Kini Namaku Latifah Fauziah


mantap-sayang.jpg By : Fira Rachmat

Angin dingin yang mencucuk kulit lembut Luciola yang hanya mengenakan baju kaos tanpa jaket malam itu tak ia hiraukan. Dinginnya malam itu terasa hingga ke tulang. Tapi, Ola tetap memacu motor Honda menembus gelapnya malam. Dalam hatinya ia berbisik semoga Mei mau ku ajak pulang.

Sejak mama tiada adiknya memilih meninggalkan rumah. Motor pinjaman dari teman terus menelusuri jalan yang berkelok-kelok. Di sepanjang sisi jalan Veteran berderet tenda-tenda yang menjajakan aneka makanan. Aromanya yang sesebagai dap menimbulkan rasa lapar. Tak berapa lama Ola tiba di tempat tujuan. Diparkirnya motor pinjaman itu di halaman depan. Dari luar terdengar tawa Mei terkekeh-kekeh. ”Kayanya sedang ngobrol lagi dengan Nani si cabe rawit itu, ” tebak Ola dalam hati.

“Assalamualaikum!” suara salam Ola membuat mereka di dalam rumah diam sesaat.
“Wa’alaikumsalam. Siapa?” tanya dari dalam.
“Eh, saya kira siapa. Yuk masuk. Mei… ! Ola datang nih,” teriak Nani memanggil Mei.
“Dari mana, La?” tanya tante Nani.
“Dari rumah…. Tante Emi ada?” tanya Ola pada Nani.
“Mama lagi nginap di Pare-pare ada pesta besok. Kau perlu sama mama atau Mei?” Nani menggoda.
“Ya perlu dua-duanya lah,“ jawab Ola.

Tak lama Mei keluar menyapa Ola. Selain Mei, rupaya masih ada beberapa orang yang ikut di belakangnya. Mereka semua memandang Ola dengan heran.
“Datang dengan siapa La?” tanya Mei kemudian.
“ Dengan motor,” canda Ola “ya sendirilah!” jawabnya kemudian. Mata Ola tertuju pada empat laki-laki di depannya yang tadi mengikuti Mei.
“ O iya La, kenalkan ini teman-temanku Rasid, Awal, Udin dan yang itu kak Ervan.”

Mereka tersenyum dan saling jabat tangan satu per satu. Tapi ketika Ola berjabat dengan cowok yang terakhir, senyumannya seakan mengandung magnet dan membuat jantung Ola dag-dig-dug tidak keruan. Nani mengatakan bahwa mereka sedang diskusi untuk acara bazaar yang akan mereka selenggarakan hari minggu nanti. Mei ikut panitia. Dan ketuanya si Ervan itu. Tidak lama kemudian Ola mengajak Mei ngobrol di luar. Ola membujuknya pulang, tapi Mei tidak mau dengan alasan yang sama seperti biasa. Memang tante Emi dan om Soni bukan orang lain. Om Soni adalah sepupu dari mama mereka. Meskipun begitu, kekhawatiran Ola ada alasannya kenapa ia selalu memikirkan Mei.

Di lingkungan tempat tinggal tante Emi selalu terjadi perang antara warga. Cuma Mei yang keras kepala. Ia tidak mau di atur dan itu membuat Ola resah. Karena tidak mempan dibujuk, Ola akhirnya memutuskan pulang. Nani dan Mei mengantar sampai ke depan di ikuti teman-temannya. Sekilas wajah yang membuat debar jantung Ola tak keruan tersenyum lagi pada Ola. Wajahnya cowok itu kearab-araban mirip artis Ahmad Albar. Senyumnya seakan tembus memanah ke ulu hati Ola dan itu membuatnya jadi tak tenang.

”Ada apa ini,” bisik Ola dalam hati. Dia sudah berusaha tidak memperdulikan senyum maut Ervan yang dari tadi telah membiusnya hingga terasa lemas. Cepat-cepat Ola menstarter motor Honda milik temannya.
“Wah, aku bisa kacau dan gak enak jika berlama-lama di sini,” bisik Ola dalam hati. Ia mencoba menjauh dari orang yang seenaknya aja memamerkan senyum mautnya. Dalam hati Ola mengutuk dirinya, “Huh, ngapain juga aku menatapnya. Dasar bodoh, bodoh!!!”

Sesampainya kembali di rumah Ola tidak bisa memejamkan mata. Ia resah gelisah. Padahal jarum jam sudah menunjuk angka 2.
“Ah…, kenapa jadi begini? Apa yang terjadi denganku?” Ola sengaja pura-pura tidak tau alasannya agar tidak bertambah lagi pertanyaan lain. Namun untuk kesekian kalinya Ola harus menghadapinya juga.
“Tidak! Aku harus membuyarkan semua yang mengusik pikiranku. Tidak boleh ia menguasai hatiku. Seenaknya saja ia masuk tanpa diundang dan mengutak-atik perasaanku. Bah…siapa dia? Teman bukan, apalagi pacar. Kenal pun baru karena diperkenalkan Mei. Lucu! Kenapa aku harus terpengaruh oleh orang asing?” gejolak hati Ola yang larut dalam kekesalan. Setelah lelah menyangkal dan berdebat sendiri dalam hati, akhirnya Ola terlelap juga.
Pagi harinya Ola jadi telat ke sekolah karena semalam suntuk sibuk dengan perang batin yang membuatnya gelisah.
“Jangan sampai aku ketemu dengannya lagi. Kalau pun ketemu juga aku tak akan memandang wajahnya.” janji Ola di hati. “Kenapa aku memikirkan akan bertemu? Goblok juga aku ini. Sialan!” maki Ola lagi di hati.

“Uwwaaahh…,” Ola menguap menahan kantuk gara-gara semalam kurang tidur. Karena melamun terlalu serius Ola tak menyadari suara Pak Yosep menegurnya “Luciola! Kerjakan soal no 5 di papan” tegurnya dengan logat Bataknya yang kental. Bukan main Ola kaget ketika namanya di panggil. Celakanya di antara soal-soal itu tak satu pun masuk di otaknya. Sejak tadi otaknya sibuk dengan soal-soal lain.

“Yang nomor berapa Pak?” saat Ola sudah berdiri di depan papan tulis kebingungan.
“Itulah kau. Mengapa tidak sekalian kau bawa bantal ke sekolah ha!!!” gelegar suara Pak Yosep menggema di seantero kelas. Ola tak berani menatap matanya. Teman-teman yang lain juga diam ketakutan.

“Apa saja yang kau kerjakan semalam Hah? Kali ini jangan lagi adik-adikmu dijadikan alasan. Mau jadi apanya kau ini? Ujian Ebtanas tinggal sebulan lagi. Tapi kau….!” Pak Yosep tak meneruskan kalimatnya. Diambilnya kapur dari tangan Ola dan Ola diusir keluar dari kelas.

Pak Yosef guru terangker dan terkenal disiplin. Dan yang parah ia mengajar matematika sekalaigus jadi wali kelas Ola di kelas III. Ola tidak menyalahkan gurunya. Dirinyalah yang salah. Memang tugas seorang pendidik menegur siswanya yang teledor. Tapi, harus bagaimana lagi. Sejak mama Ola meninggal beban tanggung jawab harus dipikul sendiri termasuk mengurus adik-adiknya. Akibatnya, sering sekolah pun ia nomor duakan. Di tambah lagi biaya sekolah yang hampir selalu terlambat bahkan menunggak hingga beberapa bulan membuat Ola makin puyeng. Belum lagi karena Ola sekolah di sekolah swasta, tentu SPPnya selangit.

Mereka di sekolahkan di sekolah yang ketat pendidikan agamanya. Mamanyalah yang berperan penting dalam menyekolahkan mereka. Mamanya memilih sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, sejak mamanya pergi untuk selamanya kehidupan mereka jadi berubah. Papanya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Padahal pekerjaan papanya hanyalah seorang montir.

Saat mamanya masih hidup terkadang mamanya membantu dengan berdagang. Kini semua berantakan. Tapi, Ola tak perduli. Ola tak mau menangisi apa yang sudah terjadi. Ola harus mampu menghadapi semua. Ola tahu dalam umur yang semuda itu apa yang bisa ia lakukan? Ola hanya berharap semua bisa berjalan lancar. Yang ia cemaskan justru masa depan adik-adiknya. Mereka masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Selama ini mereka terlalu di manja dan mendapat limpahan kasih sayang mama. Karena itu, kepergian mama membuat mereka amat terpukul. Saat itu mereka hanya bisa menangis dan menangis. Hari demi hari bulan demi bulan begitu dan begitu saja.Manakala hati Ola sedih, ia hanya bisa memandang foto mamanya. Tapi, menangisi yang sudah terjadi tak membuahkan apa-apa. Berapa banyak sudah air mata yang tumpah dan mata memerah hingga bengkak tetap tak bisa mengembalikan menghidupkan mama.Ola merenungi kesedihannya. Papa? Ya, masih ada papa, tapi…kasih dan sayangnya hanya untuk wanita yang menjadi pengganti mamanya.

Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Istri yang Pak Frans, papa Ola, peristri juga bukan wanita lain. Dia masih terhitung keluarga. Ia seorang janda dengan dua anak. Akibatnya, beban Pak Frans pun semakin bertambah dengan hadirnya saudara tiri Ola. Ola hanya seorang anak yang tidak punya pilihan lain selain menjalankan hidup apa adanya. Ola harus mengalah. Mengurus kesepuluh adik-adiknya yang lain. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah Ola mengutamakan mengurus adik-adiknya. Setelah semua beres barulah Ola bisa ke sekolah. Sementara kakaknya yang pertama sudah menikah jadi mau tak mau Ola lah yang tertua pengganti dia. Karena tadi Ola disuruh keluar, terpaksa ia menunggu hingga jam pelajaran Pak Yosep berakhir. Sambil menunggu, Ola akhirnya pergi ke kantin sekolah. Ibu kantin yang sangat baik itu memberinya roti tanpa bayar. Karena kebaikannya Ola menawarkan diri membantunya mencuci piring dan mangkok-mangkok bakso. Ola tidak malu. Baginya itu bukan pekerjaan yang hina. Apalagi ibu kantin sesudahnya mengupahnya dengan semangkok bakso.” Lumayan daripada mengemis atau berutang,” kata Ola dalam hati.

Sejak saat itu, jadilah Ola asisten ibu kantin. Tugas utamanya sebagai pencuci piring. Karena itu, tiap jam istirahat Ola tidak pernah kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Ia tidak ikut bermain, bercanda, atau membicarakan hal-hal yang menarik seperti film dan buku-buku novel terbaru. Apalagi menggosip sesama teman tidak bisa Ola lakukan. Meskipun begitu, tidak berarti Ola tak mempunyai teman sama sekali. Dari sekian banyak siswa dalam kelasnya Selia dan Grace juga Sari adalah teman yang baik, Tapi hanya Sari yang paling dekat dengannya. Sarilah yang selalu membantunya meminjamkan catatan atau buku cetaknya. Sari teman sebangku Ola. Saat ujian tiba ia selalu mengajak Ola belajar bersama membahas soal-soal ujian umum atau ulangan-ulangan harian. Kebaikannya tak pernah bisa Ola lupakan. Mereka menjadi sahabat sejak di SMP. Ia selalu jadi pembela saat teman lain mencemohnya.Suatu hari di kantin saat jam istirahat, Ola dan Sari makan bersama. Vonny dan gengnya datang menghampiri.

”Luciola!, masih tuh masih ada mangkok kotor di ruang guru,” kata Vonny dengan nada mengejek.
”Eh sekalian punyaku ini,” kata Leni sambil meletakkan mangkok bekas makannya di atas meja tempat Ola dan Sari sedang makan.
“Hey! Kalian tidak punya perasaan sama sekali” Sari membela.
“Sudahlah Sar. Biarin aja tidak apa-apa kok” kata Ola.
“Yang aku ajak bicara bukan kamu kok. Kenapa kamu yang sewot? He! Gak usah sok deh” lanjut Vonny berang pada Sari
“Iya, kalian berdua setali tiga uang “ celutuk Leni kemudian. Setelah itu geng orang kaya dan sok itu pergi meninggalkan Sari dan Ola.
“Sar, seharusnya tidak usah kau ladeni mereka. Biarin aja. Nanti juga mereka diam sendiri,” kata Ola membujuk Sari.
“Tapi tindakan mereka sudah keterlaluan. Apa kau tidak sakit hati?”
Ola menggeleng “Tidak Sar. Aku tidak sakit hati kok. Tenang aja oke?”
Ola sebenarnya sangat terharu, tapi ia tidak mau nampakkan keharuannya itu. Ola ingin Sari tidak mencemaskannya.
“Ya udah tapi kau tidak sedih kan?” Ola gelengkan kepalanya lagi.
”Sari, Sari. Senangnya punya teman yang memperhatikanku,” bisik Ola di hati. Ada rasa haru dan senang berbaur jadi satu di hati Ola. Inilah arti sebuah persahabatan. Teman sejati yang senantiasa menghibur di kala duka dan tertawa bersama di kala senang.

Suatu sore, saat sedang membersihkan rumah pintu di ketuk seseorang. Alangkah kagetnya Ola. Yang datang adalah si empunya senyum maut itu Ervan. Kaki Ola serasa tak bisa bergerak. Seluruh persendiannya kaku seketika.
”Ada maksud apa dia tiba-tiba saja datang? Atau jangan-jangan dia membawa kabar tentang Mei? Ah, dari pada hanya asal tebak lebih baik tanya langsung,” suara hati Ola penasaran.
“ Si… silakan masuk !” kata Ola kaku.
“ Maaf. Aku to the point saja. Kedatanganku mengundangmu di acara bazar Minggu besok “
“ Iya tapi silakan masuk dulu. Nanti bicaranya di dalam saja”
“ Terima kasih biar di luar saja. Lagian aku buru-buru nih”
“ Tapi aku tidak pesan kuponnya kok”
“ Memang tidak. Aku kan mengundang bukan menyuruh beli kupon”
“ Ow, maaf maksudnya aku di kasih kupon bazaar nih?”
Dia tersenyum lagi. Alamak. Ola tersipu. Senyumnya itu membuat Ola salah tingkah. ”Wajahnya yang tampan pasti membius para gadis yang memandangnya. Siapa kira-kira wanita yang tengah menjadi kekasihnya?” bisik Ola penasaran. Dia datang bersama temannya yang waktu itu di kenalkan Nani, Si Udin.
“Din , kupon buat kakaknya Mei di mana?” tanya Ervan pada Udin.
“Katanya Mei jangan sampai tidak datang. Dia bilang datangnya sendiri saja”
“Maksudnya tidak boleh bawa teman?”
“Boleh-boleh saja tapi harus beli kuponnya, iya kan Van?” Udin menyikut Ervan
“Apaaa? Ehh iya iya, “ jawabnya tergagap-gagap.
“Ya udah kami tunggu malam minggu. Permisi kami pulang dulu ya”
”Ah ternyata dia kelihatan kaku juga,” Ola tertawa sendiri dalam hati.

Becak yang Ola tumpangi jalannya terseok-seok. Nafas bang becak yang memburu terengah-engah membuat perjalanan dari rumah ke kios Arini terasa agak lama. Abang becak yang tua renta mengayuhkan becak sangat pelan. Meski agak membosankan, Ola mencoba menikmati perjalanan. Hampir sebagian wilayah kota Makassar di penuhi dengan becak. Jadi, selain bisa menikmati pemandangan ongkosnya pun murah dan bisa tawar menawar. Tak berapa lama Ola sampai di kios Arini. Ia sudah di tunggu Mei di depan kios. Setelah itu, mereka langsung menuju lantai dua dan gabung dengan yang lain. Di ujung meja Ervan melambaikan tangan. Mei sekilas berbisik, “Salam dari kak Ervan.” Ola tersentak kaget seketika.

“Ah, jangan sembarang bicara.”
“Serius! Ngapain bohong. Ini bukan asal bicara,” kata Mei layaknya mak comblang.
“Sudah ah. Coba lihat paket yang kalian hidangkan,“ kata Ola mengalihkan pembicaraan.
“ Kak Ervan! Sini dong!” seru Mei memanggil.
“Apa-apaan sih Mei,“ tapi terlambat yang di panggil sudah di depan mata. Mei mengerling.
“Bagaimana pendapatmu?”
“Apanya?” tanya Ola bingung.
“Acara Bazar ini?” jawabnya. Berhadapan dengan Ervan membuat Ola agak kikuk.
“O bagus. Bagus. Ramai. Juga banyak sekali peminatnya ya” jawab Ola sekenanya.
“ Sebentar. Jangan pulang dulu ya. Kita ada acara khusus lagi”
“ Tapi aku kan bukan panitia. Lagi pula aku tidak bisa terlalu lama di sini”
“Aku tau kau akan menghindar,” jawabnya sama sekali tak kuduga.
“ Bukan begitu. Aku tidak boleh pulang larut malam. Adik-adik di rumah tak ada yang urus”
“ Nanti saya antar pulang. Jangan takut” katanya kemudian. Nani dan Mei menggoda.
“ Wei, orang pacaran bukan di sini tempatnya.“
”Pacaran????” Ervan dan Ola tersipu malu.
“ Nah sekarang tunggu apa lagi. Yuk kita makan. Lapar nih,” ajak Nani sambil senyum.

Itulah malam minggu yangg berkesan. Indah dan tak dapat Ola lupakan. Setelah selesai acara Ervan benar-benar mengantar Ola pulang. Selama perjalanan Ervan tak henti-hentinya bertanya apa aku menyukaiku? Apa aku mau menjadi kekasihku? Apa aku sudah punya cinta lain? Tak bisa di sangkal lagi saat itu Ola pun menyukainya. Tapi apakah iya ini yang di sebut jatuh cinta? Ola tidak yakin.
”Ah..barangkali dia tidak serius atau barangkali dia hanya bercanda untuk menggodaku,” Ola berpikir begitu. Tapi setibanya di rumah, Ervan benar-benar meminta jawaban darinya saat itu juga. Ola terkesima akan keseriusannya. Saat Ola menatap matanya dan di sana, di dalam mata itu, Ola merasakan hangatnya bias sinar mata Ervan yang teduh dan mengundang hatinya masuk ke dalam jauh… Ola tak kuasa menjawab tidak.
”Aneh,” kata Ola. Padahal pertemuan mereka begitu singkat. Tapi, Ola seakan sudah mengenalnya sejak lama. Ola hanya bertemu dua kali. Itu pun kalau tidak salah saat Ola mencari Mei di rumah tantenya malam itu. Memang Ervan mengakui kalau ia pernah menjalin cinta dengan wanita lain, tapi itu tak bertahan lama. Sejak bertemu Ola, Ervan merasakan ada sesuatu yang lain yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Sesuatu itu datang tiba-tiba. Dan Ervan pun tak bisa menghindari. Tak berapa lama setelah Ervan mengantar pulang, Ola di dalam kamarnya terbuai dengan sejuta kata-kata manis. Saat di depan rumah hendak pulang Ervan membisikkan

“Aku sudah jatuh cinta saat pertama melihatmu. Selamat tidur. Mimpikan aku ya say.”

Malam ini Ola membingkai kalimat itu di lubuk hatinya. Dan mulai malam itu Ola memajang kata-kata cinta Ervan di lubuk hatinya yang terdalam. Ola jatuh cinta. Jatuh cinta pada pria yang selalu membuatnya serba salah. Ola tahu ia mengakuinya. Keesokan harinya pertemuan mereka terus berlanjut. Seterusnya dan seterusnya. Dari seminggu sekali berubah menjadi seminggu dua kali bahkan kadang saat hati di landa kerinduan mereka tak perduli dengan hari. Setelah sebulan hubungan Ola dan Ervan semakin mesra saja. Mei, Nani, Udin, Awal, dan yang lain menggelari mereka pasangan yang serasi. Namun Ola harus menghadapi kritikan pedas dari ibu Ervan. Ia tidak menyukai hubungan mereka berdua. Ola dikatakan tidak bisa berhubungan dengan anaknya karena agama.

Hari-hari berlalu. Tak terasa Ebtanas sudah di depan mata. Semua siswa sekolah mempersiapkan mental dan belajar keras agar lulus. Begitu pun Ola. Ia mempersiapkan semua buku catatan dengan lengkap. Sari temannya bersedia meminjamkan buku cetaknya untuk di fotokopi. Daripada beli lebih baik menyalin yang penting-penting membuat rangkuman dari setiap bab yang di pelajari. Tetapi Ola terbentur dengan pembayaran sekolah SPP yang belum lunas selama 5 bulan. Uang ujian yang hanya 30 ribu saja Ola belum membayarnya. Hingga suatu hari di sekolah, “Luciola!” Pak Lius memanggil dan menyuruh Ola ke ruang tata usaha. Ola di interogasi bak seorang yang terpidana, “Bagaimana kau ini? Sudah 5 bulan kau belum bayar SPP-mu. Saran bapak secepatnya kau selesaikan kalau mau ikut ujian nanti.”Ola hanya menunduk tak bisa berbuat apa-apa. Mau bicara juga harus kasih alasan yang bagaimana lagi? Mereka tentu tak kan percaya. Ola keluar dari ruang TU basah kuyup dengan keringat. Apa papa benar-benar kesulitan keuangan hingga tak mampu membayar tunggakanku? Batin Ola sedih. Sementara adik-adik juga ada yang terlambat pembayarannya. Ah semoga mereka tidak sepertiku. Belum lagi abis lamunannya Sari sudah di sisinya. Dia menghampiri Ola dengan was-was.

“Kau di panggil lagi sama pak Lius?” tanyanya sembari memberikan saputangannya.
“Iya Sar. Tapi, tidak apa-apa kok. Ngomong-ngomong kau sudah dapat nomor ujian?”
“Nanti aku kembalikan saputanganmu ya Sar. Aku ke kantin dulu bantu bu Ros.

Sari tau Ola tidak di kasih nomor ujian dan dia juga tahu sebabnya. Tapi bagaimana ia bisa menolongnya, sedangkan dia dan keluarganya juga hidupnya pas-pasan. Sari anak yatim mamanya hanya pekerja salon dan dua saudaranya juga masih sekolah. Ola gak mau terus-terusan ditolong Sari. Sudah cukup sekali Ola di bantu bayar SPP dan Osis. Ola tak mau berhutang dan juga tak mau melibatkan masalahnya pada orang walaupun pada Sari sahabatnya.Kesedihannya itu ditumpahkan dengan membantu bu Ros mencuci piring-piring. Ola sengaja pergi agar Sari tidak melihatnya menangis. Ada sesuatu di dalam hatinya yang ingin dikeluarkan tapi tak mampu. Dengan segala daya upaya di tahan air matanya agar tidak tumpah. Bayangan mama tiba-tiba hadir tersenyum padanya.

Karena terbuai kesedihannya Ola tidak sengaja memecahkan gelas. Untung bu Ros orang yang baik. Ola tidak dimarahinya. Ola melangkah lunglai pulang ke rumah. Di dapati adik-adiknya menyodorkan surat dari wali kelas masing-masing. Ola membaca isinya dan otak pun tak lagi sanggup berpikir. Ke tujuh adik-adiknya semuanya mendapat surat panggilan orang tua. Pasti mengenai SPP! Aku harus bicara sama papa malam ini juga. Tekad Ola bulat. Papanya selalu susah di ajak bicara apa lagi menyinggung biaya sekolah mereka. Sementara papanya juga hanya memikirkan anak tirinya dan istrinya.

Ola sangat membenci papanya karena sejak mama mereka tiada papanya selalu menomor satukan ibu tiri dan saudara tirinya. Walau pun yang menjadi istri papanya adalah tante sendiri, tapi justru itu yang makin membuatnya benci. Sebenarnya apa dosa kami apa salah kami? Kami tak minta di lahirkan ke dunia ini. Mengapa mau punya anak banyak kalau tidak mau mengurusnya? Dulu mamalah yang mengurus kami. Tapi, sekarang? Ola tak kuasa menahan semua yang di alami. Malam ini Ola berhadapan dengan papanya. Di perlihatkan semua surat panggilan dari guru. Namun jawabnya hanya sepatah saja. Nanti! Ola berang. Ia memberanikan dirinya menjawab “Kalau aku tidak sekolah juga tak apa, pa…! Apa adik-adik semua juga harus seperti ku?” suara Ola tanpa sadar.

“ Papa bilang nanti ya nanti! Belum ada uang. Lagian adik-adikmu kerjanya suka bolos. Jadi, lebih baik sekalian tidak usah sekolah lah,” suara Pak Frans membentak keras.
“Tapi mereka bukan sengaja pa…Mereka malu selalu di tagih dan tagih. Jangan salahkan mereka dong. Yang salah papa. Punya anak banyak, tapi tak mampu menyekolahkan”
Dan, ”Plakk!!!!”, tamparan melayang ke pipi kanannya. Ola tersentak kaget. Sakit kena tamparan masih bisa ditahan. Tapi kata-kata papanya yang menyatakan tidak usah sekolah amat menyakitkan. Kejam nian…Sungguh kejam. Kok papanya tega pada anaknya? Getir Ola dalam hati.Ia berlari ke kamarnya. Kesedihannya membuat Ola menangis. Tak sadar mata memerah dan bengkak. Dan pada saat itulah Ervan bertandang ke rumahnya. Ola bingung bagaimana menjelaskan matanya yang bengkak. Kalau bilang digigit serangga dia juga tak akan percaya. Ah apa harus ku katakan yang sesungguhnya? Tidak dia tak boleh tau semua yang terjadi. Dia hanya pacar bukan siapa-siapa.
”Semoga Mei juga tak banyak bicara tentang keluarga ini,” batin Ola menenangkan diri.
“Say, kenapa matamu merah dan bengkak begitu? tanyanya penuh curiga.
“ Ah tidak apa kok. Semalam di gigit serangga,” jawab Ola.
“ Serangga? Kau jangan bohong. Katakan padaku. Ada apa? Apa yang terjadi?”
Di pegangnya tangan Ola dan di tatapnya matanya seolah Ervan mencoba mencari kebenaran di sana.
“ Aku tidak apa-apa Van. Sungguh. Jangan terlalu dipikirkan” jawab Ola sambil memalingkan pandangannya ke tempat lain. Namun Ervan tidak puas dengan jawaban Ola dia bertanya lagi Kali ini lebih serius.
“ Aku mencintaimu tulus apa adanya. Dan aku tidak perduli walaupun harus menentang ibuku” Mendengar kata-kata Ervan air mata Ola tak kuasa dibendung. Tapi, Ervan mengira karena sikap ibunya.
”Husshh!!! Jangan kau ucapkan lagi kata itu. Kau tau kalau menyakiti hati seorang ibu adalah dosa yang tak terampuni? Ingatlah Van aku merindukan sosok ibu, sosok mama. Bukan hanya aku, tapi semua saudaraku amat terpukul di tinggal mama. Selama ibumu hidup berbaktilah padanya. Jangan sekali-kali kau sakiti hatinya,” kata Ola sambil memegang tangannya.

Ola merasa ini yang terbaik buat mereka berdua. Walau pun hanya sebulan menjalin hubungan dengannya Ola merasa bahagia. Baginya mencintai tak harus memiliki. Dan apa bila itu yang terbaik demi kebaikannya Ola rela memutuskannya. Ola juga merasa bahwa mempertahankan hubungan ini hanya menambah luka. Bagaimana kalau sampai keluarga Ervan mengetahui tentang kehidupan keluarganya seperti ini.
“Van…Mulai sekarang jangan temui aku lagi. Aku tak mau jadi penghalang antara kau dan ibumu” Ola tak berani memandangnya. Ia merasa bersalah. Tapi, Ola harus melakukannya. Kini lengkaplah. Ola membayangkan memiliki dua predikat sekligus: broken home dan broken heart. Tapi inilah hidup. Ia harus menjalani tanpa tiang penyangga. Melayang bersama derita demi derita. Saat hati resah seperti sekarang, tak jua tergerak untuk ke gereja seperti yang di anjurkan Sari temannya. Beberapa kali dia mengajak Ola ke gereja, tapi tak digubris. Apakah aku sudah mati rasa? Tiap malam ia memanjatkan doa. Tapi, kehampaan tetap menyelimutiku.Oh Tuhan! Apa yang harus kulakukan.

Di pejamkan matanya saat memandang Ervan keluar dari pintu rumah. Sungguh teganya dirimu mengapa kau melakukan itu? Mengapa tak kau pikirkan perasaannya? Siapa dirimu sebenarnya? Apa yang kau inginkan? Seribu tanya seribu suara mengadili dalam hatinya. Ola hanya diam membisu tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Di padamkannya lampu dan ia berjalan gontai menuju kamar. Semua adik-adiknya sudah tidur. Ola merenung, bagaimana nasib mereka nantinya? Ah sudahlah kau terlalu lelah sekarang. Jangan terlalu risau. Semua akan berjalan apa adanya. Tidurlah. Suara itu adalah suara terakhir yang Ola dengar sebelum akhirnya terlelap.

“Sudah, sudah. Pokonya kalian sekolah. Jangan bolos lagi ya!” Adiknya yang ke lima dan yang ke enam mengangguk. Hari itu mereka kembali sekolah. Ola bersama kakaknya yang tertualah yang terpaksa mengurus adik-adiknya. Ola tak tau sama siapa lagi ia harus meminta bantuan selain sama kakaknya. Pagi itu Ola nekat masuk sekolah walaupun tahu sangat tipis kemungkinan untuk di ikutkan ujian Ebtanas. Hanya harapan yang ia bawa melangkahkan kaki masuk ke ruang ujian.
“Selamat pagi, Pak. Maaf terlambat” sapanya pada guru pengawas itu.
“Pagi. Kenapa terlambat? Mana kartu ujianmu?” tanya Pak Pengawas.
“ Luciola! Mana kartu ujianmu?” Dibacanya papan nama yang terpasang di baju seragam Ola. Ola tak bisa bicara. Mulutnya bungkam.
“ Kau belum mengambil nomor ujianmu? tanya nya lagi. Ola jadi tontonan teman-temannya.
“Eee belum, Pak” jawabnya sambil menundukkan kepala.
“ Dia belum bayar SPP Pak!” suara Vonny tiba-tiba.
“ Kalau begitu kamu ke ruang kepala sekolah saja”
“ Tapi, Pak. Tttapiii…” belum selesai bicara pintu kelas sudah di tutup.

Ola mencari-cari Sari di antara teman-temannya tapi tak ada. Ternyata Sari berada di ruang sebelah sedang mengerjakan soal ujian. Ola hanya bisa melihat semua dengan hati sedih, teramat sedih. Ola pergi dari sekolah. Dia berjalan ke arah pantai. Menyaksikan ombak, merasakan angin bertiup sepoi-sepoi menyapu wajahnya, seakan menyapu segala kesedihannya. Ditatapnya langit nan biru sambil berkata dalam hati, ”Aku tidak takut dengan apa pun juga. Biarlah! Biarlah aku begini.”Ola berjanji dalam hati takkan lagi mengeluh. Ia takkan lagi ia menangis. Juga takkan lagi ia menyesali nasib. Hari itu Ola menjadi sangat bersemangat. Kejadian pagi itu baginya menjadi momentum tersendiri. Kalau tidak mau hancur atau ambruk, Ola harus membangun tiang sendiri. Ia tidak akan kalah dan tidak mau dikalahkan olah sang nasib. Tak ada yang harus dipersalahkan. Semua sudah terjadi. Sejak umurnya 17th ia harus kehilangan mamanya. Sekarang ia tidak bisa ikut ebtanas. Ola harus mengalami semuanya, namun ia tetap yakin kelak semua akan berakhir. Yah, dengan bersikap begitu setidaknya membuat ia kuat dalam menjalani hari-hari berikutnya.

“Pergi nggak nanti ke acaranya Mba Sri?” tanya Mei di rumah tante.
“Nantilah liat,“ jawab Ola singkat.
“Sebetulnya, ada apa sih antara kau dan kak Ervan?” tanya Mei mulai menyelidik.
“ Memangnya kenapa? Gak ada apa-apa kok” jawabnya lagi cuek.
“ Tapi kak Ervan sudah jarang main ke sini lagi. Tidak biasanya kan?” Mei gak mau kalah, “ Jangan-jangan…” katanya curiga.
“Heh! Apa sih yang kau pikirkan?” tanya Ola mulai kesal.
“Gak apa-apa. Cuma heran aja. Sudah dua minggu ini gak liat kalian jalan bersama lagi. Kemarin kak Udin juga tanya, kok kalian gak muncul di sini?”
“ Barangkali Ervan lagi fokus dengan kuliahnya. Ia lagi nyusun skripsi” jawab Ola asal.
“ Kok barangkali sih?” tanya Mei keheranan.
“ Sudah ah. Gak usah di perpanjang. Pokoknya dia lagi sibuk. Titik”

Percakapan mereka berhenti di situ. Ola berjanji akan datang di acara Mba Sri tetangga tantenya yang akan mengadakan acara sunatan anaknya. ”Aku bisa ajak Sari sekalian,” pikir Ola.Hari sabtu sore Ola dijemput Sari. Mereka langsung ke rumah Mba Sri yang tidak jauh dari rumah tante Emi dan om Soni. Setibanya ti tempat acara, betapa terkejutnya Ola. Di sana sudah hadir Udin dan Awal. Juga Ervan hadir di acara itu. Ah sudah kepalang basah tidak usah menghindar. ”E, dia melihatku,” katanya berbisik.
Selanjutnya, Ola dan Sari duduk di samping Nani. Mei duduk berdampingan dengan Ervan. Setelah acara pengajian selesai mereka menemui Mba Sri dan tante Emi yang sedang membantu di dapur. Setelah berbasa-basi sebentar Ola mencari tempat duduk di halaman belakang.

“ Apa kabar? Baik-baik saja say?” Ola kaget mendengar suara yang tidak asing baginya. Ola tanpa sadar menatap Ervan, tapi buru-buru dipalingkannya pandangan ke tempat lain.
“ Iya aku baik saja kok. Gimana kuliahmu?” Ola balik tanya dengan salah tingkah.
“ Sejauh ini baik. Apa kau masih memikirkan aku?” jawabnya menggoda lagi dengan senyuman.
“ Aku hanya tanya tentang kuliahmu. Jangan ditafsirkan lain,” kilahnya.
“ Oke-oke. Jangan marah getu dong. Kita jalan yuk!” Ervan menggoda dengan kedipan mata
“ Tidak bisa Van. Aku datang dengan Sari. Jadi, pulangnya pun dengan dia.”
“ Aku tahu. Kita jalan aja rame-rame.”
“O bolehlah. Jalan ke mana kita?” ups…kena deh. Kirain ajak berdua. Kikuk jadinya.
“ Kau tidak cerita pada mereka bagaimana hubungan kita kan?”
“ Kenapa? Alasannya apa?” Ervan menodongkan pertanyaan yang tak diduga.
“ Maksudmu apa? Aku tidak mengerti Van?” Ola pura-pura tidak tahu.
“ Kau mengerti apa yang kumaksud. Gak usah pura-puralah say” kata Ervan sambil memegang tangan Ola. Akibatnya, Ola jadi merasa salah tingkah. Mungkin Ervan juga merasakan.
“ Tidak! Aku tidak mengerti !” Ola menarik tangannya dari genggaman Ervan.
“ Baik. Aku jujur masih menyayangimu dan tidak bisa melupakanmu. Akuilah kalau kau pun juga begitu. Kita kembali lagi seperti dulu, gimana?”

Sesaat Ola terpana pada kejujuran hati Ervan. Tapi, bayangan orangtuanya yang tidak suka dengan Ola kembali menari-nari dipikirannya. Lalu,apa yang harus kulakukan? Apakah harus ku katakan bahwa aku tidak tertarik lagi dengannya? Bahwa aku tidak mencintainya? Ola bingung entah apa yang harus ia katakan. Sementara itu hati kecilnya merasa tersiksa semenjak ia tidak melihat dan mendengar suara Ervan yang selalu menggoda dan menghiburnya. Ervan selalu membuat Ola senang dan tertawa. Ia juga bisa melupakan segala kesedihannya.

“ Ternyata kalian ngumpet di sini rupanya. Tuh Sari mencarimu,” Nani tiba tepat saat Ola kebingungan mencari jawaban tuk pertanyaan Ervan. Abis itu mereka beranjak dari halaman rumah Mba Sri setelah sebelumnya pamit pada tuan rumah.
“ Kita ke pantai yuk. Lihat senja”
“ Boleh tuh. Menikmati pemandangan bisa bikin kita lebih fresh. Apalagi buat yang lagi pacaran. Wow…” Udin dan Nani serentak menentukan tujuan sambil lirik menggoda Ola dan Ervan. Jadilah tujuan mereka ke pantai Losari.

Sari, Nani, Mei, Udin, dan Awal bersama-sama mereka dengan kendaraan Mitsubishi milik kakak Ervan melaju menuju pantai Losari. Di pantai Ola dan Ervan berjanji untuk menghadapi segala rintangan yang menghalangi cinta mereka.Beberapa bulan kemudian hubungan Ola dan Ervan akhirnya tercium juga oleh ibu Ervan. Akibatnya, malam itu Ola kena damprat habis-habisan. Saat itu, Ola hanya bisa diam meski dimaki macam-macam, “Perempuan kayak kau tidak cocok dengan anakku. Perempuan jalanan tidak tahu malu. Cih !”Airmatanya ditahan sekuat-kuatnya. Ia sebenarnya sudah berjanji tidak cengeng lagi. Tapi, makian itu membuat Ola tak kuasa membendung air matanya. Akhirnya, tumpah juga tetes bening dari matanya. Saat itu, Ervan membela dirinya di hadapan ibunya. “Saya tidak perduli. Ibu setuju atau tidak saya tetap mencintainya. Kami juga sudah sepakat untuk menikah.”
Bagai disambar petir, Ola kaget mendengar kata-kata Ervan. Jantungnya serasa berhenti seketika. Dia mau mengawiniku? Apakah tidak salah pendengaranku? Tidak! Tidak! Aku harus melakukan sesuatu. Ola tak habis pikir.
“ Apa??? Dasar anak durhaka! Anak kurang ajar. Siapa yang mengajarimu bicara begitu, hah? Berani-beraninya kamu membela perempuan itu di hadapan ibumu ini, ibu yang melahirkanmu. Sekarang pilih. Dia atau ibu Van?” suara ibunya semakin keras.

Ola menyesal. Semua ini salahku! Ini salahku! Seandainya aku tidak menerima cintanya tentu takkan begini jadinya. Ya Tuhan mengapa jadi begini? Batinnya berkecamuk. Tapi tidak cukup sampai situ, “ Hey perempuan sial. Gara-gara kau anakku jadi begini. Apa yang sudah kau lakukan padanya hah? Dasar jalang! ”Ervan tiba-tiba berdiri dan memeluk Ola. Ola tak kuasa melakukan apapun. Ibu Ervan semakin kalap melihat Ola dalam pelukan Ervan. Seluruh tubuh Ola bergetar karena takut. Tahu begitu Ervan malah makin mempererat pelukannya.
“ Bu cukup… Cukup! Aku yang salah bukan dia. Jangan ibu menyiksanya dengan kata-kata seperti itu. Dia tidak seperti yang ibu duga,” Ervan mati-matian membela. Ola merasa seluruh tulang sendinya lemas.
“Baiklah kalau begitu. Kau berarti lebih memilih dia daripada ibumu sendiri. Sekarang juga kau bukan anakku lagi. Pergi dari sini dan jangan harap restu dariku!”Ola tersentak kaget mendengar keputusan ibu Ervan. “Jangan.., Bu. Jangan ibu lakukan itu. Ervan anak ibu. Akulah penyebab semua ini. Jangan usir dia aku mohon. Tapi, sejujurnya Bu aku betul-betul mencintainya. Maafkan kami, Bu. Aku juga berjanji tidak akan menemui Ervan lagi jika itu mau Ibu.”Ola mendekatinya. Bersujud dan mencium kaki ibu Ervan. Ola berusaha memohon maaf demi Ervan. Demi pria yang dicintai. Demi rasa sayang ibu pada anaknya. Mungkin Ola terlalu bermimpi bahwa cinta mereka mampu meluluhkan hati ibu Ervan yang keras. Tak lama berselang ayah Ervan tiba. Ialah yang menjadi penengah malam itu. Malam yang tak dapat Ola lupakan seumur hidupnya. Malam yang menjadi bukti kekuatan cinta mereka.

“ Bu. Ibu jangan keterlaluan! Ola sudah meminta maaf, tapi Ibu gak gubris.” kata Ervan sambil membantu Ola berdiri.
“Maaf? Maat katamu? Apa omongan Ibumu kurang Jelas Van? Ibu tidak akan merestui kalian. Lagi pula sejak kapan anak bisa mengatur orangtua!” intonasi suara ibu Ervan masih tetap tinggi.
“ Ada apa ini ribut-ribut ?” Ayah Ervan datang menghampiri.
“ Tidak usah ikut campur, Yah” sengit ibu Ervan pada suaminya.
“ Lho? Memangnya kenapa? Kok ibu sampai marah begini?”
“ Itu anakmu. Ia sudah mulai kurang ajar membantah orangtua. Ia malah membela perempuan jalang itu.” telunjuk ibu Ervan mengarah ke Ola
“ Astaghfirullah! Istighfar Bu, istigfar. Siapa yang ibu bilang jalang itu, Bu?” kata ayah Ervan menenangkan.
“ Pokoknya aku tetap tak akan merestui kalian. Titik. Ingat itu” ibu Ervan berlalu ke kamarnya.
“ Van, ada apa nak? Kenapa ibumu sampai marah begitu?” tanya ayah Ervan, “Inikah perempuan yang kau sukai itu, Van?” lanjutnya sambil memandang Ola dari balik kacamatanya.
“ Maaf. Ini salah saya Pak bukan salah Ervan,” kata Ola membela Ervan.
“ Yah ini Luciola. Dia wanita yang kucintai selama ini,” Ervan mengenalkan Ola pada ayahnya.
“ Apa kamu betul-betul mencintai anakku?” suara ayah Ervan tampak tenang setenang orangnya. Ola hanya mengangguk. Ia tak berani memandang wajahnya yang penuh wibawa.
“ Ervan! Apa yang membuat ibumu marah besar? Selama ini memang ibumu sudah curiga tentang hubungan kalian tapi kenapa jadi begini? Ayah kaget dan heran sikap ibumu tadi”
“ Ervan memang salah Yah. Tapi, Ervan tak sengaja membuat Ibu marah. Tadi Ervan katakan niat Ervan mengawini Ola. Tiba-tiba ibu marah besar dan mengatakan Ola yang bukan-bukan. Niat Ervan sudah bulat Yah. Kami juga saling mencintai,” Ervan menjelaskan pada ayahnya.
“ Tapi, dari cerita Ibumu ada perbedaan yang jauh antara kalian. Dia Kristen. Betulkah itu Van?” Ayah Ervan bertanya sambil memandangi Ola yang berdiri di samping Ervan.

Ervan mengiyakan. Ola yang tidak menduga sama sekali niat Ervan sebelumnya hanya bisa diam. Tanpa memberitahukan niatnya terlebih dulu Ervan saat ketemu memintanya untuk bertamu ke rumahnya tuk sekedar bertemu dengan orangtua dan saudara-saudaranya.
“ Sudah malam. Antarkan dia pulang nanti orangtuanya mencari.”
“ Besok kita selesaikan. Tapi, kalau boleh Ayah minta satu hal. Kalian jangan asal mengambil keputusan. Pikirkan baik-baik dulu. Dan kau,” ayahnya menunjuk pada Ola, ”kalau kau benar-benar mencintai Ervan apa kau rela dan ikhlas melepaskan agamamu yang sekarang?”

Ola menatap wajah tua yang sangat mirip dengan Ervan itu. Di sana tersimpan kebijakan yang terpantul dari raut wajahnya. Akhirnya… “Aku mencintainya sungguh-sungguh dan akan kulakukan apa pun untuknya,” jawab Ola mantap. Entah darimana datangnya keberanian itu.
“ Alhamdulillah! Tapi, apa orangtuamu tidak keberatan?” Ola diam tak menjawab.
“ Sudahlah bicarakan dulu pada orangtuamu. Ervan tidak mungkin ikut agamamu. Aku sebagai ayahnya jelas-jelas menentang hal itu. Kalau hal lain masih bisa kita bicarakan. Tapi, kalau yang satu itu tidak bisa di ganggu gugat,” Ola mengangguk tanda mengerti. Ayah Ervan kemudian masuk ke kamar menyusul ibunya.

Tak lama Ola pamit pada kakak-kakak Ervan. Ervan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak-kakaknya semua sudah bekerja. Ervan tinggal menyusun skripsi. Selangkah lagi Ervan akan bergelar sarjana ekonomi. Malam itu Ola diantar pulang. Selama perjalanan Ola banyak diam. Otaknya berusaha mencerna semua kejadian yang menimpanya tadi.
“ Say, kau marah ya?” tanya Ervan memecahkan kesunyian.
“ Maaf aku tidak bilang dulu. Aku hanya bermaksud memberikanmu kejutan. Tapi, aku serius La. Betul-betul serius,” katanya menenangkan
“ Tapi, kau tadi sudah membuat ibumu marah besar.Aku tadi takut setengah mati,” omel Ola.
“ Maaf…! Maaf deh. Aku tahu aku salah. Tapi, aku pun tak menduga ibu bakal semarah itu. Omong-omong, apa yang kau katakan pada ayah tadi itu serius?”
“ Ya! Aku serius. Bahkan dua, tiga rius” kata Ola bercanda.
“ Kenapa say? Apa itu bukti cintamu padaku?”
“ Yah begitulah. Salah sendiri. Kenapa mencintaiku juga.” senyum Ola mesra,“Tapi, ada syaratnya Van. Jangan sakiti ibumu. Ingat tu Van! Kalau ibumu tetap tak merestui kita, aku tak mau maksa. Ia bagamanapun adalah ibumu. Ibu yang melahirkanmu dan membesarkanmu Van. Cinta kita tak sekuat cinta ibu pada anaknya. Aku tak bisa dan tak pantas diabndingkan dengan cinta ibumu” Ola memandangnya dengan tatapan penuh cinta.
“ Aku juga sayang pada ibuku. Siapa yang tak sayang pada ibunya? Tapi ibu seharusnya mengerti hubungan kita. Aku tak tega mendengar ibu memakimu yang bukan-bukan. Lagian kalau memang ibu menyayangiku, dia tidak pantas berbuat begitu pada wanitaku yang sebentar lagi menjadi istriku.” Ervan menggoda Ola. Ola hanya bisa tersipu.
“ Mulai lagi deh rayuan gombalmu, Van. Tapi, ustru karena rasa sayanglah, ibumu berbuat begitu. Aku bisa mengerti perasaan ibumu. Beliau terlalu sayang pada anak bontotnya yang ganteng kali. Dan aku tidak patut marah atau membenci ibumu. Aku salah sudah berani mencintai anaknya sampai anaknya jadi begini,” katanya menyadarkan Ervan.

Ervan memeluk Ola erat. Sangat erat hingga Ola hampir tidak bisa nafas. Dari pelukannya, Ola bisa merasakan aliran cinta dan kasih Ervan yang mengalir dalam dekapannya.
“Say, bagaimana dengan papamu? Apa yang akan kau katakan? Kau mengkhawatirkan ibu, tapi tidak memikirkan sedikitpun papamu? Apa lagi kalau dia tahu kau nekad melepaskan agamamu demi aku. Aku pikir papamu bisa marah besar karena papamu pun pasti tidak menyukaiku,” kata-kata Ervan membuatnya sadar.
“ Aku akan berusaha meyakinkannya. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi, aku akan minta bantuan tante Emi untuk meyakinkan papa Van.” Ervan mengangguk.
” Aku juga perlu bicara dengan papamu. Apapun yang akan dikatakannya nanti akan aku terima, seperti ketika kau menghadapi orangtuaku.” Kini Ola yang mengangguk.
“ Berdoalah! Semoga kita bisa melalui semua rintangan ini dengan tabah..”Ola memeluk Ervan erat-erat seakan gak mau lepas. Mereka jalan malam itu dengan di terangi bulan purnama. Cahaya pengharapan yang membuat hati mereka bersatu.

Sebelum masuk rumah ucapkanlah kalimat ini, “Bismillahhirahmanirrahim… Basmalah adalah menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha penyayang. Dengan menyebut kalimat Basmalah niscaya niat kita yang mengandung kebajikan akan mendapat berkah dan rahmat-Nya,” Ervan menjelaskan. Ola menganggukan kepalanya tanda paham. Ola yakin ada kekuatan tersendiri yang dirasakannya dalam hati.Seminggu kemudian Ervan dan Ola menghadap Pak Frans papa Ola. Seperti sudah diduga, malam itu Pak Frans bukan saja marah besar. Ia mengusir Ola dari rumah.Eran tidak bisa berbuat banyak. Baru hendak buka mulut saja, Pak Frans dengan membabi buta mengusir mereka.

“Papa kejam. Ervan datang baik-baik untuk meminta restu papa. Kenapa papa malah mengusir kami? Pa tekadku sudah bulat!” Ola berkata tegas di hadapan papanya. Tapi, pak Frans tetap bergeming. Sedikit pun tidak mundur. Dan, hanya satu kalimat yang terucap sebelum Ola melangkahkan kakinya ke luar dari pintu.
“ Begitu kau injakkan kakimu, aku tidak lagi punya anak sepertimu!!!” Suara papanya menggema dalam ruangan. Adik-adik Ola berlarian memeluk Ola. Sesaat keharuan terjadi.
“ Kak Ola jangan pergi. Jangan tinggalkan kami,” seru adik-adiknya. Ola tak kuasa menahan air mata. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib adik-adiknya di bawah asuhan ibu tirinya. Pak Frans bukan saja membawa istri dan anak tirinya tetapi juga membawa pembantu yang hanya melayani anak tirinya.

Sedih hati Ola meninggalkan mereka. Tapi, ia juga sudah membuat keputusan untuk masa depannya. Tak mungkin ada pria seperti Ervan yang mau menikahinya.Memperistri wanita yang dari keluarga broken home. Hati Ola terkoyak perih memikirkan bagaimana hidup saudaranya nanti? Dia tak mungkin harus mengasuh dan membesarkan semua adik-adiknya. Ini bukan tanggung jawabnya. Papanyalah yang seharusnya lebih memperhatikan anak-anaknya. Langkah kaki Ola terasa berat. Masih terdengar jelas suara saudaranya yang memanggil-manggil namanya. Pak Frans membanting pintu dengan keras. Jelas di telinganya suara pak Frans membentak adik-adiknya, “ Diam semua!!! Dia bukan kakak kalian lagi. Begitu juga Mei dan Selly. Mereka bertiga sudah bukan saudara kalian. Selly juga menikah tanpa restu papa. Mei pergi dari rumah karena tak mau hidup serumah dengan tantenya sendiri yang kini menjadi ibu tiri.Sepanjang perjalanan di atas becak, Ervan memeluk Ola. Ia membujuk Ola dengan kasih sayang nan lembut.
“ Sekarang kau sudah menjadi tanggung jawabku. Aku tak akan pernah meninggalkanmu sedetikpun. Secepatnya kita menikah. Bersabarlah. Untuk sementara ini kau tinggallah di rumah tante Emi bersama Mei.”

Ola mengganguk karena hanya itu yang dapat ia lakukan. Setibanya di rumah Ola dan Ervan bercerita apa yang baru saja terjadi. Tante Emi kaget bukan kepalang. Ketika dimintai bantuan, Tante Emi tampak keberatan. Bukan karena tak mau menolong membicarakan hal itu dengan Pak Frans. Tapi, dulu saat kakak Ola hendak di lamar tante Emi lah yang menemani. Tapi, kekerasan hati Pak Frans tetap tak memberikan restu. Selly juga memeluk agama Islam saat akan menikah. Alhasil tante Emi tidak berani ikut campur lagi. Ola sementara tinggal di rumah tante Emi. Selama di rumah tante Emi, Ola mulai rajin membaca buku-buku tentang agama Islam.Tak terasa sebulan berlalu. Ervan dan Ola akhirnya melangsungkan pernikahan. Seminggu sebelum pernikahan, Ola telah memantapkan hatinya mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan keluarga Ervan disaksikan oleh tante Emi juga Selly kakak tertuanya dan Mei adiknya.

Ibu Ervan secuail pun tak menduga kalau Ola betul-betul mau melakukan itu. Hatinya antara ya dan tidak. Ia merasa Ola tidak tulus menjadi seorang muallaf. Namun, Ola berjanji akan menjalankan apa yang sudah seharusnya ia kerjakan sebagai seorang muslim. Ola menyadari ia bukan hanya berjanji pada ibu mertua atau keluarga Ervan, tapi janjinya pada Allah Yang Maha Kuasa Yang maha Pengasih dan Penyayang. Selanjutnya, ibu Ervan memberikan Ola nama Islam. Ia berpesan selama Ola menjadi istri Ervan tunjukkan bahwa Ola betul-betul ikhlas memeluk agama Islam. Mendengar itu. Ola tersenyum penuh bahagia. Sekeras-kerasnya hati ibu Ervan yang kini menjadi ibunya juga ia yakin di balik itu tersimpan kelembutan hati seorang ibu.

Sejak saat itu, tiada lagi nama Luciola. Yang ada adalah Latifah Fauziah. Sejak itu Ola sah menjadi pengikut Muhammad. Ia seorang muallaf yang selama hidupnya akan tetap mencintai dan menyanjung agamanya, mencintai hidupnya sama seperti ia mencintai Ervan yang kini telah menjadi pendamping hidupnya.

Medio Juli 2007

 

Published in: on 23 Agustus 2007 at 10:08 pm  Comments (4)  

4 Komentar

  1. hai2…
    Lam kenal, boleh baca2 ya?
    Aku suka nulis cerpen juga dan aku juga suka bacanya.
    kalau boleh nanya, ini ada sedikit yang based on true story nggak?

  2. Hi…mbak Fira,,,wah aku punya teman yang jago nulis nih, aku

    akan link…salam dari Bali

  3. Oke … maju trus

  4. wah keren…Liez kurang bisa ngarang ato sastra hehe


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: