ABAHKU SAYANG ABAHKU MALANG


mantap-sayang.jpg By : Fira Rachmat

Kriiing….telpon berdering, sambil memegangi rambutku yg belum selesai di sanggul aku tergopoh-gopoh meraih gagang telpon. Janji jumpa dengan rombongan ibu-ibu grup kolintang DKI pada jam 7 tepat. Selesai sanggul ku reguk teh hangat dan secepat kilat menyambar sepatu hak tinggiku. Dengan menumpang ojek aku berbisik dalam hati semoga ibu Yuni dan ibu-ibu yg lainnya belum pada berangkat. Hari itu kami akan pentas di gedung PKK dalam rangka penyambutan istri duta besar korea. Tamu Negara dan kami dari grup PKK pemda DKI menyuguhkan musik tradisional kolintang. Tiba di rumah bu Yuni. Semua ibu-ibu grup kolintang Yunida telah hadir ternyata aku yg paling terakhir mereka tunggu. Dalam hatiku merasa malu baru aja jadi anggota sudah telat lagi.

“Assalamu’alaikum, aduh maaf nih telat ya bu?” salamku pada bu Yuni dan ibu-ibu lain.

“Wa’alaikumsalam, ah gak apa-apa kok Mi ayo masuk dulu.” Jawab bu Yuni ramah.

Tidak lama kemudian rombongan kami berangkat dengan menumpang mobil bu Yuni. Hatiku tidak tenang, dari semalam tidur juga gelisah. Aku tak tau apa yg membuatku seperti ini. Padahal latihanku sudah semaksimal mungkin om Lius pelatih kolintang dari grup Yunida mengatakan aku sudah okelah padahal aku baru saja belajar menguasai alat musik tersebut tapi karena sungguh-sungguh mempelajari dan menyimak kata pelatih aku akhirnya bisa mengimbangi bas, melodi, dan benyo satu. Aku di kuasakan memegang benyo dua. Aku masih cemas dan aku tak tau apa yg ku cemaskan.

“Bagaimana Mi, kamu siap? Jangan terlalu cemaslah terakhir latihan kemarin permainan mu bagus kok ketukan benyomu sudah mantap, iya kan ibu-ibu?” hibur bu Yuni. Aku hanya senyam senyum tak tau harus berkata apa. Mobil yg di kemudikan bu Yuni sekarang memasuki tol sedikit lagi kami akan sampai, tapi kok hatiku semakin tak menentu. Aku mengira-ngira mungkin karena kurang tidur semalam. Tiba-tiba handphoneku berdering. “Ma, mama dimana sekarang?” ternyata suamiku. “O papa ya, mama sekarang di perjalanan menuju gedung PKK.” Jawabku. “Ma, sekarang juga mama pulang abah sudah meninggal baru saja papa terima telepon dari Ternate.” Dug !!! jantungku serasa mau copot saat itu juga.”Innalillahi Wa Innailahi Rojiun…” Ibu Yuni dan ibu-ibu yg lain serentak kaget. “Pa, mama masih di jalan tol, lima menit lagi mama sudah tiba di gedung PKK, bagaimana ini pa?”kataku semakin cemas. “Ya udah, papa berangkat duluan nanti mama menyusul pesawat berikutnya, sekarang juga papa mau ke bandara, usahakan secepatnya ma.” Kata suamiku dan menutup pembicaraan. Sementara mobil sudah keluar pintu tol. Gedung PKK sudah di depan mata. “Mi, siapa yg meninggal dunia?” tanya bu Yuni ikut mencemaskanku.

“Abah! Bapak mertuaku bu.” Jawabku singkat. “ Kami turut berduka cita ya Mi.” jawab bu Yuni dan ibu-ibu yg lain.” Bagaimana Mi? apa masih mau terusin? Atau pulang?” tanya bu Yuni. “Aku juga tak akan bisa melihat abah, dari Jakarta Ternate memakan waktu kurang lebih empat lima jam karena pesawat transit di Menado atau Makassar.” Jawabku. “Iya yah, di kuburnya jam berapa Mi?” tanya bu Yuni lagi. “ Aku belum tau juga bu, yg jelas abah meninggalnya tadi jam tujuh waktu Jakarta berarti waktu Ternate jam sembilan.” Jelasku. “Sabar ya Mi,ikhlaskan kepergian abahmu doakan agar di terima amal ibadahnya di sisi Allah.” Bu Yuni menepuk bahuku menenangkan. Sementara mobil sudah memasuki area parkir gedung PKK. Om Lius sudah menanti dan tak lama kami sudah berada dalam gedung. Kami langsung mengambil posisi alat masing-masing. Syukurlah kami tiba tepat waktu, tak menunggu lama tamu Negara Korea dan ibu gubernur Rini Sutiyoso dan beberapa tamu lainnya memasuki ruang aula Seruni. Musik kolintang sebagai penyambut. Tak lama kemudian kami mulai dengan lagu pertama dan aku merangkap sebagai pemain benyo dua sekaligus penyanyi. Lagu Thien Mi Mi dan Ye Liang Tai Piau Wo Te Sing berhasil ku bawakan dengan mulus bersama ketukan benyoku. Aku setengah mati menguasai perasaanku bagaimana tidak pikiran bercabang ke abah, abah mertuaku yg sangat baik hati dan pendiam. Tepuk tangan dari penonton yg hadir membuatku lega. Apalagi tamu Korea tersebut sangat menikmati permainan kami. Bu Yuni mengucapkan terima kasihnya padaku karena telah berhasil membuat tamu-tamu yg hadir terkagum-kagum. Aku pun permisi pamit pada bu Yuni setelah tugasku selesai. Dalam perjalanan ku hubungi suamiku dan ia beserta kakak-kakak ipar dan istri sudah berada di bandara. Aku bergegas pulang mengganti pakaian. Kebaya dan konde yg melekat di tubuhku tak membuatku nyaman. Seperempat jam kemudian tiba di rumah. Setelah mengganti baju dan membawa baju seadanya aku langsung menuju ke bandara. Di perjalanan aku terima berita yg lebih mengejutkanku. Antara bingung ataukah senang aku tak taulah pokoknya campur aduk jadi satu. Ternyata abah tidak atau belum meninggal dunia. Abah sekarang berada di rumah sakit Ternate. Dalam keadaan tersebut aku bersyukur Alhamdulillah, tapi kenapa tadi di beritakan abah sudah tiada? Tiba-tiba Hp ku berbunyi tanda low baterei Ah, aku tak mau lagi berpikir apa-apa, sekarang tujuanku agar tiba dengan selamat di bandara nanti disana aku bisa tanyakan sebabnya pada suami dan yg lainnya. Yang penting abah selamat. Airmataku yg sudah kering melengket di pipiku bercampur dengan bedak. Tak perduli dengan wajahku dan rambut yg awut-awutan. Taxi blue bird yg membawaku akhirnya tiba di bandara. Aku mencari-cari suami dan ipar-iparku. Ternyata mereka masih menunggu tiket. Ku lihat kakak iparku yg tertua sedang mengurus tiket untuk kami berlima. Kakak tertua suamiku bersama istrinya,kakak ketiga suamiku, suamiku dan aku sendiri. Sementara istri dari kakak ketiga tidak bisa hadir karena mengurus anaknya yg masih berada di sekolah. Dering telepon berulang-ulang dari berbagai kerabat keluarga dan kenalan mengucapkan turut berduka cita. Suamiku dan saudara-saudaranya yg lain tak dapat berbicara banyak mereka juga sama denganku antara senang dan bingung dalam peristiwa ini. Senang karena ternyata abah tidak meninggal, bingung karena dari awal sudah terlanjur memberitakan pada kerabat keluarga dan kenalan lainnya bahwa abah sudah tiada.Tentu kami merasa malu tak tau harus menjelaskan bagaimana. Dan asal berita tersebut datangnya dari anak abah yg perempuan yg kedua di Ternate. Memang abah dan ibu mertuaku tinggal bersamanya. Suami dari kakak iparku yg kedua seorang dokter mungkin saja saat abah merasa sakit atau ah…yg jelas jawabannya yg lebih pasti nanti akan kami tau setiba di Ternate. Setelah menunggu satu jam akhirnya kami mendapat tiket, kami naik pesawat Lion jam dua belas dan transit di Menado. Ternyata kami tidak berhasil mendapatkan tiket sekali jalan, terpaksa kami harus menginap semalam di Menado. Dan berangkat besok paginya ke Ternate. Malamnya di Menado ku sempatkan telpon ke rumah menanyakan kabar anak-anakku.

“Halo,salamu’alaikum.” Salamku, yg terima adalah adikku Yuli dan Ima. Suara mereka kedengaran berat mungkin karena menangis pikirku.

“Wa’alaikum salam, Mi sudah di kubur ya abah? Kasihan abah kenapa abah bisa tiba-tiba meninggal kan abah tidak sakit keras.” Tanya adikku Yuli.

“Mi, disini pipi dan diva sedang baca yasin buat bip uhhhuuukkk” suara Ima kemudian sambil menangis sejadi-jadinya. Aku saat itu merasa lucu juga ah… bagaimana memprediksikan semuanya Entahlah. Akhirnya aku bilang, “sudah.sudah kalian tak usah bersedih lagi…” belum selesai ucapanku Yuli dan Ima memotong “ kok kau tidak merasa sedih sih Mi? abah kan orang yg baik dia itu mertuamu bapak kak Rahmat.” Aduh bagaimana ini…bingung. “ iyalah aku pasti sedih kalau abah jadi meninggal.” Jawabku. “Ap… apa??? Kalau jadi?? Berarti abah tidak meninggal dong? Kok???” Suara Yuli dan pasti juga dia bingung. “Halo Mi…Mi betul tidak itu jangan main-main.” Masih dalam keadaan bingung dia. “ iya ah masak main-main” jawabku tenang. “Alhamdulillah..bagaimana ceritanya itu?” tanyanya. “Ah, aku juga belum tau pasti tapi sementara beritanya begitu dan abah sekarang lagi dirawat di rumah sakit,kami belum tiba di Ternate masih di Menado Insya Allah gak ada halangan kami berangkat besok pagi ke Ternate. Tolong jaga pipi dan diva.” Jelasku. “ Mama…mama ini Diva kok bip hidup lagi ma?” tiba-tiba anakku yg bungsu teriak. “iya ma, sampai Pipi sedih banget dan kita udah baca yasin disini dua kali ma!” anakku Pipi ikut menimpali. Aku menahan geli. Kuakui perisriwa ini adalah peristiwa yg betul-betul membuatku bingung tapi ada rasa senang karena mengetahui abahku , bapak mertuaku masih hidup. Sekarang pun beliau masih tergeletak di rumah sakit, tapi ada juga rasa sedih karena itu. Kita memang senang tapi tak boleh berlebihan karena belum tau kelanjutan kesehatan abah hanya doa yg kami panjatkan agar abah secepatnya sembuh. Hanya kesalahan diaknosa atau apalah itu yg membingungkan kami semua.

“Sudah teruskan aja baca yasinnya ya, biar bip cepat sembuh.” Kataku pada kedua anaku.

“Tapi ma kok bip bisa hidup lagi? Kalau orang sudah meninggal kan tidak bisa lagi hidup iya kan ma?” Diva anakku masih bertanya,namanya aja anak-anak mana mengerti kita yg dewasa aja bingung apalagi mereka anak kecil. “ Iya nanti mama telpon lagi doakan bip ya de, salamu’alaikum.” Dan serentak mereka menjawab “Wa’alaikum salam.”

Pagi jam sepuluh kami tiba di Ternate dan langsung ke rumah sakit Harifalm tempat abah di rawat. Di lorong rumah sakit itu kami bertemu kak Ita kakak iparku ia membawa kami langsung ke kamar abah. Abah terbaring lemah. Wajahnya pucat matanya sayu. Bibirnya ya bibir abah miring sebelah. Kami semua mendekat dan menyapa abah mencium tangan beliau bergantian. Abah menangis sedih ia terharu anak-anaknya berkumpul semua. Kami membesarkan hatinya. Abah pasti sembuh abah jangan menangis kami semua ada di sisi abah sekarang. Setelah itu abah tertidur kata dokter abah terserang stroke. Memang abah sudah bertahun-tahun mempunyai penyakit darah tinggi tapi tak menyangka akan seperti ini. Obat yg sering abah minum cukup paten menurunkan tekanan darah tingginya. Kata kak Ita sudah seminggu ini abah tidak minum obat Adalat Oros karena stok di apotik Ternate sudah habis.“Pantas saja bibir abah mencong itu pengaruh stroke” kata istri kakak iparku yg tertua. Kak Ita dan suaminya minta maaf atas kesalah pahaman berita yg mereka berikan. Mereka sendiri kalang kabut melihat abah jatuh saat sedang sarapan. Mereka mengira abah sudah meninggal karena kejang dan tiba-tiba abah sempat tak sadarkan diri. Juga pengaruh gugup dan takut kak Ita tak sadar saat menelepon ke Jakarta. Kak Ita satu-satunya anak perempuan abah dan ia teramat sayang pada abah. Hari itu kami bermalam di rumah sakit. Dering HP menanyakan kabar abah. Kerabat keluarga dan beberapa kenalan sudah kami jelaskan kesalah pahaman yg terjadi atas berita abah. Malam semakin larut aku tak dapat memejamkan mataku. Teringat papa yg juga sedang sakit. Papa menderita Diabetes sudah hampir tiga tahun dan selalu tergantung pada obat. Aku ngeri memikirkan bagaimana harus hidup tergantung dengan sebuah benda kecil itu. Papa dan abah adalah orangtua yg ku sayangi. Abah adalah bapak yg sangat baik hati. Ia juga pendiam tak banyak bicara selalu tersenyum bila sedang berbicara. Ibadahnya tak pernah lepas sedikit pun. Baik sedang nonton atau apa pun ia selalu berzikir. Membaca koran adalah kegemarannya juga senang sekali nonton berita. Wuahhh..aku menguap sekarang aku baru ngantuk. Lelah dan akhirnya aku pun pulas.

Pagi sekali aku bangun terdengar abah memanggil minta ke kamar mandi. Tapi abah tak dapat menggerakkan separuh badannya. Ia bersikeras sembahyang subuh. Aku membangunkan kak Ita dan istri kakak iparku yg tua,aku memanggilnya ciecie dalam bahasa Indonesia kakak. Aku dan cie sama-sama keturunan Tionghoa. Ia adalah seorang mualaf sama sepertiku. Tak lama kemudian kami bertiga membersihkan abah di tempat tidurnya. Ia tak bisa jalan. Jangankan jalan untuk menggerakkan badannya yg sebelah kiri saja abah tak bisa. Alhasil kami hanya membersihkan seadanya. Kak Ita yg menggantikan pempers yg abah pakai. Cie mendapat bagian membersihkan bagian atas tubuh abah. Sementara aku membedaki tubuh abah setelah di bersihkan.

Selama kurang lebih dua belas hari abah di rawat di rumah sakit tapi tak menunjukkan perubahan apa-apa. Rumah sakit Ternate belum mempunyai fasilitas yg memadai waktu itu. Akhirnya kami membawa abah pulang. Biaya rumah sakit semakin besar sementara pengobatan yg abah dapatkan kurang menghasilkan. Abah semakin tak berdaya. Ia sering menangisi dirinya yg tak mampu berjalan lagi. Sebelah badan abah walaupun di cubit tidak ia rasakan. Kami jadi kasihan melihat keadaan abah. Sementara itu kakak tertua suami cie harus pulang ke Jakarta karena pekerjaannya tak bisa di tinggal lama. Begitu juga kakak yg ketiga kak Mamis tak bisa berlama-lama di Ternate. Akhirnya tinggallah aku dan suamiku juga cie kakak iparku membantu menjaga abah. Kak Ita dan suaminya yg dokter juga harus bekerja. Ibu mertuaku sendiri tak kuat mengurus abah sendiri. Abah bertubuh tinggi besar. Bobotnya mungkin 80kg. bagaimana bisa ibu mertuaku memapah nya ke kamar mandi. Tak berapa lama cie juga pulang ke Jakarta ia harus mengurusi suami dan anak-anaknya di Jakarta. Sekarang tinggallah aku dan suamiku yg mengurus abah di Ternate. Pagi hari kak Ita dan suaminya pergi kerja. Sore baru pulang.

Pekerjaan suamiku memang sedang mandek usahanya tak berjalan lancar. Bisa di bilang kami mengalami kesulitan keuangan. Selama sebulan kami berdua merawat abah. Sampai suatu saat aku dan suamiku bertekad membawa abah berobat ke Jakarta. Terpikir biaya-biaya yg akan kami keluarkan namun tekad suamiku begitu besar. Urusan lain itu soal nanti yg terpenting bawa abah saja dulu. Lagi pula siapa yg merawatnya jika di Ternate. Kak Ita memang anak perempuan abah tapi ia juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Sementara empat anak-anaknya juga masih kecil-kecil ibu mertuaku membantu merawat anak-anak kak Ita. Tibalah hari dimana aku dan suamiku dan di bantu suami kak Ita berangkat membawa abah ke Jakarta. Kami bertiga mengangkat tubuh abah naik ke pesawat Lion Air. Di bandara Ternate yg kecil belum di sediakan sarana kursi roda untuk penumpang yg sakit. Aku duduk di sebelah abah. Suamiku bersama suami kak Ita. Dalam perjalanan kami transit ke Menado untunglah di bandara Sam Ratulangi di sediakan kursi roda. Kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dua puluh menit kemudian. Dua jam dari Menado ke Jakarta membuat abah tak tahan duduk lama. Berulangkali aku memperbaiki mengangkat badan abah yg sedikit-dikit melorot duduknya. Aku takut abah jatuh.Aku tak perduli pandangan orang-orang dalam pesawat yg melihatku. Akhirnya kami tiba dengan selamat di Jakarta. Kakak tertua dan cie sudah menunggu kami di bandara. Di perjalanan menuju rumah abah sudah tidak kuat. Mungkin terlalu lelah akhirnya abah tertidur. Sesampainya di rumah sudah banyak kerabat yg berkumpul mereka datang melihat keadaan abah. Abah lagi-lagi terharu dan menangis. Sejak itu abah tinggal bersama kami. Seminggu kemudian bisnis suamiku berjalan lancar bahkan teramat lancar. Mungkin karena kami ikhlas mengurus abah. Allah membukakan pintu rezeki yg tak kami duga sama sekali. Kami pun bisa membiayai pengobatan abah sampai ke rumah sakit Pertamina Jakarta. Selama beberapa bulan aku terus upayakan kesembuhan abah. Berbagai cara aku cari hingga memanggil orang khusus terapi stroke kami datangkan ke rumah agar lebih nyaman dan leluasa abah tanpa harus bolak balik selama seminggu tiga kali ke rumah sakit Pertamina lagi. Ia tak kuat duduk lama apalagi di dalam mobil menghadapi macet yg berjam-jam. Tapi pengobatan dokter terus berjalan. Seminggu sekali membawa abah ke pemeriksaan rutin mengambil sampel darah urine dan rekam jantung. Setelah di periksa ternyata abah mempunyai penyakit jantung koroner. Dan sedihnya jantung abah sudah membengkak dan lebih sedih lagi abah belum bisa di operasi karena dalam keadaan stroke. Jadi melatih abah agar dapat berjalan pun susah-susah gampang, di samping itu membangkitkan semangatnya yg teramat sulit. Karena abah terlalu pasrah dan sudah tak mau berusaha untuk sembuh. Inilah ujian untuk kami. Pernah abah bilang dari pada hidup begini labih baik… Aku marah. Aku katakan harus bisa dan abah pasti bisa asalkan abah juga berusaha. Banyak orang yg menderita stroke bukan hanya abah tapi mereka berhasil sembuh dan berjalan lagi,walau tidak seratus persen kesembuhan tapi minimal abah dapat berjalan sedikit-dikitnya. Abah yg ku kenal berubah menjadi orang lain. Ia kehilangan semangat hidupnya. Kadang ia bicara sendiri menangis bahkan ketawa. Aku juga bawa abah ke dokter ahli syaraf dan dokter itu bilang abah harus terus di hibur sebagian syaraf-syaraf abah memang tak berfungsi. Sementara dokter jantungnya juga menyarankan melatih abah harus pelan-pelan jangan di paksakan karena jantung abah tidak kuat. Aku tak putus asa setiap hari ku hibur abah melayaninya memandikan bahkan menyebok abah aku tak jijik. Aku sayang abah ia dulunya adalah tempatku bertanya bagaimana menjalankan sholat dan abah juga yg menyarankan aku agar harus sabar menghadapi segala cobaan. Karena aku tak bekerja seperti cie dan kak Ita makanya aku bersedia mengurus abah. Tetapi saat aku keluar sesekali Ima dan adikku Yuli membantuku. Hanya mereka tak kuat mengangkat berat badan abah jika ke kamar mandi. Aku tau caranya bagaimana membawa abah menuntunnya ke kamar mandi memang berat tapi kunikmati semua karena rasa hormat dan sayang pada abah.

Hari berganti bulan tak terasa dari tak bisa bergerak sama sekali,dari hanya bantuan kursi roda sampai akhirnya abah bisa memakai tongkat Alahmdulillah kini abah bisa jalan walau pelan dan setengah seret kakinya ia tak lagi harus menopang pada orang. Abah juga sudah bisa membiasakan satu tangan mandi dan cebok. Dulu ia tak bisa sama sekali. Kalau malam tetap memakai pempers kecuali siang hari. Walau sedikit kesembuhan yg berhasil abah lakukan namun ia tetap merasa tak berguna. Memang kami tetap mengawasi kemana saja abah berjalan. Kerana keseimbangannya belum terlalu kuat. Ke kamar mandi apalagi tidak bisa sendiri. Harus di jaga. Takutnya jatuh akan menambah parah. Pernah abah jatuh dan aku tidak tau. Ia memaksa berdiri dan berjalan sendiri tanpa tongkat ke kamar mandi. Waktu itu abah mau mandi dan sholat subuh. Ia tak tau bahwa masih jam tiga. Paginya aku dapati abah berlumuran darah tergeletak di lantai. Pingsan. Kepala abah terbentur keningnya robek. Pagi-pagi itu juga aku segera membawa abah ke rumah sakit Pertamina. Dokter marah dan aku memang yg salah. Membiarkan abah tidur sendiri malam itu. Sejak peristiwa itu aku semakin hati-hati mengurus abah. Seminggu sekali cie dan suaminya datang melihat abah begitu juga kak mamis dan istrinya.

Setahun berlalu abah tetap seperti itu. Berjalan dengan menyeret kakinya. Sekarang bagian kiri yg kena stroke sudah terasa sakit. Dulu ia tak merasakan apa-apa. Kata dokter itu pertanda bagus. Tetap latih semua urat-urat syarafnya memang abah merasa sakit tapi harus di tahan. Kadang abah bertingkah layaknya anak kecil menangis meraung dan tiba-tiba mogok makan. Meminta yg aneh-aneh. Kalau tak di penuhi keinginannya ia berteriak tak perduli malam atau siang. Aku menahan perasaan marah sampai-sampai aku yg menangis. Betapa lelah bila abah seperti itu. Mau marah tak sampai hati abah adalah bapak mertuaku ia dalam keadaan sakit. Tapi kelakuan abah tidak setiap hari begitu. Malam minta keluar ke dokter padahal masih jam dua belas. Kalau tak di ikuti maunya dia teriak-teriak marah dan menangis katanya aku tidak mau mengurus abah lagi. Aku ingat kata dokter menghadapi seorang pasien stroke kita yg menyetirnya bukan pasien yg menyetir kita. Aku harus dapat titik lemahnya. Maka malam itu juga aku bawa abah keluar duduk di teras. “Abah sekarang abah liat kalau sudah subuh kan berarti sudah ada cahaya terang sedikit,nah abah liat ada cahaya tidak?” Abah melihat memperhatikan.

“Tapi abah lihat jam sudah subuh?” abah bersikeras juga.

“Bah..kalau jam bisa di ubah tapi kalau alam apa bisa di ubah? Allah sudah ciptakan siang dan malam bergantian apa abah tidak tau itu?” kataku pelan.

“Iya, abah tidak lupa. Kalau memang masih malam antar abah ke kamar.” Jawabnya.

Aku harus sabar mengurus abah. Memang tidak mudah. Tapi aku terus berusaha, Insya Allah aku di beri kekuatan dan di tambahkan kesabaran mengurus abah. Tugas seorang anak adalah berbakti pada orangtua. Baik abah dan papa sama-sama orangtuaku. Hanya papa tidak separah abah dan semoga papa sehat-sehat saja Insya Allah. Aku dan suami mencintai orangtua kami. Suamiku sangat perhatian pada papa selalu ingat membelikan obat aku pun menyayangi abah, mengurus abah dengan ikhlas sama seperti aku mengurus papa sendiri. Alhamdulillah Allah Maha Kuasa Ia memberikan kemudahan buat suamiku di urusan bisnisnya. Kami mampu mengurus semua biaya-biaya abah. Skali lagi Alhamdulillah sungguh KekuasaanNya tak terhingga Subhanallah Wallahu Akbar. Kini sudah hampir tiga tahun abah stroke dan usia abah bulan Agustus ini genap 72th. Abah sudah tak lagi di rumah aku. Kakak tertua suamiku menjemputnya pindah ke rumahnya. Beberapa bulan kemudian abah di pindahkan lagi ke rumah kak Mamis. Kami sepakat agar abah tidak merasa jenuh berada hanya di satu tempat. Bergilir kami mengurus abah. Setidaknya abah tidak lumpuh total seperti pertama dulu aku dan suamiku membawanya. Cie dan istri kak mamis pun sangat tulus mengurus abah di rumah mereka. Kini sudah ada Iwan yg membantu abah dialah yg menggantikan posisiku mengurus abah sehari-hari satu hal yg aku pelajari dan mengambil hikmahnya. Allah memberikan kami ujian dan ujian tersebut melalui orangtua kami, adakah bakti dan rasa sayang yg kita berikan? Menahan semua hawa nafsu. Yang jelas aku bahagia melihat abah bisa jalan walau hanya seretan kaki dan menghadapi berbagai macam keinginannya. Sungguh aku dan suamiku bersyukur dan berterima kasih atas semua yg Allah berikan bertanda kami masih di sayang oleh Yang Maha Kuasa. Amin.

Buat abahku sayang selamat ulang tahun yg ke 72th semoga sehat selalu dan panjang umur. Abah jangan menyerah terus semangat, kami semua sayang abah.

*Jangan menyerah pada kemalangan tetapi hadapilah kemalangan itu dengan ketabahan dan keuletan. Vergil(Publius Vergilius Maro) .

Midio 10 Juli 2007

Published in: on 26 Juli 2007 at 12:14 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/26/abahku-sayang-abahku-malang-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: