ASEP ANAK JALANAN


mantap-sayang.jpg By : Fira Rachmat 

Jantungku berdetak tak beraturan,nafas memburu terasa sesak di dada, pandanganku pun berkunang-kunang menyaksikan kejadian tersebut.Betapa memilukan menusuk hati, aku tak mampu melihat apa lagi berpikir anak kecil krempeng dan kuyu menangisi jasad ibunya yg terbujur kaku di bawah jembatan layang.Anak kecil itu meraung menangis dan meronta menggoncangkan tubuh ibunya berkali kali, ia tak tau bahkan mungkin ia tak sadar kalau ibunya kini telah tiada. Jerit tangisnya semakin menikam sembilu,tangan kecilnya yg kotor menyapu-nyapu wajah ibunya se akan mengatakan ibu bangun… bangun aku takut bu…aku lapar bu.

Air mataku akhirnya tumpah jua tak mampu membendung kesedihan yg teramat sangat, pilu hati membuatku tergerak merangkul anak itu. Tangisnya tak mereda,ia memelukku erat sangat erat seakan meminta perlindungan.Dalam pelukan ku ia sangat rapuh tubuh kurusnya gemetar,tak tahan rasa hatiku, tak kuasa batinku.

Orang banyak berkerumun tapi tak mau menolong, mereka hanya jadi penonton… Tidakkah mereka iba pada anak kecil ini? Batinku. Anak itu tak mengerti apa yg di alaminya sekarang, ia hanya seorang anak kecil usianya mungkin sekitar 5 th.

Selang beberapa menit kemudian petugas kepolisian setempat dan ambulans tiba dan mengamankan tempat tersebut.Akhirnya lega rasanya karena pihak kepolisian sudah mengambil alih kejadian itu.Petugas ambulans mengangkat jasad ibu si kecil dan memasukkan ke mobil untuk selanjutnya di bawa ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan otopsi. Saat petugas mengangkat jasad ibunya anak itu teriak se kencang-kencangnya “Emakkk…..emakkk !!!” Genggaman tangannya yg kurus menarikku, memintaku agar mendekati ibunya yg akan di bawa petugas ke RS.Aku memeluknya dengan kuat sekuat hatiku menahan sedih yg kurasakan. Kami bersama-sama di dalam mobil ambulans yg melaju pesat membawa kami ke RS.Cipto.

Setelah aku di periksa oleh petugas di kantor polisi,Tanya jawab yg memakan waktu hampir satu jam selesai akhirnya. Anak kecil itu untuk sementara dalam lindungan kepolisian. Namun tangannya yg kecil dan kurus tak mau di lepaskannya dariku. Mulanya mereka mengira aku adalah keluarga anak kecil itu.Polisi dengan susah payah memisahkan kami. Aku tak tega meninggalkannya. Anak kecil itu pun terus menggandeng tanganku.Sampai akhirnya… “Bagaimana mba…apakah anda tidak keberatan jika sementara anak ini tinggal bersama anda? Sambil menunggu keluarga atau kerabat dekatnya datang menjemputnya.” Sesaat aku terdiam dan memandang anak itu dia begitu ketakutan raut wajahnya seperti memohon jangan tinggalkan aku.

“Baiklah pak, saya bersedia menolong anak ini.Saya pun tak tega meninggalkannya.” Kataku pada pak Lukman yg khusus menangani kasus itu. Hatiku memang saat itu berkecamuk bagaimana aku harus hidup bersamanya sementara hidupku pas pasan? Tapi entah darimana datangnya bisikan dalam hatiku yg mengatakan bahwa aku pasti bisa.

“Sebelumnya saya bisa minta alamat rumah dan no telepon yg dapat di hubungi suatu saat jika keluarga anak ini datang mencarinya?” kata pak Lukman sambil menyodorkan kertas dan pena padaku. Aku menuliskan alamat rumah mba Mayang kakakku bersama no telepon juga foto kopi tanda pengenal KTP.

Sore menjelang senja dalam perjalanan pulang anak itu tidak lagi menangis tangannya yg sedari tadi menggandengku mulai lembab dengan keringat. Aku meliriknya ia begitu tenang sekarang,tiada lagi isak tangisnya hanya mata yg memerah dan bengkak menghias disana…lara yg terpancar di wajahnya membuat hatiku teriris perih. Malang nian nasibnya,ia seperti kain putih yg tanpa noda begitulah suara hatiku berbisik. Tanpa terasa suara adzan maghrib mulai berkumandang seiring keremangan senja, kami tiba di tujuan. Rumah kakakku berada di ujung gang yg sempit rumah itu tidak terlalu besar, penghuninya hanyalah 4 orang saja, aku,kakakku,suaminya dan anaknya yg berumur 2th. “Assalamualaikum” sapaku memberi salam.

“Wa alaikumsalam” suara kakakku membalas salam.

“Kok baru pulang Mi? ,lo siapa anak ini? Sapa mba Mayang

“Macet mba…ini..? oh dia ,dia, itu tadi..” aku tergagap seketika menjawab pertanyaannya.

“Mba saya sholat dulu ya , sebentar Rahmi ceritakan .” Jawabku, anak itu mengikutiku ke kamar. Sementara aku bergegas wudhu dan sholat maghrib. Tak lama kemudian …

“Sakit…!perutku sakit” anak itu merintih memegangi perutnya.

“Kemarilah mendekat ,kamu pasti lapar sejak tadi siang kamu belum makan? Tapi kamu harus mandi dulu biar bersih dan segar ya?” kataku membujuknya,dia menurut saja. Setelah mandi ku pakai kan baju kaosku yg sudah kekecilan namun masih juga kelihatan longgar di tubuhnya yg kurus dan kecil. Saat makan dia begitu lahap menghabiskan tahu goreng dan sayur asam. Aku melihatnya dan tersenyum.

Setelah selesai makan aku mengajaknya ke ruang tamu menemui mba Mayang yg sedang bermain bersama anaknya.

“Mba boleh aku bicara sebentar?” kataku berharap cemas.

“Kesinilah Mi, kau juga belum jawab pertanyaan mba tadi kan?” mba Mayang adalah kakak yang baik dan perhatian padaku.Dia satu-satunya keluargaku di kota ini setelah ibu dan bapak kami meninggal di kampung 3tahun lalu karena gempa yg berkekuatan 6,4 skala richter meratakan rumah kami. Kami berdua sedang berada di kampung Waru rumah keluarga mas Jamal suami mba Mayang .Setelah kejadian naas itu aku dan mba Mayang pindah ke kota besar ini.Mas Jamal bekerja sebagai guru sekolah dasar yg penghasilannya paspasan bahkan menambah pekerjaannya dengan memberikan les privat pada murid pun tak mencukupi kebutuhan kami di kota besar ini ,aku yg hanya lulusan SMP sangat bersyukur mendapat pekerjaan sebagai penjaga toko kelontong di pasar sentral sesekali aku membuat kue-kue untuk ku jual di pasar sekedar meringankan biaya sehari-hari. Sekarang perasaanku harap-harap cemas , apakah mba Mayang dan mas Jamal mau menerima anak ini tinggal bersama kami.Hatiku gundah.

“ Anak siapa ini ?” mba Mayang mengulang pertanyaan tadi.

“Mba, tadi di perjalanan pulang Rahmi……., Kuceritakan semua yg terjadi pada mba Mayang,ia mendengarkan kisahku hingga selesai.

“Maafkan aku mba , aku tau hidup kita juga susah tapi aku tidak tega meninggalkannya.”

“Aku janji mba, mulai sekarang tiap hari aku buat kue lebih banyak lagi untuk di jual dan sepulang dari toko aku bisa kerja serabutan di tempat ci Linda yg buka usaha payet dan bordir. Berusaha meyakinkan mba Mayang.

“Mba bukan tidak setuju,tapi kita harus meminta pendapat mas Jamal karena dia adalah kepala rumah tangga di rumah ini.Mba juga tidak tega anak ini sudah kehilangan ibunya,

Sudahlah nanti mba bicarakan dengan mas Jamal kau sudah bertindak benar Insya Allah kita di beri kemudahan dalam menghadapinya.” Alhamdulillah akhirnya lega juga.

“Tapi siapa nama anak ini ?” Tanya mba Mayang kemudian, aku juga baru sadar dari tadi tak terpikirkan menanyakan namanya. Aku dekati anak itu yg sedang nonton tv.

“Sekarang mba mau tanya nama kamu siapa?”

“Asep “ jawabnya sambil memainkan jemari tangannya.

“Asep…punya adik atau kakak?”

Ia menggelengkan kepalanya, “Emak kemana ,emak Asep kemana? Jangan tinggalkan Asep, Asep takut !” Pilu hatiku mendengarnya, mata mba Mayang berkaca-kaca.

“Jangan menangis Asep tinggal disini aja ya?” mba Mayang memeluknya.Haru seketika. “Sungguh malang nasibnya” kata mba Mayang padaku.

Malam semakin larut cahaya bulan memancarkan keindahannya. Ku tatap langit melalui jendela kamarku mengagumi kebesaran Sang Khalik, ya Allah ya Rabbi semua yg terjadi adalah kehendakMu,hamba mohon kuatkan dan lapangkan jalan yg akan hamba lalui.KepadaMu hamba berserah “RABBANA AATINAA FIDDUN-YAA HASANATAN WAFIL AAKHIRATI HASANATAN WAQINAA’ ADZAABANNAAR” Amin. Hangat mengalir dalam hatiku.

Mas Jamal berbincang dengan mba Mayang di ruang tengah,sayup terdengar.

“Mas, aku kasihan melihat anak itu, ibunya meninggal di jalanan di bawah jembatan.”

“Saat Rahmi melihat kejadian itu, anak itu langsung memeluknya ketakutan “

“Bagaimana mas,aku tau hidup kita juga susah tapi…”

“De’ asal kamu tidak keberatan mas juga setuju saja. Kita rawat ia sampai pihak keluarganya datang menjemput.”

Mas Jamal dan mba Mayang terima kasih atas kebaikan hati kalian bisik hatiku. Ku tatap Asep di pembaringan,tidurnya lelap.Aku akan berusaha membantu mba dan mas tekadku. Suara azan berkumandang aku terbangun, ku lirik Asep. Ia menggeliat mengucek-ucek matanya. Sesaat ia termenung. Aku memperhatikan apa yg sedang ia pikirkan?

“Sep, kamu kenapa?”

“Asep ingat ibu. biasa Asep nemanin ibu ke mesjid.” Katanya polos.

“Asep mau ikut sholat sama mba? Yuk kita wudhu dulu.” Ajakku.

Sholat subuh bersama yg biasanya hanya aku mba Mayang dan mas Jamal, kini hadir Asep anak kecil yg telah di bekali oleh ibunya untuk selalu mengingat kebesaran Allah. Tubuhnya kecil dan kurus tapi ingatannya akan kebesaran sang penciptanya membuatku terharu. Asep kini sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Berbulan-bulan kami menanti kerabat keluarganya datang menjemput, mungkin benar ia kini sebatang kara. Akhirnya aku mengangkatnya menjadi anak angkatku. Asep sangat gembira wajahnya berseri-seri saat ia memanggilku dengan panggilan ibu. Yah aku kini ibu Asep. Ibu yg mengasuh dan membimbingnya walaupun usiaku masih muda untuk menjadi ibu tapi aku bahagia sangat bahagia. Saat sekolah pertama kali ia dengan bangga memperkenalkan dirinya “Nama saya Saefullah Zamir” nama yg ku berikan atas persetujuan mba Mayang dan mas Jamal. Anak kecil yg baik pedang Allah.Begitulah arti nama Asep.

Dengan berbagai upaya aku berusaha bekerja mencari tambahan untuk meringankan biaya hidup sehari-hari. Walau mas Jamal dan mba Mayang tidak memintaku membantu mereka, namun aku turut bertanggung jawab karena sekarang aku mempunyai Asep anakku yg baik dan patuh. Sesekali saat senggang aku membawa Asep ke tempat pemaka man ibunya. Menabur bunga di pusara ibu kandungnya dan Mengajarkan ia mendoakan ibunya. Di nisannya tertera nama Saroh dan tanggal ia wafat, tak ada tanggal lahir selain itu. Nama itu juga di ketahui dari sepucuk surat yg ia buat untuk seseorang mungkin ayah Asep yg tidak jelas keberadaannya. Malang nian hidup anak ini. Tanpa ayah tanpa ibu. Aku bertekad akan membesarkannya mendidiknya seperti anakku sendiri.

Dari hasil dagangan nasi uduk tiap hari aku bisa membantu mba Mayang belanja keperluan dapur. Setelah pulang kerja aku membantu cik Linda. Di toko kelontong tempatku bekerja pemilik toko sangat baik dan perhatian padaku. Uda Ali membolehkan aku menjual nasi uduk dan kue-kue bikinanku di tokonya. Bahkan para langganan uda Ali selalu memesan kue buatanku. Aku bersyukur di berikan majikan sebaik uda Ali.

Tiada hari tanpa kerja dan kerja. Hingga suatu malam badanku menggigil demam. Asep yg berada di sampingku tiba-tiba bangun ia meraba kepalaku.

“Bu,kok badan ibu panas? Ibu sakit ya. Bu, ibu ….huuuuk….ia menangis sambil memelukku erat air mataku mengalir hangat membasahi pipiku. Ku rangkul ia dengan kehangatan kasih betapa berartinya diriku.” Sep, ibu gak apa-apa kok. Kamu jangan menangis ya sayang.” Ia menyeka air mataku dengan tangan kecilnya.” Bu, jangan tinggalkan Asep ya. Jangan tinggalkan Asep seperti emak.” Air matanya yg bening membasahi wajah polosnya. Karena terlalu semangat kerja sampai-sampai tenaga pun sudah tak kuat hingga demam meradang. Setelah 2hari istirahat aku kembali pada rutinitas seperti biasa. Membuat kue-kue dan nasi uduk Asep membantuku memilin donat manakala ia selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Bahkan ia sebelum berangkat sekolah menyapu halaman setelah selesai sholat subuh. selama hampir 3 tahun kehidupan kami lewati seperti itu. Hari-hari kami lewati dengan penuh semangat. Dan sore harinya di tempat cik Linda membantu memasang payet. Dari hasil kerja di cik Linda aku bisa membiayai sekolah Asep. Bahkan cik Linda menaikkan jabatanku juga gajiku. Kini usaha cik Linda semakin maju, ia bekerja sama dengan pengusaha dari negeri Jiran. Aku jadi tangan kanan cik Linda. Ia sangat mempercayaiku. Tahun depan cik Linda akan membuka cabang baru. Aku di percayakan membantunya mengelola usaha tersebut.

Tahun berganti tanpa terasa kini Asep telah menjadi siswa sekolah menengah pertama. Selama di bangku sekolah dasar ia menjadi murid yang pandai dan selalu menjadi bintang kelas karena kecerdikannya. Bahkan ia mendapat beasiswa. Kami berdua masih menumpang bersama mba Mayang dan mas Jamal.

Suatu malam di rumah pak Muis tetangga kami. Acara syukuran itu mengundang tetangga termasuk mba dan mas Jamal. Aku mewakili mba dan mas Jamal. Mereka pergi ke dokter membawa Topan yg sedang sakit.Anak pertama pak Muis telah berhasil dalam studinya kini bergelar sarjana. Lukman adalah pria yg tampan dan soleh. Ia selalu membantu anak-anak di mesjid mengajar mengaji. Aku beberapa kali sempat bertemu dan membicarakan Asep. Ia sangat memuji Asep anak yg baik dan pintar. Dia pun tau kalau Asep adalah anak angkatku. Dia pernah katakan bahwa niatku yg luhur menjadi ibu angkat seorang anak yatim piatu membuatnya terpesona. Aku saat itu mempercayai bahwa Lukman hanya terpesona pada kebaikanku bukan berarti dia jatuh cinta padaku. Hingga malam ini baru aku sadari setelah pengakuannya. Aku berjalan keluar setelah berpamitan pada bapak dan ibu Lukman.

“Terimakasih atas kesediaannya hadir malam ini.” Katanya sambil tersenyum.

“Sama-sama ya bang… Semoga bang Lukman secepatnya mendapat pekerjaan.”

“Dan juga istri…” Ia memandangku masih tersenyum dan senyumnya penuh arti.

“Insya Allah Amin, bang Lukman sudah punya calonnya? Kenalin ya bang. Apakah gadis itu yg tempo hari bersama bang Lukman?” tanyaku mengingat saat ia berpapasan denganku di jalan. Waktu itu ia bersama seorang gadis yg cantik, aku menduga dialah kekasih bang Lukman. Sempat hadir perasaan aneh dalam hatiku saat itu. Tapi secepat kilat ku tepis. Ah mana mungkin bang Lukman…aku hanya wanita biasa mana bisa di sejajarkan dengan wanita di sampingnya yg terlihat berpendidikan dan cantik lagi.

“Dia tidak jauh dari sini, rumahnya yg berpagar bambu itu.” Jawabnya melirikku. Aku mengingat ingat di lorong ini hanya rumah mba dan mas Jamal yg berpagar bambu. Aku sedikit tersipu dan tertunduk malu. “Ah,bang Lukman di lorong kita ini hanya rumah mba dan mas Jamal yg berpagar bambu. Jangan bercanda ah.” Kataku kemudian.

“Aku tidak bercanda aku serius. Rahmi maukah kau menjadi istriku?” sesaat hening diantara kami. Jantungku berpacu tak beraturan. Tanganku tiba-tiba gemetar dingin.

“Bang Lukman, aku ini wanita biasa mengapa memilihku?” tanyaku penasaran.

“Aku mengawini wanita bukan karena pendidikannya tapi aku mengawini hatinya.”

Tiba-tiba Asep datang menghampiri kami. “Bu, yuk kita pulang Asep udah ngantuk.” Aku melirik ke arah Lukman. Ia tersenyum mesra. Aku lagi-lagi tersipu. Malam itu menjadi malam yg tak dapat ku lupa, sejak itu hubunganku dengan Lukman terjalin. Selang tiga bulan kemudian Lukman dan keluarganya datang kerumah melamarku. Mba dan mas Jamal merestui kami. Asep gembira karena ia juga merindukan figur seorang ayah yg selama ini ia idamkan. Pernikahan kami sederhana saja namun berjalan lancar.

Sepuluh tahun berlalu sudah. Aku dan Lukman di karuniai dua orang putra. Fajar dan Raihan. Kasih sayangku pada Asep tak pernah berkurang ataupun terbagi. Dia sangat berbakti dan menyayangi adik-adiknya. Ia tumbuh menjadi pria yg sopan berbudi luhur dan cekatan. Semangatnya tak pernah luntur di makan waktu. Selepas SMA Asep berusaha sendiri membiayai kuliahnya dengan bekerja menjadi guru privat bahasa inggris dan menjadi montir di bengkel temannya. Dia pintar membagi waktunya bahkan kegiatan pengajian tak pernah ia lewati sedikitpun. Asep masih mengunjungi makam ibu kandungnya menaburkan bunga dan mendoakannya. Benar-benar anak yg saleh. Aku bangga menjadikannya anakku. Dialah semangatku walau bukan terlahir dari rahimku namun hatinya benar-benar membuat keibuanku terharu. Kini ia sudah bergelar sarjana hukum dan bekerja di kantor notaris. Saat kasus pertamanya berhasil ia menangkan…

“Bu, ini hasil Asep. Asep memenangkan kasus pertama kalinya.” Katanya dan memeluk erat pundakku. Aku terharu betul-betul tak dapat melukiskan keharuan hatiku.

“Sep, ibu bangga kau berhasil. Tetapi ini hasil jerih payahmu nak. Ibu tidak menuntut apa-apa pun darimu. Jangan lupa sholat mensyukuri apa yg telah Allah berikan padamu. Ibu dan bapak bangga padamu.” Aku memeluknya dalam hati ya Allah terimakasih Engkau telah memberiku anak yg berbakti.”Kalau begitu Asep simpan uang ini buat ibu dan bapak kelak berangkat haji. Niat Asep memberangkatkan bapak dan ibu ke tanah suci sejak lama,Asep tabung beberapa bulan terakhir tapi belum mencukupi sekarang bertambah tabungan Asep Insya Allah tahun ini ibu dan bapak bisa ke tanah suci.” Matanya memancarkan binar cahaya ketulusan. “Amin…anakku,terimakasih niatmu tulus buat ibu dan bapak.” Senyumku memeluknya. “Ibu sudah merawatku seperti anak sendiri, ibu yg selamatkan Asep sejak emak tiada, kasih sayang ibu pada Asep sungguh besar. Asep bahagia dan bangga menjadi anak ibu walau Asep hanya anak angkat ibu.” Ia mencium keningku kehangatan mengalir bersama butiran bening dari mataku. Aku mengusap rambutnya memandang wajahnya kini ia mencium tanganku dan berkata…

“Ibuku sayang,cinta kasihmu membuatku terlindung dan nyaman, terimakasih ibu ijinkan Asep membahagiakan ibu yg tak bisa Asep lakukan pada emak.” Air mataku semakin deras bu Saroh lihatlah kini anakmu ia telah menjadi anak soleh, pandai,rajin dan berbakti pada orangtua. Kami saling merangkul, kucium mesra anakku anak yg selalu membuatku bangga.

Berikanlah cinta kasih,maka rasa cinta akan mengalir ke dalam hati anda.(Bridge,Ann).

Dalam rangka memperingati hari anak nasional 23 Juli 2007.

Published in: on 24 Juli 2007 at 6:53 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/24/43/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: