LOVE YOU MOM


mantap-sayang.jpg By : Fira Rachmat

Bahwa anda dapat mencintai seorang manusia dalam seluruh hidup anda persis seperti anda mengatakan bahwa satu batang lilin akan terus menyala sepanjang hayat anda (Leo Tolstoy).

“Kasur di kamar adik-adikmu sudah di copot sepreinya? “
“Kumpulkan semua pakaian kotor di balik pintu kamar kalian !”
“Eeeiit … tunggu mama belum selesai. Jangan lupa sepatu sekolah kalian”

Suara mama bak seorang komandan memerintahkan prajurit-parajuritnya. Melengking, tegas, dan cepat. Bak peluru yang di tembakkan secepat kilat melaksanakan perintah kami berlari mengambil pakaian kotor yang berserakan di lantai dan tergantung di tancapan paku dinding. Dalam hitungan menit sudah di depan mama, menunggu perintah selanjutnya.

“Semua sudah kalian kumpulkan? Awas kalau ada yang tercecer.”
“Sekarang isi ember-ember itu. Selly, timba airnya!”, perintah mama pada kakakku.
“Elvi, pakaian-pakaian itu dibilas satu persatu, pakaian putih dipisah”.
“Selimut dan seprei biar nanti mama yangg cuci.”
“Tapi ma … setelah menimba air, Selly bantuin Elvi ngebilas kan?”
“We … itu kan tugasmu. Aku hanya nimbain air doang”
“Enak aja, aku nggk bisa sebanyak ini sendiri, tau!”
“Pokoknya kerjain aja malas amat sih!”
“Nggak. Mama nyuruh kita berdua, masak aku sendiri yang cuci”

Kami berdebat saling menolak sampai akhirnya mama memutuskan:
“Sudah, sudah. Kalian ini bukannya bantuin mama malah berantem.”
“Selly. Sehabis menimba bantu adikmu. Tidak ada tapi-tapian. Semua kerja, dan jangan bantah perintah mama”, Mama mulai kesal.
“Kapok lu, lagian pake acara ngadu segala dasar pemalas”, suara kakakku kesal.
“Siapa yangg ngadu. Aku hanya kasih tau mama. Abis enak di lu nggak enak di gue.”
“Kalo nggak gitu, kau pasti nggak bantuin kayak kemarin-kemarin’, kilahku nggak mau kalah, dia paling suka kerjain aku, sebel.

Hari itu hari minggu, hari gotong royong membersihkan rumah. Maklum kami termasuk KB (keluarga besar), mama, papa, dan kami bersaudara 12 orang. Kami tinggal di rumah yang tidak terlalu besar dengan tiga kamar tidur. Sederhana. Namun kebutuhan tercukupi. Yang utama kami bisa sekolah.

Aku dan kakak tiap tahun harus menggendong adik-adik. Kakak pernah bilang: “Ma … sudah-sudah deh melahirkan, kita cape nih gendong adik melulu.
Aku menimpali: “Iya nih ma … kan malu di ledekin teman, mereka bilang mau bikin kesebelasan sepakbola ya.”
Mama hanya tersenyum. “Kenapa harus malu? Apa kalian malu punya banyak adik? Mama dan papa saja nggak malu. Kalian karunia Allah”

Begitulah selalu jawaban mama. Saat itu aku berumur 14 tahun. Aku dan kakak selalu bertengkar. Apalagi soal gotong royong di hari Minggu. Kami sama-sama saling menolak, bahkan sampai saling jitak kepala. Kalau sudah begitu mama menghukum dengan menambah pekerjaan.

Saking seringnya bertengkar, suatu malam dipanggil mama:
“Selly, Elvi kesini”, teriak mama dari ruang tengah.
“Ya ma…”, serentak kami menyahut.
“Ini mama buatkan jadwal kerja kalian. Ambil lem dan tempel di pintu kamar kalian. Cepat. Sekarang”, suara garang mama membuat kami kalang kabut.

Setelah menempelkan kertas menyebalkan tersebut, kami membaca peraturan-peraturan yang akan mengikat kami.
“Aduh, kok malah aku jadi ikut masak di dapur ?”
“Itukan pekerjaanmu, selama ini kau yang bantu mama di dapur”.
“Emang enak. Bilang aja sama mama, protes gitu”, kata kakak sambil tertawa.
“Eh.. Sel, kamu engepel lantai dari depan sampai belakang”
“Trus kamu menggosok pakaian adik-adik”
“Biarin…”, kakak semakin gusar.

Aku menertawainya karena pekerjaan itu paling dibencinya. Dan … Selly tidak bisa berbuat apa-apa selain menggerutu. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kami harus mengikuti peraturan mama. Sudah banyak pembantu masuk-keluar rumah kami, tidak seorang pun yang betah. Akhirnya kami jadi satu team. Minggu ini Selly membantu mama di dapur, minggu besok aku.
***.

Sekalipun jenuh dengan tugas-tugas rumah, selalu ada keceriaan dan kegembiraan saat-saat berkumpul. Mama tidak mengenal lelah sebagai ibu dengan 12 anak. Kadang mama bercanda dan itu sungguh berkesan. Pernah mama mengatakan, semua ini demi kami. Aku belum tidak paham. Demi kami?

Terlahir dalam keluarga besar memang sangat melelahkan, kami harus meringankan pekerjaan orangtua. Papa tidak banyak bicara. Beliau jarang marah, tetapi sekali marah seisi rumah bak di guncang gempa. Kami lebih dekat ke mama. Walau tiap hari teriak-teriak hingga urat lehernya mengeras, marahnya tidak pernah menyakiti hati. Terkadang, kamilah yang suka membuat mama marah, dan marah. Kami menikmatinya.

Sekeras-kerasnya teriakan mama, setegas-tegasnya perintah mama, dibalik semua itu merasakan kasih sayangnya. Mama selalu memperhatikan keperluan kami hingga ke hal terkecil. Untuk meringankan beban keluarga, mama berdagang apa saja yang bisa dilakukannya. Pakaian, makanan, dan kue-kue. Selelah apa pun, mama selalu tersenyum.
“Elvi, kamu bantuin mama memegang mixer. Pagi-pagi harus sudah diantar ke ibu Sugeng”.

“Ma …pesanannya berapa banyak?”, kataku sambil merapikan buku pelajaran.
“Seperti biasa kalau bu Sugeng lagi acara arisan”.
“Berarti 5 talang. Ya … Elvi bantuin, tapi Selly juga ya ma. Biar cepat selesainya. Selly juga nggak ngapa-ngapain”, kataku.
“Iya, iya sudah. Sana panggil kakakmu. PR sekolah sudah selesai?.”

Malam itu kami membantu mama. Terlihat wajah mama yang kelelahan namun semangatnya tak pernah padam. Aku sangat kasihan melihat mama yang harus bolak-balik menetekkan adikku yang bungsu yang sebentar-bentar menangis dalam pelukannya. Di usiaku yang masih bau kencur aku menyaksikan perjuangan mama membantu pekerjaan papa dan mengurus ke12 anak-anaknya.

Kue-kue itu pun telah selesai, aku dan kakak kelelahan menahan kantuk. Bagaimana dengan mama yang tenaganya dari pagi hingga malam terkuran?
“Sudahlah kalian pergi tidur, besok pagi-pagi harus sekolah. Miar mama yang beresin semuanya”. Mama membaringkan adik bungsu di box tidurnya.

Pagi.
Sebelum ke sekolah aku membereskan piring kotor sisa sarapan. Selly memandikan adik-adik, memakaikan baju seragam, dan kami berangkat ke sekolah jalan kaki. Sekolah kami berdekatan, TK, SD, dan SMP. Kalau pulang, adik-adik yangg di SD pulang sendiri, yang di TK dijemput mama sepulang belanja dari pasar.

Siang
Pulang dari sekolah, seperti prajurit-prajurit baru pulang dari medan tempur, kami langsung menyerbu meja makan menyerbu masakan mama. Sungguh sangat menyenangkan bersama, beramai-ramai, nikmatnya masakan mama. Perut kenyang, lalu tidur siang sampai pukul 15.00-16.00, kecuali aku dan Selly yang harus membantu mama. Kadang mencuri-curi tidur siang setengah jam sungguh nikmat.

Malam
Matahari mulai berganti memancarkan cahaya senja merah, kami berkumpul dalam kehangatan di meja makan. Meja makan adalah tempat paling spesial, tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, tetapi juga tempat berinteraksi membicarakan segala hal. Adik-adik belajar dan mengerjakan PR di meja itu. Mamalah yang memprakarsai merundingkan apa-apa keperluan kami. Semua berawal selalu dari mama.
Sebelum tidur mama menciumi anak-anaknya, tanda kasih mama selalu bersama kami.
***
“Vi, tuh si Geby nangis terus, bikinin susu, cepat’, teriak Selly.
“Aduh kamu aja, aku lagi membersihkan kamar mandi”, balasku berteriak.
“Aku lagi bersihin kompor, tanganku berminyak. Apa kau nggak dengar si Geby nangisnya tambah kenceng”, suara Selly semakin keras.
“Iya … iya, ah bawel amat”, suaraku keras karena jengkel. Sambil menggerutu berlari ke kamar mama. Dan…krek ! suara gagang pintu yang sudah setengah rusak di makan karat, pintu kamar mama terkunci. Kuulang lagi dan lagi, tidak mempan. Tangis Geby semakin kencang.

“Geby, geby …Geby jangan nangis. Ini kakak bawain susu ya”.
Hatiku tiba-tiba merasa tidak enak, detak jantung mulai tidak beraturan.Ada apa gerangan? Resah. Selly tiba-tiba sudah di sampingku: ”Vi, ada apa?, tanya Selly.
“Kamar mama terkunci”
“Mama dimana?”, kataku gelisah.

Selly mencari mama, memanggil-manggil mama. Tedi dan Beni ikut mencari mama juga, tapi tidak ada. Mungkin ke luar, tapi kenapa kamarnya di kunci sementara Geby di dalam. Pikiranku mulai kacau. Tangis Geby tak juga reda, adikku berumur setahun terkunci di dalam sementara mama entah kemana. Selly memutuskan mendobrak pintu kamar.

“Gini aja kita dobrak. Ayo 1,2,3 “. Tidak berhasil. “Ayo lagi 1,2,3. Prrraakk. Pintu terbuka dan … “Mama… “. Serentak kami memekik, “Ma …mama, mama kenapa”. Selly histeris.

Mama tegeletak di lantai tidak bergerak sedikit pun. Selly mengguncang-guncang tubuh mama, menepuk-nepuk pipi mama, memanggil-manggil mama … mama … mama. Mama tetap diam … dan diam. Hanya tangisan yang menggema.

Meninggalnya mama tanpa kami duga. Mama menyembunyikan sakit jantungnya. Papa, suaminya, tidak diberi tahu, apalagi kami anak-anaknya. Mungkin mama tidak mau membuat kami cemas, atau memang sudah tahu bahwa … Ah desahku …

Otakku beku sebeku hatiku. Kesedihan yang juga yteramat memukul papa, papa yang belum sempat membuat mama bahagia. Kami masih kecil-kecil. Haus kasih sayang. Si Bungsu Geby tidak mengerti sama sekali, meraung-raung minta dipeluk mama.

Pandanganku buram, air mata kekeringan sumurnya. Aku dan Selly berpelukan. Ada penyesalan, kami sering membuat mama marah. Kami berjanji membantu papa, membuat mama bangga pada kami. Ma … maafkan kami … maafkan Selly … maafkan Elvi juga ma … sungguh kami benar-benar minta maaf.

15 Tahun kemudian
Disini, di rumah yang dulu pernah memberikan kehangatan kasih sayang seorang ibu, 15 tahun sudah berlalu. Aku masih merasakan hangatnya senyum mama, lembutnya belaiannya, tegarnya hidupnya. Ku rindu kecupan pengantar tidur. Kini usiaku 29 tahun, namun semangat mama tetap membara dalam ingatanku. Kedisiplinannya bak komandan perang, kini membuatku mengerti, mengasahku menjadi wanita tegar dan kuat menjalani kehidupan.

Aku bangga lahir dari rahimnya, aku bahagia menjadi anaknya. Mama … kini aku pun sepertimu dulu, seorang ibu. Akan kudidik cucumu sebaik engkau mendidikku. Hari ini kami berkumpul disini, di rumah tempat kau mencurahkan kasih sayang pada kami. Kerinduan kami … tak pernah hilang. Engkau bersinar dalam lubuk hati kami.
Mama … doa kami terus menyertaimu. Tenanglah di sana. Buah hatimu baik-baik saja, begitu pun papa. Jangan resah, tidurlah dengan tenang.

“Love You Mom…We Always Love You “

 

Published in: on 17 Juli 2007 at 9:13 am  Comments (4)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/17/love-you-mom/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sip abis cerpennya…., pencinta Leo Tolstoy ya… ada buku-bukunya di http://www.serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&op=pengarang&aid=62

  2. habis baca ini kok jadi teringat ibu…
    paragraf terakhir yang paling menyentuh

  3. bang uya salamu alaikum…yoi sy sk ama leo tolstoy novelx bagus…kata-kata bijakx menyentuh. mama selalu hidup dalam hati kita kemanapun mereka pergi.

  4. Hm…aku senang main-main disini.

    Baca tulisan penuh perasaan yang mengisi kekosongan jiwa

    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: