DIATAS NAUNGAN SEJADAH


mantap-sayang.jpg By : Fira Rachmat

Menahan diri dari penderitaan adalah ujian sejati bagi kerulusan hati. Terdapat ujian ilahiah di balik kepedihan yang bersifat fisik (Gandy).

Terngiang terus di telingaku pembicaraan para penggosimud (penggosip ibu-ibu muda) tentang mBak Heni. Aku terlibat perdebatan, membela mBak Heni. Tega-teganya mereka menuding, wanita jalang. Sungguh kasihan. Setiap mengantar anaknya ke sekolah wajah-wajah masam dengan sindiran bak sembilu menyayat ulu hati adalah santapan rutinnya. Mbak Heni menjadi bulan-bulanan gosip.

Aku bersimpati. Empatiku melengket. Apakah karena aku juga sedang dilanda masalah hingga dapat merasakan penderitaan mBak Heni? Entahlah. Aku tersentak dari lamunan. Seperti malam-malam sebelumnya, Siva terjaga kalau aku tidak di sampingnya. Kulirik jam, hampir setengah sebelas. Mungkin dia tidak pulang malam ini, aku membatin.

Seperti malam-malam sebelumnya. Ada rasa marah, kecewa, sakit hati, serba salah, dan seabreg perasaan tidak sedap lainnya. Dongkol. Ah masa bodoh. Semakin dipikirkan semakin mendatangkan denyut sakit di kepala.Aku ke kamar mandi. Kubasuh wajahku dengan air wudhu, lalu sholat malam. Seperti biasa, selesai memanjatkan doa, kuraih walkman, teman setiaku setelah Siva tertidur. Alunan instrumen kecapi membuatku terlena, dan terlelap.

Subuh Aku periksa kamar tidur sampai ke ruang tengah, tak kudapati suamiku. Bisikan suara-suara di hati semakin keras: Tuh kan, dia tidak pulang. Pasti lagi sedang . Aku tidak mempedulikan, berlagak bodoh sampai suara-suara itu pergi kehabisan bisikan kata.Barangkali di kantor banyak kerjaan, suara lain muncul tanpa diundang.

Pagi itu seperti biasa penggosimud kembali berkoar-koar. Aku tidak berminat menjadi anggota tetap. Memang mereka dari kalangan berpunya, dandanan dan perhiasan mereka menjadi tandanya. Tapi, perbuatan mereka tidak sama dengan kemilaua perhiasan di tubuh.Hartalah yang membuat mereka di pandang. Aku bukan iri. Mereka ya mereka , aku ya aku.Saat jam istirahat anak-anak berebutan mengambil kotak makanan yang tersusun rapi pada rak makanan.

Kuliat Siva membuka kotaknya dan melambai padaku. Aku menatap putriku dari balik jendela. Siva tumbuh sehat dan lincah. Apa pun akan kulakukan demi jantung hatiku. Ia pasti merindukan papanya. Ma kapan beli crayonnya? Ibu guru bilang, gambar bunga Siva bagus lo ma. Aku tersenyum bangga melihat Siva sangat bersemangat. Nanti sore, kataku sembari mengusap rambutnya. Sarah kamu belum di jemput?, tanyaku pada teman sekelas Siva. Sarah menggelengkan kepala sembari matanya liar mencari ibunya. Tidak biasanya mBak Heni telat menjemput. Sarah tunggu di dalam saja ya.

Nanti juga ibu datang kok, hiburku.
Nggak ah, Sarah mau pulang aja tante
Tapi. Tapi, Sarah tau nggak jalan ke rumah? tanyaku heran.
Tau kok. Rumah Sarah gak jauh, dekat Indomaret.

Aku tidak tega membiarkannya pulang sendiri: Baiklah, tante antar sampai di rumah. Sarah tunjukan jalannya. Setiba di rumah bercat kuning itu, Sarah memanggil-manggil ibunya. Dari dalam terdengar suara mBak Heni: Eh mama Siva, yuk masuk. Di luar panas. Tentu tidak enak menolak. Lagian, kasian Siva kepanasan. Makasih banyak mBak, kataku. Cuaca musim kemarau memang panas.

Sarah dan Siva bermain di ruang tengah. Kami mulai berbincang-bincang. Cepat sekali akrab. Akhirnya sampai pada cerita-cerita Penggosipimud. Wajah mBak Heni berubah. Maaf mBak. Aku tidak bermaksud. Belum selesai kalimatku … : Nggak apa. Mereka menilai dari luar. Hanya aku yang tahu semua ini.

Aku diam saja sampai mBak Heni melanjutkan: Hanya kamu yang mau berteman dengan mBak. Kamu tentu tahu kalau mBak istri kedua? Itulah sebabnya di sekolah dikucilkan. MBak tidak mau ambil pusing. Sedih. Perih. Tapi mBak harus bertahan demi Sarah. Sejak suami pertama meninggal karena tabrakan, ketika Sarah berumur 10 bulan, kami hidup berdua saja. Tidak ada sanak keluarga disini, orangtua pun sudah tiada. Akhirnya, suara mBak Heni terbata-bata dan matanya berkaca-kaca.

Sudahlah mBak. Tidak usah dirisaukan. Semua demi Sarah, aku seolah-olah berkata untuk diriku. Aku tak peduli, mBak Heni paham maksudku atau tidak. Kugenggam tangannya. Dingin. Sedingin batu es. Air matanya berlinang, dan mengalir membasahi pipinya yang putih bersih tanpa polesan bedak. Mba Heni memang cantik, sekalipun usianya sudah 35 tahun.
Tak lama kemudian Siva merengek minta pulang karena mengantuk. Aku baru ingat, sekarang adalah jam tidur siangnya. Sarah sudah tertidur di karpet karena lelah bermain.

Malam ini adalah malam kesekian dimana suamiku tidak pulang. Memang, sudah sering begini. Kenungi nasib yang menimpaku. Sejak kejadian di malam itu terlalu banyak kisah, terlalu banyak tangis, terlalu banyak kepedihan. Kupejamkan mata mencoba menerawang semuanya, namun aku sangat takut untuk kembali pada kejadian dua tahun yg lalu. Ku anggap semua itu hanya mimpi buruk, dan memang merasa sedikit lebih tenang.

Bukan hanya syok, tapi bagaikan disambar petir. Aku tak mampu berdiri. Sekujur tubuh menggigil bergetar mendengar pengakuan suamiku yang memperisteri wanita lain tanpa sepengetahuanku. Bumi yang ku pijak seakan melayang jauh membawaku terbang tanpa arah. Tidak ada satu kalimat pun yang dapat mengungkapkan peristiwa itu, yang ada hanya bahasa makian sampai seluruh isi kebun binatang kutimpakan padanya. Dia hanya diam tertunduk.

Setelah puas dan lelah aku terpaku lemas. Tidak terbayang aku mengalami semuaini. Aku sangat mempercayainya. Namun, kini tidak berarti lagi. Mengapa ia lakukan ini padaku? Untuk apa dia berterus terang sekarang? Sudah terlambat untuk memperbaiki dan memang tidak bisa kumaafkan perbuatannya.

Setelah kejadian malam itu aku menjadi sangat tertekan. Berhari-hari tangis dan airmata adalah teman sejatiku. Aku tidak mau begini, aku tidak boleh begini. Tidak boleh, atinku menjerit melawan segala daya kesengsaraan yangg bersarang di hatiku. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada mukenah dan sejadah yang tersandar di kursi. Sadar hanya Dia yang bisa menolongku. Hanya Dia yang selama 5tahun ini aku percaya.

Setelah mandi dan berwudhu kukumandangkan ayat-ayat yang hanya beberapa yang kuhapal. Aku seorang mualaf. Aku yg memilihNya tanpa paksaan siapa pun dan aku yakin bisa. Jiwaku mulai bersatu dengan kalimat Bismillah. Pelan-pelan aku merasakan hawa kesejukan mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki Aku merasa dipeluk oleh sesuatu yg membuatku damai. Ya Allah kuberserah pada kehendakMu. Berikan kekuatan jiwaku dan tuntunlah aku dalam terangMu.

Aku bersimpuh, dan hanya dengan kalimat itu hatiku merasa tenang. Selama ini tidak pernah sangat berharap pada apa pun. Segala kesulitan mampu kuhadapi. Saat kejadian itu menimpaku, membuatku terguncang sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Alhamdulillah, ketenangan hadir mengingat kebesaran dan kekuasaanNya. Memang aku tidak sekuat yang kukira. Terkadang merasakan sakit, tapi tidak sehisteris dulu.

Tiba-tiba pintu diketuk. Aku tersadar dari lamunan. Bergegas membuka pintu dan di depanku berdiri lunglai suamiku dengan pakaian kusut sekusut raut wajahnya. Dia berjalan gontai tanpa sepatah kata pun … Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, tidak menanyakan, Biarlah dia lepaskan lelahnya. Pa, udah makan? Ia tidak merespon. Sebentar mama siapkan air panas, Aku beranjak mempersiapkan semuanya. Tak lama kemudian dia ke kamar Siva menciumi anak kami yang tertidur pulas. Aku terharu. Ternyata dia masih punya rasa sayang pada putrinya.

Sekarang ia sudah segar, tapi raut wajahnya masih terlihat. Ma, kau baik-baik aja akhir-akhir ini? Siva bagaimana? Sehat-sehat aaja kan?. Aku bingung, dan masih dalam bingung. Ma, maafkan papa. Terlalu menyakitimu. Maaf ya ma …Aku tidak kuat menahan airmata. Kueluk erat-erat. Bagaimanapun dia suamiku, papa dari putriku, dan aku gak menyangkal, hatiku masih menyayanginya. Aku sangat, teramat sangat, mencintainya. Sekalipun ada wanita lain di hatinya, aku tetap mencintainya. Aku tak mampu membencinya. Aku, sekalipun belum kukatakan, sudah merestui hubungan mereka. Aku sudah memaafkannya.

Pa, sudahlah mama sudah gak marah. Biarlah kita jalani semua ini Dia semakin erat merangkulku dalam pelukannya.
Ma, dia salah menilai mama. Dia memaksa papa melepas mama dan Siva. Tapi, papa tidak mampu. Sungguh. Sunguh. Papa tidak bisa. Dia selalu, dan selalu mendesak. Akhirnya papa putuskan meninggalkannya. Maaf ma, papa baru sadar, hanya mama di hati papa. Mama dan Siva tidak pernah lepas dari hati papa.

Aku menatap kedua matanya dalam-dalam dan mencari kebenaran disana. Suamiku balik menatapku dalam dan meyakinkan dengan setengah anggukan dan senyum yang terbingkai di wajahnya. Pa, selama ini mama berusaha memahami apa yang tlah terjadi. Mama gak bisa membenci kalian, walau jujur mama akui, masih belum mampu menahan sakit. Apalagi, melihat Siva yang masih kecil. Hanya kepasrahan yang bisa mama perbuat. Mengapa dia berbuat begitu pa? Dia kan mencintai papa?.

Haru. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Subhanallah Walhamdulillah Ternyata inilah buah dari kesabaran dan bukti, tidak ada yang mustahil bagiNya. Ya Allah Maha Suci Engkau Dalam doaku selama dua tahun bertahan, dibukakan jalan antara dua pilihan, mencintai suamiku dan putriku, namun harus menahan ujianMu, atau melepaskan semua dengan bebas dari derita, tapi tanpa mendapatkan pahala dan nikmat yang saat ini di sini aku rasakan. Sungguh besar KekuasaanMu.

Mama maafkan dia pa. Kalau mama tidak memaafkan, siapalah mama ini. Allah yang maha Besar saja memaafkan umatnya?. Kami saling merangkul dan tak lama tangis Siva membuat kami sadar. Kami menciumi buah hati kami yg menjadi ikatan diantara kami. Papa. Papa sudah pulang? Jangan tinggalkan Siva lagi ya pa . Kami tersenyum: Nggak Siva. Papa tidak akan meninggalklakn Siva lagi Malam Ini adalah malam yang teramat sangat membahagiakan. Akhirnya aku mendapatkan pencerahan dari semua ini.

Pagi yg cerah, secerah hatiku. Setelah sholat subuh bersama aku mempersiapkan sarapan pagi. Tidak lama telepon berdering: Halo mama Siva? Aku mBak Heni. Mulai besok aku dan Sarah tidak ke sekolah lagi, suami mBak mengajak pindah ke Malaysia karena tugas kantornya.

Aku ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.Tapi mBak bukannya … anu … eh itu. Terdengar tawa mBak Heni. Iya memang mBak istri kedua mas Her. Setelah setahun bercerai dengan istri pertamanya yang memilih hidup dengan pria lain, mBak ketemu mas Her tiga bulan lalu, dan kami menikah secara siri karena kami sama-sama belum yakin. Baru kemarin sepakat untuk hidup bersama demi Sarah.

Mas Her sangat menyayangi Sarah seperti anak sendiri. Mas Her tidak dikaruniai anak dari perkawinan pertamanya. MBak sangat bersyukur dia menyayangi Sarah. Hening sesaat. Halo halo mBak. Alhamdulillah mBak memang wanita yang layak mendapatkan itu semua. Selamat ya seharusnya mBak senang. Ngak tahu, bagaiman tu reaksi penggosimud di sekolah. Aku sudah tidak tahan melihat raut wajah mereka … ha ha ha

Tawaku memecah kebisuan.Ah kamu bisa saja. MBak tidak menyalahkan. Nanti datang ya di acara mBak, ajak suami biar saling kenal. Sudah dulu ya, sampai ketemu nanti. Sungguh semua ini adalah jalan yang telah di atur olehNya. Siapa yang tahu rahasiaNya?

Published in: on 17 Juli 2007 at 9:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://fira.wordpress.com/2007/07/17/dibawah-naungan-sejadah/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: