pencipta seluruh jagat raya yg Maha mengetahui akhir perjalanan mimpi mereka berdua.Setidaknya keresahan dan kegundahan yg Shafwah rasakan telah membuka mata hatinya untuk tetap bertahan dalam ujian yg sedang melanda rumah tangganya.Baik Shafwah maupun Rafid sama-sama di uji ketabahan, kekuatan iman dan cinta kasih antara mereka kesemuanya itu akankah hancur dengan mudah? Harapan terbesar adalah kedua anak mereka Laila dan Latif,tak kan mampu mematahkan ikatan batin yg terjalin atas mereka. Subuh suara adzan membangunkan Shafwah memanggilnya melaksanakan sholat kemudian mengerjakan pekerjaannya mencuci membersihkan rumah dan jam7 ia sudah membuat sarapan, si kecil Latif membangunkan ayahnya.

Laila tak mau ketinggalan, mereka berdua mancandai ayahnya yg baru terbangun karena teriakan Latif “Yah…ayah banun!” Latif yg belum fasih berbicara membangunkan Rafid. “Ihh…ayah bangun dong” Laila mengguncang bahu ayahnya. Rafid pura-pura masih tidur ia mendengkur matanya sebelah tertutup tangannya mencengkram selimut menutupi setengah badannya, Latif tertawa melihat ayahnya kini mereka bertiga bermain bersama saling menggelitik Shafwah melihat adegan itu sambil tersenyum bahagia.

Setelah lelah mencandai anaknya Rafid bergegas mandi dan sarapan mereka makan bersama, tiba-tiba Laila berkata “ Yah, ibu sakit ibu menangis-kasian deh yah” Shafwah tersentak kaget, Rafid juga ia memandang istrinya “ Apanya yg sakit bu?” tanyanya. “Ah,gak apa-apa Cuma sakit perut biasa kok yah” jawab Shafwah. “Tentu sakit sekali ya bu sampai menangis,kenapa nggak telpon ayah ,kapan itu? kata Rafid khawatir. “Sudah gak usah khawatir yah” Shafwah menenangkan hati suaminya. “Tapi kalau terulang lagi bu jangan di biar-biarin telpon ayah nanti ayah antar ke dokter,ingat ya” Rafid mengecup kening istrinya ia benar-benar khawatir. “Iya ayah “ Shafwah memeluk pinggang suami nya dan mengantar sampai ke teras. “Ayah pergi dulu ya,Laila Latif sini cium ayah dulu” ia mengecup kedua anaknya Shafwah mencium tangan suaminya.Mobil Rafid meluncur perlahan meninggalkan rumah menuju ke kantor. Sore hari setelah memandikan kedua anaknya Shafwah bertandang ke rumah bu Eni.
“Salamu’alaikum.” Salam Shafwah.
“Wa’alaikumsalam, silahkan masuk mama Ila.” jawab pak Hakim suami bu Eni mempersilahkan dan tak lama memanggil istrinya. “Bu, ini ada tamu jauh cepetan!” Shafwah tersenyum-senyum melihat tingkah pak Hakim yg senang bercanda itu.“Siapa sih pak tamu jauhnya?” Bu Eni datang tergopoh-gopoh. “Wualah iki to tamu ne” “Salamu’alaikum bu.” Sapa Shafwah. “Eyang salamu’alaikum juga” Laila dan Latif mencium tangan bu Eni dan pak Hakim. “Wa’alaikumsalam…” jawab bu Eni sambil menggendong Latif. “Sini sama eyang, ayo masuk duduknya di dalam lebih sejuk.” Ajak bu Eni kemudian. Kami berbincang-bincang sambil sesekali bu Eni memperlihatkan foto-foto putra-putrinya yg sudah menikah semua. Bu Eni mempunyai satu putra dan dua putri Shafwah menjadi dekat pada beliau karena banyak membantu dan selalu memberinya nasehat-nasehat yg baik serta tak jarang saat anak-anaknya berkumpul ia memanggil Shafwah bersama-sama dan memperkenalkannya seakan shafwah sudah menjadi bagian dari keluarganya.

“Nak Wawa,sesekali mau ikut dengan ibu ke acara pengajian di mesjid dekat pasar?” ajak bu Eni sambil mengaduk teh aroma melati dan menghidangkan buat Shafwah dan anaknya, mereka sedang duduk di pendopo halaman belakang.Shafwah mengiyakan ajakan bu Eni ia selalu terkagum-kagum bilamana berada di halaman itu,tak pernah merasa bosan mengagumi taman surga milik bu Eni.

Rumah yg indah dan sejuk sedap di pandang mata berbagai tanaman bunga-bunga nan cantik menghiasi, tanahnya beralas kan rumput hijau segar yg terawatt dan di sisi taman mungil terdapat berbagai ornament bebatuan dan di tengah-tengah taman ada gundukan yg di hiasi lampu taman yg artistic. Sisi sebelahnya kolam ikan mini dengan berbagai macam ikan hias menari-nari bermain dengan percikan air mancur yg keluar dari mulut patung ikan mas. Gema gemercik air dan harum bunga yg mekar menambah kesejukan suasana. Shafwah sangat betah berlama lama berada di tempat yg ia dan anak-anaknya sukai itu. Laila dan Latif amat menikmati bermain di taman mungil melihat pak Hakim melemparkan makanan dan ikan-ikan pun berlomba-lomba menangkapnya. Tawa Latif dan Laila membuat pak Hakim dan bu Eni senang. Mereka hanya sekali seminggu bertemu cucu-cucu mereka sehingga kehadiran Laila dan Latif menghibur pasangan yg baik hati itu. “Oyah Laila tahun ini sudah boleh sekolah kan?” kata bu eni seketika. “Ya bu,umur Laila genap lima tahun dan rencananya tahun ajaran baru ini saya menyekolahkannya.” Jawab Shafwah. “Di belakang rumah kita ada sekolah Taman Kanak-kanak yg bagus namanya TK.Parkit cucu ibu dulu sekolah situ ajaran agamanya bagus itu yg utama nak Wawa.” Jelasnya kemudian. Shafwah mengang guk-angguk mengerti maksud bu Eni tersebut. Sebelum maghrib Shafwah pamit. Mereka Shafwah dan anak-anaknya pulang tak lupa bu Eni juga membekali Laila dan Latif makanan kue-kue bikinan bu Eni. Anak-anak menjadi dekat pada pasangan itu. Azan terdengar Shafwah mengajak Laila sholat bersama,ia selalu mengajarkan putrinya membiasakan sholat. Selesai sholat mereka menelpon Rafid menanyakan kabarnya.

“Halo salamu’alaikum ayah.” Suara Laila menyapa Rafid.
“Ya halo siapa nih? Ayah? Kamu siapa?” jawab suara itu.
“Saya Laila putri ayah, tante siapa?” mendengar putrinya menyebut nama tante Shafwah mengambil gagang telpon yg masih di pegang anaknya.
“Halo salamu’alaikum ini dengan siapa?” tanya Shafwah.
“Lho,harusnya saya yg bertanya anda siapa? Tapi tunggu…mba Wawa ya?” jawab suara itu, tiba-tiba Shafwah mengenal suara yg sudah tak asing lagi di telinganya itu.
“O kamu…” suara Shafwah tercekat di tenggorokannya.
“Iya saya Danila mba, Nila yg datang ke rumah mba. Maaf ya bang Rafid lagi mandi.” Jawabnya menjelaskan dan nafas Shafwah tiba-tiba terasa sesak seketika.
“Baiklah sampaikan saja saya menelponnya.” Shafwah tak bisa berkata apa-apa lagi. “Salamu’alaikum.” Belum habis ia ucapkan salam “klik” suara handphone di matikan. Shafwah memeluk kedua anaknya dalam hati ia masih merasakan sesuatu yg menekan dadanya dan “Astaghfirullahaladzim,Lailahailallah,AllahuAkbar…” Shafwah mencoba mengobati hatinya ia tak mau memperlihatkan rasa sedihnya pada kedua anaknya.
“Bu,tante itu siapa? Kok bukan ayah yg bicara? Ayah kemana bu?” tanya Lila.
“Ayah lagi kerja Ila,tante itu teman kantor ayah.” Shafwah menjelaskan pada Laila. Ia tak mengira Nila mengangkat handphone milik Rafid. Baru dua hari yg lalu Rafid membeli handphone katanya agar suatu saat mudah menghubunginya jika ia tak berada di kantor. Shafwah heran baru jam enam Rafid sudah keluar kantor,biasanya ia selalu kerja hingga larut malam. Ah,dasar bodoh kamu Wa, suami kamu kan sekarang sudah ada istri baru kok gak mikir sampai kesitu. Suara lain mengingatkannya. Shafwah harus belajar menghadapinya, ia memeluk kedua anaknya dan menyuapi makan Latif dan Laila. Setiap teringat pada Nila dan Rafid ia menghibur hatinya berusaha mengingat kebesaran Allah ia tak mau di gerogoti pikira-pikiran yg membuatnya menjadi sakit dan sedih. Sungguh Shafwah sebenarnya tak kuat tetapi demi anaknya dan demi keutuhan rumah tangganya juga demi rasa sayang dan cinta pada Rafid ia harus sabar. Ia hanya menunggu penjelasan Rafid itu hal yg sulit tentu buatnya tapi lambat laun harus mereka bicarakan dan Shafwah sudah tak sabar menunggu hari itu tiba. Ia bisa saja menanyakan langsung pada Rafid. Atau mungkin Nila sudah memberitahukan pertemuan mereka. Tak pernah ia liat Rafid niat membicarakan hal ini, seakan-akan tak ada kejadian apa-apa pada mereka. Shafwah hanya bisa menunggu dan menunggu dan semoga saja mereka dapat mengatasinya.

Keesokan sorenya Shafwah dan bu Eni mengikuti pengajian. Anak-anaknya sementara di jaga mba Mul. Kehadirannya di sambut hangat dan ramah oleg ibu-ibu pengajian At-taubah.Shafwah mendengarkan ceramah uztajah yg sore itu membahas tentang arti kesabaran. Ia sangat menikmati walaupun awalnya risih karena ia belum bisa membaca Al-quran. Selesai pengajian Shafwah bertanya pada bu Eni niatnya ingin belajar mengaji. Bu Eni menyampaikan keinginan Shafwah pada uztajah yg mereka panggil ibu Zubad. Sejak itu Shafwah mulai belajar mengaji di rumahnya. Ibu Zubad secara suka rela mengajarkannya menulis dan membaca Al-quran. Seminggu dua kali ia belajar dan berkat bantuan bu Eni kini ia sudah mempunyai seorang mba Nur yg membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Betapa senangnya Rafid mengetahui istrinya kini belajar membaca Al-quran. Shafwah merasa ia tidak sah memeluk agama Islam tanpa mempela jari membaca Al-quran. Kehidupan rumah tangga mereka berlanjut hari demi hari shafwah tetap menjalankan semua tugas-tugasnya sebagai seorang ibu dan istri yang baik.

Hingga suatu malam. saat Shafwah selesai melaksanakan sholat Isya, ia di kejutkan oleh kedatangan Nila yg tiba-tiba. Mba Nur membukakan pintu dan mempersilahkan masuk tamu yg mencari majikannya. Shafwah membenahi pakaiannya dan menyisir rambutnya lalu keluar menemui Nila. Betapa terkejutnya ia melihat Nila. Pakaian yg ia kenakan menutupi perutnya yg membesar.Tak lagi ia langsing seperti pertama kali Shafwah melihatnya. Wajahnya yg putih bersih memucat,bibirnya tak lagi semerah delima matanya sayu memancarkan kesedihan yg dalam dan rambutnya tak lagi tergerai indah penampilannya sangat acak-acakan. Ia masih berdiri menunggu Shafwah mempersilah kannya duduk. Mata Shafwah masih tertuju pada bagian perutnya yg besar.Ya dia sedang hamil dan Shafwah terperanjat kaget saat Nila menabraknya dan memeluk nya sambil menangis. Untuk sementara waktu ia biarkan Nila memeluknya dan menangis pikirannya pun sedang mencari jawaban. Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya ia tak kuat menahan bendungan airmatanya. Tangisan Nila di pundaknya menyayat sembilu. Akhirnya Shafwah memegang bahu Nila dan membimbingnya duduk.

“Mba mba..mba mmm..” terbata-bata Nila tangannya memegang erat tangan Shafwah.
“Sudahlah,kamu duduk dulu sebentar mba ambilkan air minum.” Kata Shafwah membujuknya. Ia ke dalam mengambil air dan tak lama ia sudah kembali dengan segelas air putih dam memberikannya pada Nila.
“Minumlah dulu biar tenang.” Kata Shafwah, padahal ia sendiri kaget tapi masih saja bisa menenangkan Nila.Ia tak tega melihat Nila dalam keadaan seperti ini. Hati dan pikiran nya mengajak kompromi untuk tidak lemah tetapi tegar menghadapi Nila.
“Sekarang sudah agak tenang?” Ia duduk di samping Nila.
“Makasih mba, maaf saya minta maaf mba. Saya tau saya salah besar sudah merebut suami mba, dari awal saya tidak menduga sama sekali bang Rafid sudah berkeluarga. Dan saya yg mengajak bang Rafid menikah karena saya terlalu mencintainya.” Ia mengambil gelas dengan tangannya yg putih pucat. Shafwah diam dan mendengarkan.
“Sekarang saya menambah kesusahan bang Rafid dan mba dengan kehamilan saya ini”
Ia memegang perutnya yg membesar, tak berani memandang Shafwah.
“Bang Rafid bilang dia belum siap punya anak dari saya mba, tapi saya tak tega untuk menggugurkannya” Tangisnya pecah memecah kesunyian malam dan kebisuan Shafwah.
“Astaghfirullahaladzim, Apa kalian sudah tak beriman lagi? Apa salah anak itu? Apakah Rafid menyuruhmu untuk menggugurkannya?” tiba-tiba Shafwah bersuara dan melototi Nila yg berada di sampingnya.
“Dia tidak mengatakan itu secara langsung tapi kata-katanya menyatakan seakan tak menginginkan anak ini mba.” Nila mengelus perutnya. Ia menangis hingga airmatanya membasahi bajunya. Shafwah berjalan ke kamar mengambil saputangannya dan di berikan pada Nila. Di tambahnya air putih di gelas Nila lagi.
“Kalian jangan melakukan itu. Bagaimana pun kalian sudah suami istri dan anak itu berhak untuk hidup. Sekarang jangan banyak pikir keadaanmu itu membuat anak dalam rahim itu ikut merasakan kesedihan. Jagalah kandunganmu baik-baik Nila.” Shafwah menatap Nila. Rasa iba menjalari hatinya melihat keadaan Nila.
“Tapi mba jangan bilang bang Rafid saya menemui mba, dia pun tak tau saya pernah kesini sebelumnya. Saya juga tau mba tak pernah mengatakan pada bang Rafid kita sudah saling kenal kan? Memang dia baru mengakui sudah punya anak istri setelah tau kehamilan saya tapi saya pun tak mengatakan kalau saya sudah mengetahuinya. Maafkan saya mba…saya takut kehilangan dia, saya bertahan karena mencintainya tapi saya juga sadar apa yg saya lakukan ini sudah menyakiti hati mba dan anak-anak mba.” Nila meme gang tangan Shafwah. Tangan yg dingin dan bergetar itu meluluhkan hati Shafwah.
“Sekarang tak ada yg perlu di maafkan Nila, Rafid belum mengatakan dengan jujur semua ini. Saya tak mau menambah beban pikirannya.” “Saya yakin dia juga memikirkanmu dan anak dalam rahimmu, bagaimanapun Rafid bukan laki-laki yang tak bertanggung jawab.” Kata Shafwah dengan bijak.

Setelah pertemuannya dengan Nila tadi Shafwah kembali merenungkan apa yang telah terjadi pada kehidupan rumah tangganya. Ia tak dapat membiarkan hal ini berlarut-larut. Tekadnya bulat malam ini ia harus berbicara pada suaminya ya harus malam ini bisik hatinya. Kedua anaknya sudah terlelap jam menunjukkan angka sepuluh tepat ia berjalan mundar mandir sambil berpikir bagaimana reaksi suaminya nanti. Shafwah mengintip dari balik gorden saat mendengar suaminya membuka pintu pagar. Hatinya semakin tak keruan tangan dan kakinya seketika dingin. Ah, tidak aku tak boleh begini. Di pejamkan matanya dan dalam hatinya berkata Bismillahirahmanirrahim Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Langkah kaki Rafid semakin dekat ia menghampiri suaminya dan, salamu alaikum belum tidur Wa. Belum ngantuk. Malam ini kayaknya aku kangen banget sama kamu.

Shafwah memeluk mesra lengan suaminya. Rafid tersenyum merangkul pundak istrinya. Shafwah tak mau kehilangan saat seperti ini bersama Rafid ia bertekad akan membantu mancarikan jalan keluar. Ia tau jalan keluar itu hanya satu yaitu merestui hubungan Nila dan Rafid. Rasa sakit harus ia telan dan ia juga tau resiko dari keputusan tersebut. Terdengar amat mudah namun mampukah ia menjalan kan hidup di madu? Bukan hanya sehari sebulan atau setahun yang harus ia hadapi. Tapi hatinya sudah bertekad harus bisa menghadapi semua dan Insya Allah atas ijin Allah ia bersandar dan memohon petunjuk agar di berikan kekuatan iman dan kesabaran selalu. Memang tidak mudah tapi ia teramat sangat mencintai Rafid dan anak-anaknya. Di satu sisi ia tak kuasa melihat penderitaan Nila dan anak dalam rahimnya.

Bersambung :……………………………………………………….

Published in: on 25 Agustus 2007 at 6:09 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/08/25/serpihan-hati-sang-muallaf/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: