Kidung Cinta Akifah


mantap-sayang.jpg  By : Fira Rachmat

Hujan lebat mengguyur desa sukatani tanpa ampun. Petir bergemuruh membelah malam kelam dan pekat. Di sebuah gubuk yg di terangi cahaya lampu teplok seorang wanita muda tengah berjuang melawan sakit hendak melahirkan anaknya. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Wajah pucat pasi suara erangan dan rintihan wanita itu menyayat sembilu.”Tot..tol..long selamat..kan anak sa..ya” suaranya terbata-bata.
Mak Piyem dukun beranak mengelus elus perutnya. Jari tangannya dengan lincah memutar menjepit mendorong perut wanita muda itu. Keringat mengucur deras sederas hujan di malam itu. Ibu wanita muda bulak balik mengeringkan darah yg mengecer deras di balai-balai tua. Dari bibirnya yg bergetar mengeluarkan doa-doa agar anaknya selamat. Setelah berjuang selama satu jam wanita muda itu menghembuskan nafas terakhir.

Namun bayinya lahir dengan selamat. Tangisannya memecah hentakan petir yg saling beradu. Mak Piyem tak mampu menyelamatkan sang ibu yg terlalu banyak mengeluarkan darah. Ia menggelengkan kepala ke arah bu Ijah. “Innalillahi Wa’innailahi Rojiuun” bu Ijah memeluk tubuh anaknya. Mak Piyem membersihkan tubuh bayi itu.
Pagi menjelang orang desa ramai membantu bu Ijah mengurus pemakaman anak satu-satunya Salma. Salma adalah salah satu dari sekian ribu tenaga kerja wanita (TKW). Ia mengadu nasib keluar negeri sebagai penduduk migran namun malang tak dapat di tolak ia pulang dengan membawa aib yg membuatnya tak berdaya. Majikannya memperkosa Salma yg masih belia. Salma belum genap 20th. Untunglah penduduk desa sukamaju tak mengusir mereka dari kampung itu. Karena bukan hanya Salma yg mengalami hal seperti itu. Dari desa-desa tetangga sudah banyak korban. Ada yg bernasib mujur ada juga yg tidak.Rasa terimakasih yg tak terhingga pada penduduk desa yg bersedia bahu membahu membantu bu Ijah dalam pemakaman anaknya Salma.
Gundukan tanah merah masih basah oleh guyuran hujan lebat semalam. Bu Ijah duduk disamping kuburan Salma. Wajah keriputnya semakin kusam sekusam hari itu. Ia masih memanjatkan doa mengantar kepergian sang anak yg sangat di cintainya. Beberapa warga yg ikut melayat sudah pulang ke rumah masing-masing. Bu Roso menemani di samping.
“Ayo kita pulang Jah, ikhlaskan kepergian Salma agar tenang di alam sana.” Kata bu Roso sambil membantunya berdiri. Bu Ijah menuruti ajakan bu Roso teman dekatnya..
Matahari yg seharusnya bersinar cerah di pagi itu malah terlihat cahaya kesenduannya. Namun bu Ijah harus melawan segala kesenduan itu demi cucu perempuannya. Tugasnya belum usai. Tekadnya untuk membesarkan cucunya mengalahkan rasa kesedihannya.

Sudah dua hari bu Ijah tak dapat tidur dengan nyenyak. Tangis cucunya sepanjang malam membuatnya kebingungan. Sesekali ia usapkan minyak yg di campur bawang merah pada tubuh cucunya.Tetap tak berhasil meredakan tangisnya. Keesokan hari bu Ijah membawa cucunya berobat ke posyandu. Dengan langkah kakinya yg tergopoh-gopoh ia telusuri jalan setapak di antara pematang sawah. Sampai di persimpangan jalan ia berpapasan dengan mobil milik dokter Rendy. Bu ada apa tergesa-gesa? Dokter Rendy mengulurkan kepalanya di lihatnya dalam gendongan bu Ijah bayi yg kelihatan pucat.

Pak dokter tolong cucu saya, badannya panas. Tanpa banyak bicara dokter Rendy langsung membuka pintu mobil mempersilahkan bu Ijah masuk ke mobilnya. Kijang super itu berlari secepat kilat ke rumah sakit. Niat bu Ijah tadi membawa cucunya ke posyandu dekat kelurahan. Berhubung ia bertemu langsung dokter Rendy dan membawanya langsung ke rumah sakit. Di perjalanan. Pak dokter saya tidak punya biaya jika berobat ke rumah sakit. Kalau memang bisa saya bayar cicil biayanya.kata bu Ijah memelas.
Dokter Rendy yg terkenal baik hati dan suka menolong penduduk desa itu tersenyum melihat bu Ijah. Sudah sudah ibu tidak usah memikirkan itu, sing penting sekarang bagaimana agar cucu ibu ini selamat ya. Tangannya menepuk pundak bu Ijah. Tiba di rumah sakit dokter Rendy langsung membawa bu Ijah dan cucunya ke ruangannya. Sepuluh menit kemudian dokter Rendy sudah selesai memeriksa cucu bu Ijah.
Cucu bu Ijah namanya siapa? Kata dokter Rendy kemudian. Bu Ijah tertegun sejenak. Selama seminggu ini dia hanya memanggil cucunya cah ayu. Namanya cah ayu pak dokter. Ibunya baru meninggal seminggu yg lalu. Jawab bu Ijah menundukkan wajahnya.
Maaf ya bu, apakah si Salma ibu bayi ini? Tanya dokter Rendy. Bu Ijah hanya menganggukkan kepalanya. Malang benar nasib bayi ini lirih hati dokter Rendy sambil menatap bayi mungil tak berdaya itu. Ia kemudian memberikan obat racikan untuk cucu bu Ijah. Bu Ijah sangat berterima kasih atas kebaikan dokter Rendy.

Saat kakinya beranjak keluar dari ruang itu ia berpapasan dengan bu Retno. Lo bu Jah siapa yang sakit? Tanyanya. Bu Ijah menunduk hormat pada majikannya dalam gendongan si cah ayu mulai menangis. Bu Retno adalah tuan tanah di desa mereka. Selama ini bu Ijah bekerja sebagai pembantu di rumahnya. Ia menengok bayi dalam gendongan bu Ijah. Ini bayi Salma ya bu? Saya mendengar berita seminggu yang lalu Salma meninggal dunia dari mang Ujang. Katanya ibu menitip pesan selama beberapa hari ini belum bisa bekerja.

Bu Ijah hanya manggut-manggut sedih. Maafkan saya bu, seminggu ini saya tidak masuk kerja, jawabnya. Sudah tidak usah di pikirkan, kenapa bayi ini? Apa sudah di periksa? Tanya bu Retno lagi. Sudah tadi di periksa sama dokter Rendy jawab bu Ijah. Boleh saya gendong bu? Pinta bu Retno sambil mengulurkan tangannya. Bu Ijah menyerahkan cah ayu di lengan bu Retno. Cah ayu di timang-timangnya anehnya tangis cah ayu berhenti. Dokter Rendy datang menghampiri mereka. Wah bu Retno nimang anak masih pantas lo.

Canda dokter Rendy. Ah,pak dokter bisa-bisa aja. Bu Retno sudah 8th merindukan anak. Sejak anaknya Ratih yang berusia 8bulan meninggal kini ia belum di beri momongan lagi. Tiba-tiba terbersit di hatinya untuk memelihara cah ayu. Bu Ijah saya mau minta tolong boleh saya pelihara bayi ini? Bu Ijah menatap wajah memelas bu Retno.

Ia kaget mendengar keinginan majikannya itu. Jangan takut bu, saya memeliharanya bukan untuk memilikinya. Ibu bisa berada terus di dekatnya karena bagaimanapun ia adalah cucu ibu. Sekali lagi bu Ijah bertambah kaget tak mampu berkata-kata untuk sesaat. Bagaimana menurut pak dokter? Tanya bu Retno pada dokter Rendy. Wah itu bagus sekali bu…tapi kita harus minta pendapat bu Ijah. Kata dokter Rendy melirik bu Ijah yang masih diam. Saya bukan tidak mau,tapi apa ibu betul-betul sudi merawat cah ayu? Saya berterima kasih atas kebaikan ibu dan pak dokter. Tapi dia tak punya ayah. Apa ibu sudi? Kata bu Ijah dengan nada sedih. Saya tidak melihat di sisi itu bu, bayi ini tak bersalah ia suci dan polos tak berdosa. Saya tergerak menjadikannya anak saya saat menatap mata bayi ini saat merasakan hangat menggendongnya dalam pelukan.

Kata bu Retno tulus. Yah Alhamdulillah bu Ijah juga harus tahu usia bu Ijah sudah renta manalah kuat mengurus cah ayu kalau bu Ijah setuju biarkan bu Retno merawatnya dan bu Ijah tidak kehilangan dia karena bu Retno mengijinkan bu Ijah berada di sisi cah ayu memperhatikan perkembangannya tumbuh besar. Dokter Rendy membenarkan keinginan bu Retno. Baiklah kalau begitu, syukur Alhamdulillah saya pun ingin cah ayu tumbuh sehat dan menjadi anak yang baik. Salma pasti bahagia di alam sana mengetahui hal ini.
Sejak saat itu bu Ijah pindah ke rumah bu Retno. Ia tetap bekerja membantu membersih kan rumah.Dan kini cah ayu dalam pengasuhan bu Retno. Serangan jantung merenggut nyawa suami bu Retno tahun lalu.ia tinggal sendiri tanpa anak dan suami. Harta tak berarti baginya tanpa orang-orang yang ia kasihi. Berhektar-hektar sawah dan perkebunan ia kelola sendiri di bantu mang Ujang tangan kanan suaminya dulu yang sudah di anggap bapak sendiri oleh bu Retno. Suatu malam di beranda saat bu Retno meneguk secangkir teh hangat dan mengajak bu Ijah ngobrol. Bu Jah, apa boleh cah ayu saya beri nama? Saya rencana mau membuatkan akta kelahirannya. Tanya bu Retno. Silahkan bu…saya serahkan semuanya yang terbaik buat cah ayu. Jawab bu Ijah polos.

Bagaimana kalau Akifa Pradipa nama ini mengandumg makna yang baik. Kifah perjuangan Pradipa pelita cahaya. Kelak ia besar nanti mampu berjuang dalam menghadapi kehidupan dan selalu menjadi cahaya buat kita berdua bu Jah. Jelas bu Retno matanya memandang jauh ke kegelapan malam berharap suatu saat apa yang di impikan akan terwujud. Bu Ijah ikut larut dalam impian itu. Mereka bersama melewati hari-hari saling membantu membesarkan Akifa tiada perbedaan antara bu Retno dan bu Ijah. Walau bu Ijah bukan sanak keluarganya begitu juga sebaliknya namun mereka sudah seperti keluarga. Yang mempersatukan hubungan mereka adalah kehadiran Akifa. Kini bu Ijah bagai ibu kandung bu Retno.
Kifa tumbuh sehat dan bahagia berada di sisi ibu dan nenek yang menyayanginya. Kini usianya 10th ia adalah anak yang cerdas dan baik hati. Senyum menghias wajahnya yang cerah. Penduduk desa sukamaju memanggilnya anak yang murah senyum dan baik hati. Bowo anak dokter Rendy adalah teman Kifa mereka selalu bersama-sama. Belajar dan bermain bersama. Semua penduduk desa mengetahui bahwa Kifa adalah anak Salma yang di asuh bu Retno. Lambat laun akhirnya Kifa mengetahui hal itu. Ia teramat kaget saat Bayu teman sebayanya yang paling nakal di sekolahnya itu mengatakan bahwa ia hanya anak pungut. Bowo dan Bayu berkelahi Bowo membela Kifa sedangkan Bayu yang cemburu melihat Kifa dekat dengan Bowo gusar dan mencela Kifa anak pungut.
Memang kamu bukan anak bu Retno…ibuku bilang kamu adalah anak pungut ibu yang melahirkanmu sudah meninggal dunia. Kifa menangis sejadi-jadinya ia berlari pulang dan mencari ibu dan neneknya. Bu…ibu dimana! Nek, nenek uhkuhk…tangisnya semakin kencang. Bu Retno dan bu Ijah menghampiri buah hati mereka. Ada apa ndok! Lho kamu kenapa? Bu Ijah dan bu Retno bertanya keheranan pada Kifa. Bu apa betul Kifa bukan anak ibu ya? Apa betul ya bu…tangisnya pilu seiring airmata yang menetes di pipinya yang mungil. Bu Retno dan bu Ijah saling berpandang. Siapa yang bilang nak. Tidak betul itu. Kifa adalah anak ibu anak kesayangan ibu. Bujuk bu Retno memeluknya. Tapi kata Bayu Kifa anak pungut dan ibu Kifa sudah lama meninggal. Kifa sesegukan dalam pelukan ibunya. Ah itu tidak benar nak iya kan nek. Bu Ijah spontan menjawab iya ndok kamu itu anak ibu kok juga cucu nenek. Mereka membelai rambut Kifa. Sini sama nenek tuh ada kolak cenil kesukaanmu sengaja nenek buatkan. Ajak bu Ijah.
Bu Retno mendatangi rumah orangtua Bayu sore itu juga. Hatinya panas melihat putrinya menangis tadi. Walau kenyataan benar Kifa anak angkatnya setidaknya belum saatnya sekarang ia mengetahui karena Kifa masih kecil. Di perjalanan ia berpapasan dengan dokter Rendy. Bu mau kemana sore-sore begini. Sapa dokter Rendy. Eh pak dokter saya mau ke rumah bu Dewo anaknya sudah membuat Kifa menangis tadi. Dokter Rendy melihat ada yang tidak beres ia tau bu Retno jarang marah apalagi sampai seperti ini. Biar saya temani bu. Kan arahnya sama. Tak perlu jawaban ya dokter Rendy sudah berjalan berdampingan dengan bu Retno. Rumah bu Dewo tak jauh hanya 500 meter dari rumah bu Retno. Assalamualaikum…salam bu Retno di depan pagar. Wa alaikum salam balas pak Dewo sambil membukakan pintu pagar. Tumben nih ada apa pak dokter dan bu Retno ke rumah kami. Silahkan masuk. Sapa pak Dewo ramah. Tidak usah biar di luar saja pak, saya mau ketemu sama Bayu anaknya ada di rumah kan pak? Tanya bu Retno. Oh ada si Bayu di dalam lagi nonton. Ada apa ibu ingin bertemu anak saya ya? Tanya pak Dewo lagi. Kali ini bu Retno sudah tak mau berlama-lama basa basi. Ini lho pak tadi anak saya Kifa menangis katanya di ejek anak pungut sama si Bayu. Jelas bu Retno.

O begitu masalahnya. Wah namanya juga anak-anak toh bu. Belum selesai bicara Bayu dan bu Dewo datang. Aduh jeng maaf ya anak saya lancang mulutnya. Kata bu Dewo. Saya datang sebagai seorang ibu. Kalau bisa jangan menghina atau mencela Kifa seperti itu. Kasihan dia menangis terus. Bayu cepat minta maaf sama ibu Kifa. Perintah pak Dewo. Maaf tadi Bayu sudah buat Kifa menangis. Lagian Kifa dekat amat sama Bowo. Aku di cuekin. Cerita Bowo polos. Ya udah lain kali jangan buat Kifa menangis ya. Jawab bu Retno luluh tidak jadi marah. Tak sampai hati memarahi anak kecil yang seumuran anaknya. Bayu sekarang kamu masuk kerjakan tugas sekolahmu. Perintah ibunya lagi. Bayu bersungut-sungut mengikuti perintah ibunya.
Sekali lagi maaf ya jeng bukan maksud saya mengajarkan anak berbicara seperti itu. Lagi pula semua warga di sini mengetahui cerita Salma. Kata bu Dewo rada sewot membela anaknya. Ya saya tahu tapi saya tidak menyangka Bayu anak kecil yang mengatakan ini. Mulanya saya juga paham mereka hanya anak kecil. Tapi ah sudahlah…kata bu Retno. Pak Dewo angkat bicara. Sebelumnya bu Retno harus tau juga bahwa suatu saat pasti akan ketahuan toh bukan rahasia umum lagi. Yah saya sebagai orang tua Bayu minta maaf se besar-besarnya atas kejadian ini. Tak lama kemudian mereka berpamitan.
Dalam perjalanan pulang dokter Rendy menghibur bu Retno. Sudahlah bu jangan terlalu di pikirkan sekarang bagaimana caranya agar Kifa tidak tertekan dengan kejadian ini. Ya saya pun berpikir begitu pak dokter. Saya tidak mau Kifa menjadi murung dia belum siap mengetahui kebenaran ini. Nantilah suatu saat pasti aku sendiri yang akan memberitahukannya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di bawah cahaya senja yang mulai menampakkan diri di peraduannya. Cahaya senja yang mewakili perasaan hati bu Retno yang sedang gundah.
Seminggu kemudian bu Retno dan bu Ijah sepakat dengan keputusan mereka. Bu Retno memilih pindah ke ibu kota menyekolahkan Kifa di sekolah yang terbaik. Awalnya Kifa tidak menyukai keputusan ibunya. Tapi neneknya meyakinkan bahwa ibunya melakukan semua untuk kebaikan Kifa akhirnya ia menuruti dengan berat hati meninggalkan nenek nya di desa. Bu Retno mempercayakan bu Ijah dan mang Ujang mengatur semua pekerja an yang selama sudah ia jalani. Hasil kebun dan sawah semua peninggalan suaminya dengan berat hati ia tinggalkan untuk sementara demi Kifa. Hari itu tepat hari minggu dokter Rendy dan anaknya Bowo turut mengantar sampai ke stasiun. Kifa sedih harus berpisah dengan Bowo yang sudah akrab dengannya.

Kamu harus sekolah yang rajin dan jangan malas ya. Aku tak bisa membelamu lagi jika ada yang mengganggumu. Jaga diri. Ini buku buatmu. Bowo memberikan catatan puisi dan cerita-cerita mereka yang di tulisnya selama mereka berteman. Kifa sangat sedih airmatanya berlinang Bowo membisikkan sesuatu di telinganya kamu jangan sedih jika sedih bacalah buku itu. Kifa mengangguk ia memberikan jepitan rambut kesayangannya berbentuk capung merah. Ia tak tau harus memberikan apa pada Bowo.

Hanya itu yang sangat berharga buatnya. Karena pernah benda itu hilang saat mereka bermain di pematang sawah Kifa merengut sedih namun Bowo berusaha mencari hingga dapat betapa bahagia hati Kifa saat itu. Kereta ekspres tujuan Jakarta membawa Kifa dan bu Retno melaju jauh dan semakin jauh lambaian tangan Bowo menghantar hingga hilang dari pandangan. Kini Bowo dan dokter Rendy berjalan bergandeng tangan. Ayah dan anak ini pulang dan melanjutkan hari-hari berikut seperti biasa. Kehilangan amat terasa kerana mereka sudah seperti keluarga apa lagi Bowo sudah di anggap anak juga oleh bu Retno. Ibu Bowo sudah lama bercerai dengan suaminya. Ia memilih hidup di kota dari pada harus menetap di desa dengan suaminya saat itu. Saat itu umur Bowo 5tahun ia memilih ikut ayahnya. Ibunya pun kembali ke kota dan kini menikah lagi.
Tanpa terasa Kifa sudah terbiasa dengan lingkungan barunya. Ia sekolah di SD Alhazar. Tahun ini ia hanya menyelesaikan 6bulan masa sekolah dasar. Di desa ia adalah murid yang pandai. Kifa tak terlalu sulit mengikuti pelajaran di kota besar. Bulan berganti bulan tahun berganti jua Kifa terdaftar di sekolah menengah pertama Alhazar ia menduduki peringkat lima besar di sekolahnya. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan pandai dan menjadi kesayangan guru-guru. Bu Retno membuka usaha roti di rumahnya.

Sebenarnya bu Retno bukan orang tak mampu hidup di kota metropolitan ini ia hanya mencari kesibukan selama di Jakarta. Di desa ia mempunyai cukup harta yang tak akan kekurangan. Namun ia tak pernah merasa congkak dengan semua itu. Rumah yang di belinya juga tak terlalu mewah. Sederhana. Hasil usaha rotinya membuat ia mempunyai banyak anak angkat yang di asuhnya. Dengan 7orang pegawai ia mengelola usaha kecil-kecilan. Tiga diantaranya adalah anak angkatnya yang masih berumur belasan.
Empat tahun kemudian Kifa sudah duduk di kelas dua SMU tinggal setahun lagi ia mengecap sekolah menengah atas. Bu Retno bermaksud menguliahkan Kifa ke perguruan tinggi di luar negeri. Namun semua adalah keputusan Kifa. Selama Kifa meninggalkan desa kelahirannya. Ia hanya beberapa kali datang berlibur itu pun tak pernah lama. Ia sangat kecewa ternyata Bowo sudah tak menetap di desa. Om dokter begitu biasanya Kifa memanggil dokter Rendy mengatakan padanya Bowo ikut om nya di Jogya sejak SMP.

Sejak itu ia sering merindukan Bowo, buku tulisan Bowo selalu menemaninya. Terkadang airmatanya jatuh tanpa ia sadar. Betapa kerinduannya pada Bowo begitu besar apakah ini yang di sebut jatuh cinta? Ia tak dapat melupakan begitu saja bayangan wajah Bowo selalu hadir. Beberapa pria teman sekolah menaksir Kifa mengajak menjalin hubungan tetapi semua di tolaknya pelan-pelan. Ia tak ingin di cap wanita yang angkuh. Tetapi memang ia tak merasakan perasaan yang sama seperti yang ia rasakan bila mengingat Bowo. Saat bu Retno dan Kifa jalan ke toko buku gramedia mereka berpapasan dengan bu Dewo. Alangkah terkejutnya bu Retno. Hay jeng Retno walah ketemu lagi. Sapa bu Dewo girang. Eh iya bu Dewo lagi beli buku ya. Bagaimana kabar desa Sukatani? Jawab bu Retno. Wah desa kita semakin makmur lo jeng. Aku kesini karena Bayu sekolah di sini juga. Tiga bulan sekali saya harus bolak balik Jakarta. Katanya penuh semangat. Wah ini Kifa to jeng, aduh ayu ne sing gadis iki. Sekarang sudah besar bertambah cantik saja.

Tiba-tiba laki-laki muda menghampirinya. Tubuhnya tinggi dan tegap. Ibu kemana saja sih dari tadi Bayu cari. Eh Yu ini kamu masih ingat tidak tanya bu Dewo. Ia mengamati wajah bu Retno. Oh ini bu…ia menjabat dan mencium tangan bu Retno. Kamu sudah besar dan setinggi ini sekarang ya. Giliran Kifa yang berbicara. Bu..hayo ! Eh Kifa salam sama bu Dewo yang dulu di desa apa kamu sudah lupa nak? Kifa menyalami dam mencium tangan bu Dewo. Hey ini Kifa yah? Kamu Kifa kan? Bayu mengulang ulang pertanyaannya. Kifa hanya mengangguk. Kamu sudah lupa sama saya? Saya Bayu. Kata Bayu bersemangat. Kifa lupa pada si Bayu yang suka sekali usil padanya. Kalau tidak ada Bowo entah bagaimana dia. Kali ini bukan anggukan tapi gelengan kepala yang Kifa lakukan. Bu Dewo mengajak makan malam di restoran sea food dekat gramedia.

Sepanjang acara makan malam itu Bayu tak hentinya menatap wajah Kifa. Ia terpesona akan kecantikannya yang sejak dulu sudah membuat nya penasaran. Kali ini Bayu tak akan tinggal diam. Apalagi kini mereka sama-sama berada di Jakarta. Kamu sekarang sekolah dimana? Tanya Bayu. Kifa hanya tersenyum. Tak menjawab pertanyaannya. Namun buat Bayu tak masalah senyum saja dia sudah puas merasa senang. Bu Retno dan bu Dewo asik bercerita tentang perkembangan desa. Kifa mengalihkan perhatian dengan membaca buku yang baru saja ia beli. Bayu memperhatikan buku yang ada dalam genggaman tangan Kifa yang putih mulus. Oh ternyata kamu suka membaca tentang otobiografi ya. Tanya Bayu tak menyerah. Kifa menganguk lagi. Hey sedari tadi kamu hanya mengangguk dan menggeleng apa suara kamu lagi serak? Iya kembali menggeleng.

Kamu jadi berubah Kifa bukan lagi Kifa yang dulu yang periang dan penuh tawa. Kali ini Kifa menatap mata Bayu. Saya tak pernah berubah tetap seperti yang dulu. Girangnya Bayu kini pertanyaannya membuat Kifa membuka suara. Oh maaf kalau begitu saya kira kamu sudah berubah.
Malam menampakkan wujud kegelapan bagai sang raja yang bertahta di singasananya. Bayu masih terpesona wajah cantik Akifa. Ia mendesak ibunya minta no telepon rumah dan alamat Kifa. Bu Dewo hanya manggut-manggut. Ia sudah tahu sejak kecil Bayu sangat menyukai Kifa. Ini kesempatanku merebut hatinya bisik Bayu dalam hati.
Bu siang ini Kifa mau ke gramedia ada terbitan buku baru karangan penulis EWA. Boleh ya bu…bujuk rayu Kifa pada ibunya. Kamu perginya sama siapa nak? Ibu tidak kasih kalau kamu sendiri. Jawab bu Retno. Bu Kifa sekarang bukan anak kecil lagi harus di jaga, baiklah Kifa ajak Uni dia pasti mau menemani. Ya sudah sana mandi dulu ya. Suruh bu Retno sambil memeluk Kifa yang masih suka bermanja-manja pada ibunya.
Tepat jam 3 siang Kifa dan Uni keluar rumah. Tanpa sepengetahuan Kifa di belakangnya Bayu dengan mengendarai sepeda motornya diam-diam mengikuti Kifa dan Uni hingga ke gramedia. Setelah membayar taxi Kifa menggandeng tangan Uni mereka menuju ke lantai dua. Di lantai dua Kifa dan Uni berpisah. Kifa mencari buku karangan penulis kesayangannya. Sementara Uni sibuk dengan bacaan novel Barbara Cartland.
Tiba-tiba pinggang Kifa di tarik seseorang dengan cepat. Reflek Kifa berbalik pada orang yang memeluk pinggangnya. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci Bayu menatap mata Kifa namun hanya sesaat saja karena Kifa langsung menghindarinya. Maaf saya hanya bercanda kamu tak pernah bosan ya baca buku. Tanya Bayu. Kali ini Kifa betul-betul tak mau mengajaknya berbicara,tidak sama sekali. Ia tak suka dengan cara Bayu seperti itu. Kamu marah ya. Saya sudah minta maaf kamu tak mau memaafkan.

Sungguh tega. Tapi tetap Kifa tak bergeming sedikit pun. Uni menghampiri mereka. Fa ini novel yang…kifa menarik tangan Uni menjauh dari Bayu. Ayo kita pulang saja. Ajak Kifa buru-buru. Uni kebingungan melihat Kifa dan Bayu. Siapa gerangan cowok tampan di samping Kifa? Kayaknya mereka sudah akrab kelihatan gaya cowok itu memandang Kifa sangat mesra. Kifa jangan pergi dulu setidaknya biarkan saya traktir makan bersama temanmu. Ajak Bayu berjalan di samping Kifa. Kami tidak lapar kok terima kasih. Jawab Kifa. Bagaimana kalau sekedar minum jus di sana. Tunjuk Bayu pada kafe mini tempat jualan jus, ia tak mau menyerah. Tunggu dulu ini apa-apaan sih? Kamu siapa? Dan ngapain maksa-maksa orang? Uni sudah tak sabaran. Melihat temannya sudah seperti itu akhirnya Kifa mengalah. Baiklah kalau begitu. Bayu kegirangan dalam hati. Ia tak perduli pada pertanyaan Uni tadi. Mereka sudah memesan jus. Oyah Ni ini kenalin dulu dia teman kecilku saat masih di desa. Bayu Wicaksono. Uni menyalami tangan itu. Saya Uni teman sekaligus sahabat Kifa. Sebentar saya tinggal dulu mau ke toilet. Kata Kifa.

Sementara itu Uni dengan gencar mel;ayangkan berbagai pertanyaan pada Bayu. Sepuluh menit kemudian Kifa datang. Kini mereka bertiga. Kifa tetap diam. Seperti biasa di dalam tas ia mengambil buku bacaannya. Tapi Bayu secepat kilat memegang jemari tangan Kifa alhasil Kifa kaget. Kamu jangan begini Yu. Sopan sedikitlah. Kata Kifa mulai gusar. Maaf bukan bermaksud jahat Fa, saya hanya bercanda. Lagi-lagi bercanda ah dasar memang tak berubah sejak kecil. Dalam hati Kifa menggerutu. Settengah jam kemudian mereka berpisah. Kifa dan Uni pulang ke rumah tanpa membeli buku. Bu Retno heran Kifa pulang tanpa membeli buku. Lho nak katanya beli buku,mana bukunya? Bu tadi Kifa bertemu si usil itu lagi. Siapa yang kau sebut usil? Itu si Bayu dia ada di gramedia. Dia mengajak minum jus dan ngobrol. Iya tante kami tidak jadi beli buku habis Kifa lagi ngambek tuh. Ya udah lain kali saja masih banyak waktu kan. Bujuk bu Retno.
Dalam kamar tidur Kifa dan Uni seperti biasa belajar bersama. Di sela-sela waktu belajar Uni memaksa Kifa menceritakan tentang masa kecil dulu saat di desa. Fa, waktu di desa apa Bayu sikapnya sejak dulu begitu ya? Kayaknya dia cowok yang baik cukup tampan dan..hey Ni kamu suka sama dia? Tanya Kifa mengagetkan Uni. Ah nggak! Siapa yang bilang aku suka? Dia sepertinya suka sama kamu Fa dari cara dia memandangmu aku bisa melihat ada cinta di sana. Jawab Uni merayunya. Hahhh sudah sudah mau belajar nggak nih, seminggu lagi kita ujian jangan bercanda ah. Kifa kembali membaca buku.
Ujian kenaikan kelas usai lega hati Kifa, harap-harap cemas menanti hasil perjuangannya. Saat ia membuka buku raport dan melihat nilai-nilainya Alhamdulillah aku naik kelas. Bu kini aku naik kelas tiga. Aduh senangnya hati bu Retno,Kifa tak pernah mengecewakan. Bu Retno selalu yakin akan kemampuan anaknya. Untuk merayakan kegembiraan ini ibu ajak kamu makan di luar, terserah Kifa mau makan apa. kata bu Retno. Oh ibuku sayang, aku sayang padamu. Jawab Kifa mencium pipi bu Retno. Tak lupa Kifa mengajak Uni. Mereka jalan-jalan dan makan di mall yang selalu mereka kunjungi. Malam itu Kifa menikmati kegembiraannya.
Suatu malam saat hujan lebat bu Retno belum juga pulang dari acara bazaar yang di ikuti oleh ibu-ibu PKK. Tiba-tiba pintu di ketuk seseorang. Pasti ibu. Kata Kifa girang. Ia mengajak bi Siti membukakan pintu ibunya. Dug…hati Kifa tersentak kaget yang berdiri di depan pintu bukan ibunya melainkan Bayu yang basah kuyup. Maaf dari rumah teman sekalian singgah. Katanya. Ya udah masuk aja dulu. Kamu sampai basah kuyup begini. Kifa mengajaknya masuk dan menyuruh bi Siti membuatkan secangkir teh hangat dan handuk. Ini keringkan dulu badanmu. Kifa memberikan handuk padanya. Trima kasih Fa. Jawabnya.
Agustus 2007

Bersambung…………………………………………..

Published in: on 25 Agustus 2007 at 5:35 pm  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/08/25/kidung-cinta-akifah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. bagus ceritanya.. kapan disambungnya..

  2. Asep,maaf yah belum sempat buat sambungannya.Mungkin setelah saya melahirkan baru aktif lagi. Makasih udah sudi mampir dan mengomentari tulisan saya yang biasa ini.Salam kenal juga buatmu.Wslm.

  3. kotabaru brurr….. paiman cs. yoi..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: