DALAM KEHENINGAN PARIS


 

mantap-sayang.jpg By :Fira Rachmat
Bila anda mencintai seseorang, biarkan ia pergi. Bila ia kembali maka ia akan selalu menjadi milikmu, dan bila tidak maka ia tak akan pernah menjadi milikmu (Kahlil Gibran).

Dari arah samping koridor gedung menjulang tinggi itu, Lila menatap taman bunga yang dulu membuatnya sangat bahagia. Tempat itu, walaupun berada di tengah-tengah kepadatan dan kebisingan kota besar, tetapi tidak mengurangi keindahannya. Disitulah Lila pertama kali merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan yang tidak akan pernah hilang daeri ingatannya.

�Putri Lila hentikan langkahmu. Jangan, sekali-kali jangan. Jangan sampai kakimu melewati anak tangga kedua itu!�. Reflek Lila tersadar dari lamunan, dan mendapati dirinya sedang melangkah ke arah taman yang penuh kenangan.
�Eh kamu rupanya. Dari mana saja sih kok tiba-tiba ada disini?� Ah dasar pikun. Bukankah kemarin kamu yang menelepon dan meninggalkan pesan kepada Mbak Surti untuk membawa brosur Paris The Best Place To Rest?
Dengan geli aku menatap temanku yang sangat memperhatikanku, terutama sejak peristiwa itu.
�Sorry, I�m so sorry my friend, tapi apa brosurnya sudah ada?�
Dengan cepat di rogohnya tasnya. �Untuk kamu sahabatku yang cantik. Lani selalu ada untukmu ��

Kami beranjak menuju kafe di seberang taman sembari berbincang- bincang membahas brosur tentang Paris yang baru kubaca selintas.

Tak terpikirkan olehku, apakah dengan menghibur hati dapat melupakan semua yang pernah kualami bersama Fandy. Lagi lagi namanya kusebut, dan memang tak akan pernah bisa kulupakan.
Di taman itu Fandy dan aku pernah berjanji akan pergi ke suatu tempat yang jauh lebih indah dalam ikrar cinta. Pengalaman mencintai seseorang teramat melekat dan membekas di lubuk hati terdalam. Ah� tidak, tidak. Aku harus melupakan semuanya. Harus!

�Lila. Kamu jangan begtu dong�, suara-suara dalam hatiku seolah menegur. Lani benar. Aku boleh hidup dalam kenangan. Lila semangat, semangatlah. Mana keceriaanmu dulu. Mana senyuman manismu yang lepas bak burung camar Itu kalimat yang selalu diucapkan Lani padaku saat menghiburku.

Besok pagi aku harus mendatangi travel wisata yang di promosikan Lani. Yap �begitu baru namanya Lila, kenapa harus takut? Mana tahu ini adalah jawaban mungkin yang selama ini aku cari.

Saat aku melangkahkan kaki memasuki halaman gedung perkantoran di kawasan Sudirman masih sangat lengang. Mungkin karena terlalu bersemangat, aku tidak menyadari, pagi itu terlalu dini untuk jam kantor. Ku sapa dengan senyum seorang petugas kebersihan: �Selamat pagi pak?� Sapaanku dials ramah: �Selamat pagi juga mBak. Aapa nggak terlalu cepat ngantornya?� Aku hanya tersenyum dan menjawab �Iya nih pak. Silahkan di lanjutkan kerjanya ya pak. Permisi��. Ah sudah saatnya hari ini harus kuisi dkeceriaan dan memandang jauh ke depan.

Pukul 09.00 pintu kantor biro wisata dibuka. Satu persatu karyawan datangan. Akun melangkahkan kaki masuk dan menuju meja informasi. �Selamat pagi Pak. Saya mau konfirmasikan mengenai brosur Paris Is The Best Place To Rest.� Karyawan melayani dan menjawab ramah: �Anda klien kami pertama pagi ini. Silahkan menunggu sebentar. Saya akan tanyakan pada bagian yang mengurusnya. Tidak sampai sepuluh menit aku di persilahkan masuk ke pintu yang menuju arah koridor yang didesain sangat bagus. Setelah mendapatkan penjelasan dari managernya langsung aku putuskan bergabung dalam Tur ke Paris bersama sepuluh orang lainnya.

�Paris The Best Place To Rest�. Yah aku akan buktikan, apakah tur itu benar-benar bisa membuat tenang, melepaskan kelelahan setelah peristiwa yang menimpaku. Dengan cepat kuraih telepon genggamku dan memencet nomor HP Lani memberi tahu bahwa aku sudah memutuskan yg terbaik buatku.

�Hallo, morning sist � are you there? Lan, pagi ini aku sudah ke kantor biro itu dan sesuai dengan jadwal mereka aku beserta sepuluh orang lainnya berangkat akhir minggu ini�.
�Hah� mimpi apa aku semalam atau aku lupa membersihkan telingaku ya?� Ah dasar sahabatku ini paling suka mengerjain orang.
�Lan,aku serius nih. Aku baru aja keluar dari kantor biro itu dan orang pertama yg kuberitahu adalah kamu, tau!�
Terdengar tawanya terkekeh-kekeh dan ia pun menjawab: �OK, OK, sayang. Selamat deh. Maaf aku kaget kamu begitu cepata mengambil keputusan. Tapi, � eit tunggu dulu. Karena aku berjasa membuatmu sadar dari mimpi, aku minta di traktir sebagi upahnya, gimana?�
�Makanya aku hubungi kamu, mau ngajak makan siang.�
�Ok deh, sampai ketemu Putri Lila�.�
�Ingat kafe yg biasa kita makan bersama? Sekarang kamu ke kantor, kerja yang benar ya.� Lila bergumam dalam hati, semua akan baik-baik saja. Yes�lihat aja nanti tak sia-sia semua ucapanmu selama ini Lan.
***

Siang itu kafe sangat ramai karena bertepatan dengan waktu makan siang. Aku dan Lani berbincang-bincang mulai dari mengapa secepat itu aku memutuskan rencana ini sampai apa-apa yg harus aku lakukan selanjutnya. �Yah sepi dong enggak ada kamu, tapi jangan lupa telpon setibanya disana ya �.�
�Iya�iyalah. Bawel amat sih kamu. Lagi pula kamu tidak akan kesepian, kan ada Dandy menjadi wachtdog-mu he � he ��

Jujur saja, aku iri melihat hubungan Lani dan Dandy yangg begitu mesra. Namun, bagaimanapun aku bahagia, setidaknya sahabatku ini tidak sepertiku yang tak pernah awet dalam menjalin kasih.

Kami berpisah di simpang jalan. Lani ke kantornya. Aku pulang dengan percaya diri dan hati penuh harap menunggu hari keberangkatan ke Paris. �Paris oh Paris�, tunggu kedatanganku, aku membatin. Aku membyangkan banyak hal, aku tak akan menyia-nyiakannya. Hidup tidak sampai disini masih panjang perjalanan, banyak jalan ke Roma. Yap Lani benar dan aku harus bisa membuktikan bahwa ini hanya mimpiku yg terburuk.

Tak terasa tinggal sehari lagi aku akan terbang ke Paris besok. Telepon di ruang tengah berdering. Aku berlari kecil meraih gagang telepon dan � dari kantor biro perjalanan memastikan keberangkatan besok. �Halo! Dengan nona Putri Lila? Kami dari kantor biro mau konfirmasikan bahwa besok siang jam 12.00 tepat di tunggu bersama sepuluh orang peserta lainnya. Jangan sampai terlambat ya, ada beberapa data yg harus dilengkapi. Cepat saja kujawab, aku akan tiba setengah jam sebelum jam 12.00.

Pakaian dan perlengkapan sudah ku kemas dalam koper. Tidak lupa novel-novel dan diary. Telepon berdering lagi kali. Ini tak mungkin dari kantor biro. Pasti si Lani yang mengingatkan akan hari esok.
�Halo ini Lani, hai gimana apa sudah siap besok Lila?� Tuh benar kan dugaanku.
�Iyah, sudah dong. Barusan ada telpon dari orang biro sekedar memberitahukan bahwa besok harus tiba tepat waktu jam12.00.�
�Ya udah besok aku dan Dandy akan mengantarmu sayang. Awas jangan sampai berubah pikiran, Bersenang-senanglah, lupakan semua yang menyakitkan, tapi jangan lupakan aku. Ingat telepon setiba disana?�

Lani, Lani. Seperti biasa dengan cerewetnya, tetapi aku sangat bahagia bisa jadi sahabatnya. Sangat mengerti dan enak di ajak bicara. Tidak pernah lelah memberikan masukan dan memberi dorongan positif seperti saat aku mengalami kejadian itu.
Pagi yg cerah udara sangat bersahabat langit saat ini biru sebiru hatiku,dan burung-burungpun berkicau menandakan hari ini hari sangat membahagiakan. Setelah sarapan aku berpamitan dengan papa sebelum beliau berangkat kerja. Papa sangat mendukung karena tahu aku dalam keadaan tidak menyenangkan. Beliau tidak suka dengan kata frustasi. Papa sudah lama ditinggal mama namun berusaha tidak larut dalam kesedihannya. Bukan berarti tidak mencintai mama melainkan dengan begitu mama akan tenang di alamnya.

Papa sering mengatakan, mama wanita yang amat papa cintai. Saking cintanya, papa tidak mau mencari pengganti mama. Bagiku papa adalah the best father. Sebenarnya, tak kuasa menahan sedih berpisah dengan papa, walu hanya untuk beberapa waktu. Hanya papa milikku satu-satunya setelah mama tiada, aku tidak punya saudara untuk berbagi kasih sayang. Tetapi kata papa: �Perginya kan ngak lama, hanya seminggu. Anak papa kok cengeng begitu sih? Nanti jangan lupa telpon dan bersenang-senanglah Lila.

Aku memeluk papa dan berjanji, setelah pulang akan hidup dengan ceria seperti dulu lagi. Pukul.00 10 aku sudah dalam perjalanan ke kantor biro dan pukul 11.00 aku tiba dan disana Lani dan Dandy sudah menanti.
�Aduh Putri Lila kok wajahmu muram begitu? Jangan katakan kalo hatimu berubah aku tak mau mendengarnya.�
Dandy menyalamiku dan aku memeluk erat sahabatku. �Tidak akan aku sia-siakan semua yang telah kamu lakukan untukku Lani, Aku sedih meninggalkanmu.�
�Oh, jangan begitu. Jangan bersedih. Aku tetap sahabatmu. Walau kamu di ujung bumi kamu ada di hatiku. Lagi pula, kan kamu tak berencana untuk tinggal di Paris selamanya kan?�.

Setelah berbincang-bincang, aku mengisi beberapa hal seperti disayaratkan kantor biro perjalanan. Lalu, bis pengatar tiba, dan langsung menju Soekarno-Hatta.

Betapa melelahkan penerbangan ke Paris. Siapapun akan bosan hanya duduk di kursi selama 12 jam. Aku membunuh kebosanan dengan membaca novel. Tak terasa perjalanan mengantar ke tujuan, Paris. Dari dalam pesawat kagumku tak hindar-hindar. Terbayangkan cuacanya bersih dan segar. Uuuaaahhh selamat berjumpa Paris. Akanku kureguk aromamu, mari kita berbahagia, beri aku kebahagiaan.

Rombongan di jemput dengan bis dan tujuan pertama ke hotel tempat menginap. Hari pertama kami istirahat saja di hotel sembari berjalan-jalan seputar hotel. Tour baru akan dimulai besok.

Esoknya, setelah sarapan, kami pun masuk dalam bis yang telah di siapkan untuk perjalanan kami selanjutnya.Teringat semalam suara papa dan Lani mereka sama-sama memberiku semangat agar menikmati perjalanan tur ini.Bis berjalan dengan di pandu leader yang ramah menerangkan rute perjalanan. Kami melewati jalan yang dulunya adalah kawasan asal mula kota Paris, Il De La Cite. Sungguh indah kota Paris. Pemandangannya sangat bersih dan bangunan-bangunannya artistik, masyarakatnya ramah. Kami berhenti di menara Eiffel. Sungguh panorama yg tak terlukiskan.

Ku nikmati semua keindahan Paris dari puncak Eiffel. Betapa senang melihat semua itu. Setelah itu rombongan beranjak menuju Arch de Triomphe, gerbang kemenangan Napoleon Bonaparte sampai Katedral Notre Dame, gereja dimana Napoleon dinobatkan dan lebih terkenal akan legenda Hunchback of Notre Dame-nya. Tak terlewatkan museum Louvre bangunannya sungguh megah memiliki ruang pamer seluas 60.000m2 dengan 35.000 koleksi benda seni. Awalnya bangunan ini merupakan kastil. Bahkan lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci sangat luar biasa ada disitu. Semua ini membuat hatiku sangat bahagia dan takjub, tak satupun ku lewatkan momen seperti ini dengan kamera digitalku.Inilah kenang-kenangan yang terindah dalam hidupku.

Sungguh melelahkan tak terasa hari menjelang senja rombongan kami balik ke hotel dan berisrahat. Hari yang sangat inda,h yah aku sangat bahagia�. Ternyata hidup ini sangat berarti, Tuhan memberikan kita cobaan tetapi terkadang kita lupa bahwa sebenarnya itu hanyalah ujian aga kuat menghadapinya. Memang amat sulit awalnya namun ternyata kini aku mengerti bahwa tidak selamanya harus meratapi kesedihan terus menerus. Sekarang aku di sini tempat yang pernah aku dan Fandy impikan dulu. Awal yang baik Lila, kamu sudah dapat menguasai perasaanmu, sekarang bersyukurlah bahwa semuanya akan berlalu.

Pengelaaan di Paris terasa begitu cepat. Besok kami harus sudah pulang sesuai jadwal. Tidak mengapa, aku puas menikmati tur ke tempat-tempat indah dan bersejarah. Perjalanan kami terakhir ke Champ Elysees, jalan paling terkenal di Paris, menikmati tak puas-puasnya kafe-kafe dan butik-butik perancang terkenal. Begitu banyak cerita yg akan ku sampaikan pada Lani dan Papa.
Ahhh, aku sangat tenang dan damai melewati semuanya bersama rombongan. Kebersamaan dan tanggung tour leader adalah cerita tersendiri yang sangat bermanfaat. Ketika ada peserta yang mengalami pusing, kami saling membantu, ada yang memberikan minyak angin, ada jyang memberikan obat sakit kepala. Kekeluargaan terasa begitu padu, walaupun belum terlalu saling mengenal satu sama lain.

Khusus pada pasangan suami istri di sebelah kamarku, Bapak Sam dan Ibu Ratih, merasakan kebahgiaan teramat sangat. Tur dalam rangka memperingati perkawinan emas. Mempererat ikatan cinta, berbulan madu kedua, dan � itu di Paris. Merka berbulan madu pertama di Nice, kota pantai yang sangat indah, �Queen of the Riviera�. Merka bertemu dan kawin ketika sama-sama menjadi mahasiswa di Perancis. Rombongan singgah Nice, pantainya sungguh romantis. Seandainya mama masih ada, pasti papa akan berbuat hal yagg sama.

Malam ini, aku merenungi semua yg terjadi dalam hidupku. Suasana hening dalam kamarku dan lampu yg temaram menemani. Aku merasa sangat damai dan tenang, tanpa Fandy. Kami dulu pernah berjanji akan bersama-sama melihat keindahan Perancis. Walaupun Fandy meninggalkanku bukan karena keinginannya, tentu Fandy akan lebih tenang mengetahui aku sekarang berada di sini, menyaksikan semua yang kami impikan bersama. Kepergiannya membawa duka yang dalam.

Kalau saja gedung itu tak runtuh menimpanya, aku sudah menjadi tunangannya. Maut menjemputnya sebulan sebelum pertunangan itu. Pada awalnya aku merasakan Fandy begitu tega meninggalkanku pada saat akan mengikat janji suci, pada saat hatiku benar-benar terbuai cinta kami. Kini sudah setahun berlalu. Aku harus merelakan dan mendoakan agar Fandy tenang disana.
Maafkanlah aku sayangku. Cinta membutakan sampai tak kuasa melepas bayang-bayangmu. Kini, disinilah, di Paris, di tempat yang kina angankan, kurelakan kepergianmu. Aku bersama ketulusanmu, kehangatanmu, kini Tuhan membrinku pencerahan. Mencintaimu tidak harus merubah apa yang sudah menjadi kehendakNya. Fandy sayangku, keheningan ini pengantar kerinduanku padamu. Besok aku kembali menjadi diriku, ceria sebagaimana kau selalu mengatakan. Lilaku yang manis dan ceria �

Aku akan mengenangmu bukan dengan memendam cinta yang menyakitkan, tetapi dengan cintaku yang terindah. Cinta yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Fandy maafkan aku dan doaku selalu menyertaimu, sayang �

Jakarta

 

Published in: on 17 Juli 2007 at 9:12 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/17/dikeheningan-paris/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: