Serpihan Hati Sang Muallaf Bag II

  mantap-sayang.jpgBy : Fira Rachmat

Rafid bingung di tatapnya wajah istrinya mencari-cari apakah ia tidak salah dengar. Shafwah hanya tersenyum sambil terus bergelayut di lengan suaminya. Senyumnya tulus pada Rafid dan Rafid semakin tak menentu. Dengan balas tersenyum Rafid mencubit mesra pipi Shafwah. Hayo sayang kamu kok malam ini sangat berbeda. Dan…Rafid mendekatkan hidungnya pada tubuh Shafwah, hari ini kamu harum sekali apa baru beli parfum ya. Tebak Rafid dan memeluk tubuh Shafwah mesra. Ah masak iya saya harum padahal hanya pakai deodorant spray yang sehari-harinya saya pakai kok sayang. Jelas Shafwah memijit pundak Rafid. Kamu pasti lelah sini saya pijit biar tidak lelah lagi ya. Shafwah berguman dalam hatinya awal yang baik. 5menit Rafid menikmati pijitan itu. (lagi…)

Diterbitkan di: on 4 September 2007 at 2:19 pm Komentar (5)

Serpihan Hati Sang Muallaf Bag I

mantap-sayang.jpgBy : Fira R

Pesawat Merpati tujuan Jakarta lima belas menit lagi akan berangkat,seluruh awak penumpang satu persatu mulai menyilangkan sit belt ke pinggang masing-masing. Shafwah dan kedua anaknya berada pada kursi terakhir di baris paling belakang. Sejenak ia merasa asing berada dalam pesawat maklum baru pertama kalinya ia naik pesawat. Selama hidupnya ia tak pernah meninggalkan kampung halamannya.Shafwah tak ingin meninggalkan semua kenangan yg indah di kampung halamannya meninggalkan keluarga orangtua dan sanak saudaranya.Tapi apa boleh buat ia harus berada di sisi suaminya. (lagi…)

Diterbitkan di: on 25 Agustus 2007 at 6:09 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Kidung Cinta Akifah

mantap-sayang.jpg  By : Fira Rachmat

Hujan lebat mengguyur desa sukatani tanpa ampun. Petir bergemuruh membelah malam kelam dan pekat. Di sebuah gubuk yg di terangi cahaya lampu teplok seorang wanita muda tengah berjuang melawan sakit hendak melahirkan anaknya. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Wajah pucat pasi suara erangan dan rintihan wanita itu menyayat sembilu.”Tot..tol..long selamat..kan anak sa..ya” suaranya terbata-bata.
Mak Piyem dukun beranak mengelus elus perutnya. Jari tangannya dengan lincah memutar menjepit mendorong perut wanita muda itu. Keringat mengucur deras sederas hujan di malam itu. Ibu wanita muda bulak balik mengeringkan darah yg mengecer deras di balai-balai tua. Dari bibirnya yg bergetar mengeluarkan doa-doa agar anaknya selamat. Setelah berjuang selama satu jam wanita muda itu menghembuskan nafas terakhir. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 5:35 pm Komentar (3)