Samar dari kejauhan azan subuh berkumandang. Bilik tua di terangi cahaya rembulan mulai memudar.Mimpi tak lagi memahkotai lelapnya Nisa.
Matanya sayup masih tersisa separuh kantuk disana. Bibir tipis dan merah bak delima itu menguap, sambil ia mengucek-ucek matanya. Dalam hitungan detik Nisa sudah duduk di tepi ranjang sambil menarik otot-otot lengannya menyerupai gerakan senam.
“Hari baru telah tiba,saatnya menyambut dengan gembira.” Dalam hati Nisa bergumam.
Usai melaksanakan sholat subuh seperti biasanya, Nisa menyempatkan membuat sarapan untuk kedua adiknya.Telur ceplok dan nasi goreng adalah santapan pagi mereka sehari-hari. Menjadi anak tertua adalah tanggung jawab Nisa mengurus Nila dan Fajar. Apalagi sejak kedua orang tua mereka berpulang untuk selama-lamanya. Sudah 3tahun Nisa dan kedua adiknya hidup bersama. Tiada sanak saudara tempat untuk berbagi keluh dan kesah mereka. Namun Nisa tetap semangat menjalani hari demi hari. (lagi…)
Sajadah Cinta Annisa
Gerimis Di Boulevard
Bus melaju di tengah derasnya guyuran hujan, petir dan kilat saling bersahutan menambah berat kelopak mata Rina yang tengah duduk berhimpitan di antara para penumpang bus jurusan kota. Bau keringat dan seabreg bau yang lain sudah menjadi langganan hari-harinya,di sisi kanan seorang nenek tengah mengusap balsam pada keningnya. Karena bau balsam yang keras di sertai batuk si nenek terus menerus membuyarkan kantuk Rina. Spontan ia memberikan sebotol kecil aqua yang belum sempat diminum pada nenek tersebut. Si nenek mengucapkan terimakasih sambil memegang tangan Rina. (lagi…)
Hongkong Bara Asmaraku
Malam semakin garang dalam balutan pekatnya menemaniku dalam kesendirian. Kilau cahaya lampu di luar jendela kamar menerangi hati yang sepi, sentakan halilintar serta hujan yang semakin lama semakin deras menambah kengerian dan kesepianku. Aku tetap tak bergeming atau beranjak dari kasur empukku, pikiranku mengelana mencari-cari dan menghibur rasa sepi ini. Tak jua ku temukan ketenangan hingga tanpa sadar tangan ini memencet tombol TV dan salah satu stasiun swasta Metro TV menayangkan berita tentang kemeriahan Hongkong saat perayaan Imlek di negara tersebut. Aku terkesima sesaat melihat wajah Hongkong dalam layar TV. Kontan saja aku mengingat beberapa tahun silam pernah merasakan sesuatu yang teramat sangat mendalam di hatiku. Sesuatu yang sangat berharga sepanjang hidupku bersama seorang pria yang berarti hingga sekarang. (lagi…)
MENGAPA
MENGAPA?
Mengapa kau lakukan
Mengapa kau kecewakan
Mengapa kau hancurkan
Mengapa???
Mengapa kau sakiti
Mengapa kau lukai
Mengapa kau hianati
Mengapa???
Aku tak ingin begini
Aku tak mau terjadi
Aku benci diri ini ,benci
Mengapa???
Yah,sejuta tanya menari-nari
Sederas hujan air mata ini
Sebeku es asa di hati
Mengapa harus aku???
Aku tanya skali lagi
Mengapa???
Entah sudah yang ke berapa kali Nena memainkan penanya diatas kertas,ia tetap tak menemukan kepuasan disana. Tumpukan kertas di sana sini berserakan di ubin lantai kamar tidurnya. Ia berusaha untuk melepaskan apa yang mengganjal di dalam hatinya. “Ah, aku tak boleh begini terus tapi harus bagaimana Tuhan?” Nena meremas jemari tangannya ia seperti kehilangan arah dan memang tampaknya seperti itu, harus bagaimana dan hanya satu jawaban yang ia inginkan terlepas dari masalah brengsek ini. “Romi bukanlah pria satu-satunya di dunia ini dan fatalnya mengapa baru sekarang aku mengetahui siapa sesungguhnya dia.”Batin Nena. (lagi…)
Suara Hatiku, Benarkah ?
Di tengah keramaian suasana malam itu aku sama sekali tak menikmatinya, yang ku inginkan pergi menjauh dari tempat tersebut. Canda tawa sanak keluarga,kerabat dan teman bagai suara-suara yang tak jelas. Mereka berkumpul dalam acara keluarga membahas semua tentang arisan sampai ke hal yang menyangkut diriku atau siapa saja yang dalam lingkungan keluarga. Aku terpaku diam tak mampu menggerakkan tubuhku. Tenggorokan seakan tercekik seluruh sendi lunglai tak berdaya ingin berteriak sekuat-kuatnya menghentikan keributan suara mereka. Tetap saja aku tak mampu mengatasinya. Aku bukan obyek tawa aku bukan insan tak bernyawa dan bukan kehendakku ini terjadi. Aku tak mau belas kasihan tapi mencibirku aku juga tak butuh pujian karena tak berdaya sungguh melelahkan.
Mata ini tertuju pada jendela di ruang keluarga yang cukup besar milik kakakku. Di luar sana lampu taman remang menghiasi gelap malam yang pekat tampak embun sejuk menari-nari seakan memanggilku di temani kunang-kunan lincah kesana kemari mengibaskan pancaran cahayanya. Entah dari mana datangnya kekuatan yang tiba-tiba merayap dari ujung kaki, perlahan tapi pasti aku membalikkan tubuh dan berjalan keluar ruangan yang berisik tersebut. (lagi…)
Pawaka Di Hatiku
Sepanjang jalan tampak buram dalam pandanganku,peluh membasahi sekujur tubuh.Aku berjalan tanpa lelah dan tak perduli pada apapun dan siapapun disekitarku saat ini. langit senja berwarna merah menerawang bumi yang kupijak ia seakan enggan meninggalkan diriku yang tertatih-tatih dalam langkah dan pikiran yang entah melayang kemana arahnya.Kalut, sungguh kekalutan yang tak dapat aku lihat ujungnya apalagi untuk mempersatukan kedua ujung yang kusut itu.
Hatiku memberonta jiwaku tak terkendali. Bau asap kendaraan dan deruan berisiknya tak membuatku bergeming. Aku hanya ingin menjauh, pergi sejauh-jauhnya kemana kaki ini melangkahkan. Dalam hatiku berbisik “kemanakah akhirnya perjalanan ini? kemanakah perginya keadilan itu?” Suara bisikan itu terus bergema tak berhenti ia semakin membuatku terus mencarinya. (lagi…)
