LEMBARAN HIDUP SANG MUALAF


mantap-sayang.jpg  By : Fira Rachmat

Berbekal nekat aku beranikan diri untuk ikut teman-teman taraweh dan saling taruhan siapa yg paling banyak kalahnya di bulan puasa ini.Awalnya aku hanya sekedar iseng doang ikut mereka karna kebanyakan teman-teman di sekitar rumahku mayoritas beragama islam so…mau nggak mau aku ikut aja apa lagi mereka mengajak “Mo ikutan taraweh nggak ?”.Aku spontan juga jawab “mau dong…boleh gak?” Salah satu temanku yg tertua saat itu bilang begini “Boleh kok,nggak ada yg larang malah pahalanya besar” Saking girangnya kami pun mulai menyusun rencana.

Sesuai janji kami kumpul di ujung gang dekat warung mak Ipah penjual gorengan tepat jam 7 malam itu.Di rumah aku bolak balik kebingungan “aduh aku nggak punya kain putih yg biasa di pakai sembahyang” ,batinku.”Gimana nih? Ah nanti pinjam aja sama teman-teman.Sekarang aku cari sarung dulu .Oma ada nggak ya sarungnya? Tapi apa alasanku kalau di tanya? Ah gampang tiba masa tiba akal hehehehe.”

“Ma…oma pinjam sarungnya yg di persen mama waktu ulangtaun dulu ya”

“For apa cari sarung?”

“ Mau belajar di rumah teman ,di rumahnya banyak nyamuk ma…”

“Ada-ada saja ngana ini sebentar oma ambil di lemari “

Aku lompat kegirangan, dalam hati berhasil berhasil.Tak lama oma kembali dengan bungkusan plastiknya.Kebiasaan oma suka sekali bungkus barang apa aja dalam kantong plastik. “Ini, cepat sana pergi jangan ba ganggu oma lagi.” Sebelum angkat kaki dari situ ku cium oma tanda terima kasih,karna memang kami semua bersaudara di didik jika mau ucapin trimakasih sama orangtua harus memberikan sun tanda sayang.”Makasih ya ma..i love u grandma mmuuaahh.”

Sekarang tinggal menghadapi mama…ah samain aja dengan alasan tadi. Kudapati mama di kamar sedang membakar obat nyamuk.” Ma,ada PR Sejarah nih susah banget aku gak bisa kerjain sendiri boleh gak kerjainnya di rumah Betty dia punya buku cetaknya yg baru.Sepuluh nomor, essay semua lagi.”Bujukku sama mama.

“Pergi aja tapi ingat cepat pulang, adek-adekmu pada kemana ?”

“Adek yg mana dulu ma…kan banyak” jawabku

“Ya semua adekmu lah, truz kakakmu ada dimana sekarang?

“Adik-adik lagi nonton tv kalau Nelly ada di kamarnya, udah ah ma entar kelamaan Betty nunggunya. Kali ini sun ke mama lagi sebelum pergi. “daa mama… pergi dulu ya.” Dengan langkah setengah berlari aku menyambar tas kantong plastic di atas meja. Disana di ujung gang itu teman-temanku sudah berkumpul,Asti,Mila,Tati,dan Desi mereka beramai-ramai serentak memanggilku “Flora…Flora,cepat !” Sampai ngos-ngosan aku karena senangnya ingin merasakan pergi bertaraweh dengan mereka.

“Asti aku nggak punya kain putih yg di pakai di kepala itu lo,apa sih namanya kerudung ya? Kataku polos saat itu.kan belum tau.

“Oo aku bawa dua kok,pake aja satu punyaku…namanya mukenah bukan kerudung.” Asti menjelaskan dan memberikan mukenah cadangannya padaku.

“Ayo kita jalan sekarang, nanti nggak dapat tempat ini kan hari pertama.”Seru Desi Kami berjalan cepat menuju mesjid di jalan raya,sepanjang perjalanan orang-orang berjalan kaki ramai , laki-laki perempuan tua muda anak-anak semuanya bersemangat se semangatnya aku yg saat itu sangat menggebu-gebu.Yang membuatku ingin tau apa sih enaknya taraweh? Apa sih enaknya puasa nggak makan nggak minum? Waktu aku mulai merasakan keingin tahuan tersebut disaat usiaku 14th dan dari situlah semakin bertambah dan bertambah keingin tahuanku.Dan sejak itu pula perjalanan hidupku di mulai… Setelah sampai di mesjid raya teman-temanku menuju ke samping mesjid untuk berwudhu,saat itu aku hanya mengikuti kemana aja mereka berjalan.

“Cepat dikit entar kita gak dapat tempat, sahut temanku Desi lagi. Sejak tadi yg di bicarakan hanya tempat melulu apa maksudnya dalam hatiku.

“Ayo kok bengong aja kayak patung?” seru Tati

“Dia kan belum tau bagaimana caranya ambil wudhu?

“Sini aku ajarin, ikuti aja begini truz bacanya “Nawaitul Wudlu a Liraf’il Hadatsil Ashghari Fardlan Lillahi Ta’ala” bela Asti dan mengajarku cara berwudhu.

“Aduh susah amat sih bilangnya As,nggak apa-apa kan kalo nggak pake bahasa gitu? Abis kamu ngomongnya cepat amat,mana bisa aku ikut? Jawabku saat itu.

“Ya udah nggak apa-apa ikutin aja gerakanku sekarang.”

“Sebenarnya ini hukumnya wajib,tapi gak apalah di maafin kok” kata Asti.

Ku ikuti gerakan Asti membasuhkan air ke wajah hingga ke telapak kaki satu persatu gerakannya tanpa terlewatkan sedikitpun.Dalam hati ku, mau masuk mesjid aja kok harus repot begini ya, apa ia ini suatu keharusan? Gimana kalo nggak ada air ya? Aku bertanya sendiri dalam hati. Tak lama kemudian kami berlima sudah berada dalam ruangan mesjid,salah satu temanku Mila menunjuk sudut kiri ruang dalam mesjid yg masih terlihat kosong.Kami berlima berjejer dan menghempaskan sajadah masing-masing.Aku hanya mengikuti apa yg mereka lakukan.Sampai mengenakan mukenah. Satu persatu mereka mulai melaksanakan sholat akupun juga tetap mengikuti apa yg mereka kerjakan.Entah apa yg mereka ucapkan mulut mereka komat kamit.Setelah selesai, Desi dan Mila berbicara tepat di sebelahku “ Tadi aku nggak sempat sholat Isya di rumah” kata Mila.” Aku juga, abis takut gak dapat tempat kan ini hari pertama” jawab Desi. O..jadi yg tadi itu namanya sholat Isya cape juga duduk berdiri tunduk berulang-ulang batinku.

“Flora kamu ikutin aja kita-kita” jawab Asti

“Ialah tapi,kalian dari tadi komat-kamit tuh baca atau nyebut apa sih?sampai berdesis-desis gitu? Truz banyak amat duduk berdiri ama tunduknya?jawabku. Mereka berempat tertawa serempak namun Asti yg tertua diantara kami memberikan penjelasannya padaku akhirnya.

“Memang gitulah sholat kita dalam ajaran Islam dan nggak asal duduk,berdiri,nunduk aja lo,ada bacaannya masing-masing jelas Asti. Tak berselang lama kemudian terdengar suara yg menggema seisi ruangan mesjid dan semua yg berada dalam dan luar mesjid berdiri serentak,aku ya hanya bisa apa lagi selain mengikuti aja.Mulai terdengar kalimat-kalimat di kumandangkan dan semua yg hadir bersatu dalam gerakan yg sama yaitu duduknya bersamaan,nunduknya bersamaan,sujudnya bersamaan juga sampai berdiri pun bersamaan dan di komando hanya oleh satu suara dalam gedung mesjid tersebut.

Aku merasa takjub akan pemandangan itu, seragam putih atau mukenah jadi terlihat sangat teduh dalam pandangan. Tak ada perbedaan kaya miskin tua muda semua tertutupi dengan hanya satu warna “Putih” ibarat tanda bersatunya mereka menjalankan ibadah.Mataku tertuju pada satu arah di depanku gambar kaligrafi yg indah terpampang besar di atas dinding putih,saat itu aku tidak mengerti, apa arti tulisan tersebut.Hatiku sangat tersentuh melihat gambar tersebut dan mendengar alunan kalimat yg tak ku mengerti sedikit pun dari sang suara yg tak terlihat olehku siapa orang itu.Yang ku tau ia pasti pemimpin dalam ibadah malam itu.Perlahan tanpa sadar aku merinding,entah apa sebabnya…bukan merinding ketakutan bo…nggak jelas pokoknya judulnya aku gak bisa jelasin deh. Keheningan hadir merasuki sukmaku saat itu,aku merasa ada kesejukan yg entah darimana datangnya.

Aku tidak tau di sebut apa sholat yg sedang berlangsung, sudah aku bilang aku hanya mengikuti teman-temanku sesekali melirik ke arah mereka.Kalau mereka sujud aku ikut sujud kalau mereka berdiri aku pun ikut juga begitu seterusnya sampai selesai. Dan yg membuatku kaget kata teman-temanku bahwa sholat taraweh di mesjid sini hanya delapan rakaat…kata mereka biasanya sampai dua puluh rakaat.Aku tercengang heran wah yg delapan aja udah keder, gimana kalau sampai dua puluh bisa-bisa keram semua nih badan pikirku tak habis-habis. Benar-benar susah ibadah mereka, sambung pikirku lagi.Tapi didalam sana tadi aku merasakan “sesuatu” dan sesuatu itu amat sulit ku mengerti maksudnya.Sementara aku hanya ikut temanku mumpung di ajak mereka . Tak ada yg memaksaku.

Hanya rasa penasaran yg membuatku ingin tau apa itu sholat taraweh kok setiap mendekati bulan puasa tiba teman-temanku membincangkan se olah-olah sudah tidak sabaran. Aku yg mendengarkan pun jadi seolah-olah bisa merasakan apa yg mereka rasakan padahal sih belum pernah merasakan nah bingung kan? Makanya hadirlah yg disebut penasaran, ia hadir mendesak hatiku yg saat itu tidak tau apa-apa sama sekali. Sungguh, aku simpan rasa itu hingga tiba di saat sekarang di sini, di dalam mesjid ini bersama teman-temanku.

Kami pulang jalan kaki lagi sama-sama, kali ini membicarakan pertemuan sebentar subuh,yaitu sholat subuh bersama di mesjid yg tadi. Aku kembali terbuai dengan cerita temanku Tati,”entar subuh kita ketemuan dimana lagi? Gimana kalau di tempat tadi aja kan warung mak Ipah rame… banyak yg sahur disitu.” Desi menyahut dengan kalimat yg sedari tadi di ulang-ulang. “Ya disitu aja tapi…ingat jangan telat nanti kita nggak dapat tempat soalnya hari pertama sih.” Itu lagi itu lagi kata teman-temanku “ iya bu guru cerewet…” Kami serentak ketawa bersama dan bergandeng tangan senangnya.

“Eittt, gimana denganmu, apa bisa kau keluar bentar subuh?” kata Tati seketika.

“Iya ya,kita sampai lupa sama teman kita yg satu ini” Mila ikut nyeletuk.

“ Apa kau masih mau ikut dengan kami?” Tanya Asti,dia paling tua diantara kami dan kami menganggapnya sebagai pemimpin.

“Iya dong aku pasti ikut kalian sebentar… asal aku tidak ketiduran ya…” jawabku.

“Kalau begitu pasang weker di bawah bantalmu ,jam 3 sahur jam 5 kita sholat subuh”

“Maksudku kau harus bangun jam 3 untuk makan sahur dan jam 5 kita berangkat sholat subuh jangan lupa sarung dan mukenah di bawa,oyah mukenahku itu buatmu sajalah aku punya 3 lagi kok.” Kata Asti menjelaskan. “Benar nih, buatku? Makasih ya Ti” jawabku kegirangan.Aku udah punya mukenah sekarang bisik hatiku aduh senangnya.

Sesampainya di rumah aku menyembunyikan mukenah yg ku bungkus rapi dalam kertas koran.Sengaja ku sisip ke lemari pakaianku bagian dalam. Aman, bisik hatiku. Aku tak dapat memejamkan mata,sebentar-bentar melirik jam dinding ah masih jam 12 aku takut tidak bisa bangun sahur , weker tidak berfungsi batu batere nya sudah harus di ganti baru. Aduh gimana ya,ah mudah-mudahan aku tidak ketiduran,harapku di hati.

Jam menunjukkan angka 1.45 hm…sebentar lagi kataku berbisik sendiri sambil menggosok-gosokkan mata menahan kantuk yg mulai menyerangku.Ku belalakkan mata berulang-ulang agar kantuk sialan ini tidak menyapu-nyapu kelopak mataku. Wuaahhh akhirnya tanda kantukku lengkap sudah nguap an keluar dari mulutku. Jangan…! Tahan..sedikit lagi waktunya sahur. Kau sudah bisa bertahan beberapa jam masak sekarang sudah mengalah? Suara itu muncul tiba-tiba dalam hatiku.

Ah…lebih baik aku cuci muka dulu, biar segar ya..seakan menjawab suara yg tak diundang tadi. Aku berjalan ke kamar mandi ku basahi muka ku berkumur-kumur membersihkan mulutku terakhir ku bilas sekalian kaki dan tangan alhasil aku setengah basah ujung-ujung rambut pun tak luput dari percikan air.

Hufh…segar sekarang.ku lirik lagi jam dinding kamarku 1.55 sekarang aku ngapain lagi mataku tertuju ke rak buku sekolahku. Yes…sembari nunggu aku baca buku aja ah. Nah begitu dong,kamu memang pintar, kembali suara itu datang memujiku. Kemudian ku raih buku cetak PMP(pendidikan Moral Pancasila)ku membaca bab terakhir, sengaja biar cepat selesai pikirku.Bosan juga,ah lebih baik tulis diary. ku tulis tentang kisahku hari ini,hari yg menyenangkan pengalaman pertamaku di bulan puasa bulan Ramadhan tahun 1987, selesai tulis aku tertawa sendiri ada rasa senang menjalar dalam hatiku. Waktu itu aku tidak tau memprediksikan lebih dalam tentang perasaanku yg ada di diary itu hanya kalimat bukan main senangnya hatiku mengikuti sholat taraweh dan sebentar lagi aku makan sahur dan sholat subuh bersama teman-temanku.Itu kalimat 14 th seorang anak gadis dan sampai sekarang terekam di memory otakku.Untungnya pita-pita rekaman masih mulus berjalan saat di rewain alias di flashback ke tahun 1987 masih lancarlah bak komputer bahkan kadang komputer aja bisa error Alhamdulillah otakku ini ciptaan Allah dan fail tentang kejadian itu masih tersimpan rapi,Otak kita bisa seribu kali bahkan sejuta kali lebih canggih dari komputer kok. Ngomong-ngomong kita lanjut dulu ke ceritaku.

Tak lama berselang terdengar seruan “Sahur….sahur….sahur !” suara dari mesjid belakang rumahku membangunkan penduduk sekitarnya. Aku bereskan diaryku. Dalam hatiku loncat kegirangan ufff akhirnya.Tidak tinggal diam aku berjingkrak-jingkrak keluar kamar.Niatku mau mengambil roti dan membuat segelas teh untuk sahur eh tiba-tiba oma keluar dari kamar aku berteriak Akhhhh….!!!! kaget minta ampun soalnya rambut oma yg sudah putih semua berantakan berdiri kayak landak mirip rambut si promosi tinju Don King.Teriakkanku malah membuat oma ikutan kaget juga.

”Forfeilen !” bentak oma sambil mencubit lenganku. “Ngana bikin apa subuh-subuh begini ha!”masih marah juga,karena kaget kacamata oma dipakai terbalik.Kunyalakan lampu di ruang tengah. Sekarang oma sudah jelas melihatku,”Oma kacamata oma terbalik” membetulkan letak gagang kacamatanya.”aku mau pipis kok ma” jawabku enteng memeluk lengannya sambil menahan senyum karena kacamata oma yg miring membuatku merasa lucu.Kemudian oma ke kamar mandi.Otakku mencari akal bilang apa lagi ya kalau ketahuan aku bikin teh jam 3 begini? Otakku cepat memproses dan ahh..dapat ! Aku mengambil gelas dan menyeduh teh melarutkan gula pelan-pelan ku aduk sampai tak terdengar suara dentingan sendok menari-nari dalam gelasku.Persis seorang pencuri yg beraksi.Oma keluar dari kamar mandi,melihatku bingung namun belum sempat oma mengatakan sesuatu aku sudah siapkan kalimat smack downku. “Lapar ma,aku tidak bisa tidur tadi Cuma makan sedikit” sambil nyengir pasang tampang memelas.Klop ! Oma tidak reaksi lagi dengan bahasa belandanya mungkin juga tidak sampai hati liat cucunya kelaparan,hehehe.Sekarang aman,bisik suara di hatiku. Kunikmati roti selai 2potong dengan segelas teh hangat mengalir di tenggorokanku hmm…nikmat rasanya. Usai itu kulirik jam di ruang tengah ops…hampir jam 4. masih sejam lagi keluhku resah.

Aku ke kamar tidurku membuka lemari mencari-cari mukenah yg ku simpan di balik pakaian-pakaianku.Kini sarung dan mukenah itu sengaja ku taruh di kursi ruang tamu supaya saat keluar nanti aku sudah dalam posisi siaga satu.Sambil menunggu jam 5 aku berjalan jingkrak-jingkrak kesana kemari sudah tak sabar keluar dari pintu itu.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 5 tepat. Aku memutar kunci rumah pelan-pelan berharap tidak membangunkan penghuni rumah dan….berhasil ! Kurapatkan kembali pintu dan klik kunci ku cabut dari lubangnya.Dengan terengah-engah aku berlari ke ujung gang tempat pertemuan kami.Asti,Mila dan Desi sudah menunggu hanya Tati yg belum kelihatan batang hidungnya.”Akhirnya aku bisa juga keluar” seruku pada teman-temanku.”Tadinya ku pikir kau ketiduran abis kau kan tidak biasa bangun jam begini?” kata Desi. “Hei.. dugaanmu salah,malah aku tidak bisa tidur dari jam 10 aku gelisah terus,jam wekerku mati ya udah aku tunggu sampai terdengar teriakan sahur sahur.” Balasku membela diri. “Wah hebat kau sampai tidak tidur,aku aja masih di bangunkan kalau sahur sama ibuku.” Celetuk Mila kemudian.”Sudah,sudah Flora tadi kau sudah sahur nggak?” Kata Asti. Aku hanya mengangguk.”Hey kau betul-betul serius mau puasa ya?” kata Desi seakan tak percaya. “Iyalah,emangnya kenapa? Tidak boleh ya?” Sahutku pada temanku yg terkenal sangat cerewet itu.”Ayo kita berangkat itu si Tati sudah datang” Asti memotong pembicaraan dan menunjuk kearah Tati yg baru tiba. Kami berlima menuju mesjid,tiba-tiba jalanan yg tadinya sepi kini di penuhi pejalan kaki lain yg tujuannya sama dengan kami yaitu menunaikan sholat subuh bersama.

Seperti saat taraweh aku juga hanya mengikuti teman-temanku.Mengambil wudhu dan mengikuti gerakan sholat mereka. Aneh ada sesuatu yg mengalir di dalam hatiku,bukan sekali ini saja,sudah yg kedua kali ini aku rasakan getaran-getaran itu hadir di lubuk hatiku.Aku tak bisa melukiskannya.Lantunan ayat-ayat yg di kumandangkan membuatku merinding.Padahal aku tidak tau artinya apa. Setelah selesai aku bertanya pada Asti temanku karena dia yg paling besar diantara kami.

“Ti, tadi waktu di mesjid kok aku merinding yah dengar pemimpin sembahyang itu.?”

“Oo itu di sebut Imam dia pemimpin sholat,kenapa kau merinding?”

“Itulah aku heran,padahal aku tidak tau artinya kok merinding sih?”

“Apa rasanya seperti ketakutan liat setan ya?” goda Asti.

“Bukan seperti itu,aku malah rasa tenang waktu dengar ayat-ayat itu.”

“Alhamdulillah,kenapa kau tidak masuk Islam aja? Kau bisa masuk surga lo”

“Tapi cara berdoa kalian susah amat sih? Harus puasa,kalau sembahyang harus bersih

Truz baca doanya ribet wah…aku tidak bisa ikut tuh bahasa Arab.”

“Belajar pelan-pelan nanti bisa kok.Orang yg terlahir Islam juga belum tentu bisa baca Alquran dan yg lebih memalukan tidak semua orang muslim menjalankan ibadah puasa mereka hanya Islam KTP doang. “Begitulah perbincanganku dengan Asti saat pulang dari sholat subuh 21tahun yg lalu.Sejak itu aku selalu mencuri-curi kesempatan selama bulan puasa.Memang selama sebulan penuh di tahun itu aku tidak penuh berpuasa dan menjalankan ibadah sholat taraweh tetapi diawal itu aku sudah merasakan panggilan hatiku,saat yg paling mengesankan dan yg tak bisa kulupakan menahan lapar dan haus serta menahan amarah, menahan godaan saat mencium bau masakan mama dan melihat mereka makan saat siang hari. Batul-betul membuatku tertantang untuk tidak tergoda sedikitpun.Aku harus pura-pura sakit perut,sakit kepala,pusing dan banyak alasan yg kubuat hingga mereka tidak curiga.Namun sampai dimana pun kututupi akhirnya ketahuan juga.Tapi Alhamdulillah alasanku pada mama apalagi oma cukup membuat mereka mengerti.Bahwa aku hanya ingin tau rasa penasaranku pada agama Islam saja.Tapi taukah sampean semua? Rasa penasaran itu tumbuh kian melekat dari tahun ke tahun hingga akhirnya aku resmi menjadi pengikut nabi Muhammad sejak perkenalanku dengan mantan pacarku yg kini telah menjadi suamiku, dua kalimat sahadat keluar dari hatiku.Tulus ikhlas dan murni.Aku sangat bahagia bahkan dia mengatakan kalau hatimu ikhlas memeluk agama Islam tanpa bantuan siapapun buktikan bahwa kau mampu menjalankannya.

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan aku sudah terbiasa bahkan terkadang ada kerinduan tak sabar menanti datangnya bulan penuh hikmah itu.Dalam hal belajar sholat aku pernah sampai menulis surat-surat Al Fatihah,Al Ikhlas,Al Falak,An Nas dan surat-surat pendek lainnya di belakang almanak tua.Cara baca ruku,I tidal,sujud sampai duduk diantara dua sujud dan tahyat pun tak luput ku tulis satu persatu.Tapi bukan dengan tulisan Arab… melainkan huruf latinnya.Yah namanya juga belajar so step by step. Sampai aku hafal di luar kepalaku.Aku hanya di berikan buku kunci ibadah oleh ibu mertuaku.Dari situlah awal aku belajar tentang semua ajaran agama Islam.Tak puas hatiku ku sisihkan uang belanja agar bisa membeli buku-buku tentang Agama Islam. Yang menakjubkan…

Kehamilanku yg menginjak usia 8bulan adalah bukti terhebat dalam hidupku. Aku menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.Aku bisa bertahan dan Alhamdulillah pada hari pertama lebaran anakku lahir dengan selamat.Aku sangat bahagia tak terlukiskan. Kami memberinya nama Nadya Safitri karena hari kemenangan hari yg fitri dia lahir ke dunia ini.Itulah pemberian yg terindah,kado dari surga untukku.Subhanallah! Keluargaku awalnya tidak merespon pilihanku ini.Tetapi hatiku sudah mantap dan yakin,Akhirnya papa hanya bisa mengatakan jalankan apa yg sudah menjadi pilihan dan kepercayaanmu,hiduplah yg baik dan bahagia karena bagaimana pun kau adalah anakku.Betapa indah hidup kurasakan. Maghfira namaku sekarang pemberian ibu mertuaku yg artinya Pengampunan.Semoga dosa-dosaku pun di ampuni.Amin.

“Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

(Q.S Al-Baqarah 201).
“Wahai Tuhan yang membalik-balikkan hati,tetapkanlah hatiku pada agamamu.”

(H.R At-Thirmidzi)

Published in: on 17 Juli 2007 at 9:28 pm  Comments (5)  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/17/lembaran-hidup-sang-mualaf-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Assalamu’alaikum saudaraku……..
    jangan pernah lupa dengan-NYA dan jangan lupa dengan saudara kita yang selalu teraniaya di daerah timur tengah…..mari kita bariskan syaf kita agar dilindungi-NYA dari orang-orang kafir.amin… Allahhuakbar….wassalamu’alaikum

  2. biji yg jatuh di celah batu akan tumbuh dan akhirnya mati!!!

    • Dan pastinya bukan batu melainkan tanah subur……..

  3. alhamdulillah………

  4. tidak ada yang lebih menyegarkan jiwa selain kasih yesus yang tidak bercelah ,imam atau pun koloni nampak memberi kedamaian itu hanya sekedar ,,setelah kita tau kebusukan mereka ,baik dalam prilaku ,di dasari oleh kemunafikan .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: